Sabtu, 27 Februari 2010

antara mbah kyai sholeh darat dan mbah kyai ahmad muhammad alim basaiban bulus

Antara Mbah Kyai Muhammad ( Ahmad ) Alim Basaiban Bulus, Mbah Muhammad Alim Basaiban Loano, Mbah Zain al Alim ( Muhammad Zein ) Basaiban Solotiyang dan Mbah Kyai Sholeh Darat

Dikutip oleh Ravie Ananda dari catatan Sarmidi Husna ( 18 Desember 2007 )
Kebumen Jumat Kliwon 26 Februari 2010

Muhammad Shalih bin Umar (1820 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat, adalah seorang ulama besar pada zamannya. Ketinggian ilmunya tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar di Jawa, tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia bermukim di sana. Ia dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut.
Selain itu, ia adalah seorang ulama yang sangat memperhatikan orang-orang Islam awam dalam bidang agama. Ia menulis ilmu fiqih, aqidah, tasawuf dan akhak dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, yakni dengan bahasa Jawa.

Kelahirannya
Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umara al-Shamarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shalih Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Mutadha Semarang. Kiai Shaih Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M.

Ia disebut Kiai Shaih Darat, karena ia tinggal di kawasan yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang, tempat mendarat orang-orang dari luar Jawa. Kini daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Adanya penambahan Darat sudah menjadi kebiasaan atau ciri dari oang-orang yang terkenal di masyarakat.

Kiai-Kiai Seperjuangan
Sebagai seorang putra Kiai yang dekat dengan Pangeran Diponegoro, Kiai Shalih Darat mendapat banyak kesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman orang tuanya, yang juga merupakan kiai terpandang. Inilah kesempatan utama Kiai Shalih Darat di dalam membuat jaringan dengan ulama senior di masanya, sehingga ketokohannya diakui banyak orang. Di antara kiai senior yang memiliki hubungan dekat dengan Kiai Shalih Darat adalah:

1. Kiai Hasan Bashari ( putra Kyai Nur Iman Mlangi dari garwa Gegulu ;tambahan oleh ravie ananda ), ajudan Pangeran Diponegoro. Salah seorang cucunya ( nya yang dimaksud adalah Kiai Hasan Bashari )KH. M. Moenawir, pendiri pesanten Krapyak Yogyakarta, adalah salah seorang murid Kiai Shalih Darat.

2. Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua orang prajurit Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro tertawan, Kiai Darda’ yang beasal dari Kudus, kemudian menetap di Mangkang Wetan, Semarang bagian barat, dan memnbuka pesantren di sana. Kepadanya, Kiai Shalih Darat pernah menuntut ilmu. Kiai Bulkin, putera Kiai Syada’, dikawinkan dengan Natijah, puteri Kiai Darda’, dan memperoleh anak yang bernama Kiai Tahir. Kyai Tahir ini, cucu kiai Darda’ adalah murid Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.

3. Kiai Murtadha, teman seperjuangan Kiai Umar ketika melawan Belanda. Shafiyyah, puteri Kiai Muartadha, dijodohkan dengan Kiai Shalih Darat setelah pulang dari Makkah.

4. Kiai Jamasari, prajurit Pangeran Diponegoro di daerah Solo dan pendiri Pondok pesantren Jamsaren, Surakarta. Ketika kiai Jamsari ditangkap Belanda, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, lalu ditutup. Pesanten tersebut dihidupkan kembali oleh Kiai Idris, salah seorang santri senior Kiai Shalih Darat. Dialah yang menggantikan Kiai Shalih Darat selama ia sakit hingga wafatnya.

Menikah
Selama hayatnya, Kiai Shalih Darat pernah menikah tiga kali. Perkawinannya yang pertama adalah ketika ia masih berada di Makkah. Tidak jelas siapa nama istrinya. Dari perkawinanya pertama ini, ia dikarunia seorang anak yang diberi nama Ibrahim. Tatkala Kiai Shalih Darat pulang ke Jawa, istrinya telah meninggal dunia dan Ibrahim tidak ikut serta ke Jawa. Ibrahim ini tidak mempunyai keturunan. Untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang pertama ini, Kiai Shalih Darat menggunakan nama Abu Ibrahim dalam halaman sampul kitab tafsirnya, Faidh al-Rahman.
Perkawinannya yang kedua dengan Sofiyah, puteri Kiai Murtadha teman karib bapaknya, Kiai Umar, setelah ia kembali di Semarang. Dari pekawinan ini, mereka dikarunia dua orang putera, Yahya dan Khalil. Dari kedua putranya ini, telah melahirkan beberapa anak dan keturunan yang bisa dijumpai hingga kini. Sedangkan perkawinannya yang ketiga dengan Aminah, puteri Bupati Bulus, Purworejo, keturunan Arab. Dari perkawinannya ini, mereka dikaruniai anak. Salah satu keturunannya adalah Siti Zahrah. Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Dahlan santri Kiai Shalih Darat dari Tremas, Pacitan. Dari perkawinan ini melahirkan dua orang anak, masing masing Rahmad dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah, kemudian Siti Zahrah dijodohkan dengan Kiai Amir, juga santri sendiri asal Pekalongan. Perkawinan kedua Siti Zahrah tidak melahirkan keturunan.

Kiai-kiainya di Tanah Jawa
Sebagaimana anak seorang Kiai, masa kecil dan remaja Kiai Shalih Darat dilewatinya dengan belajar al-Qur’an dan ilmu agama. Sebelum meninggalkan tanah airnya, ada beberapa kiai yang dikunjunginya guna menimba ilmu agama. Mereka adalah:

1. KH. M. Syahid.
Untuk pertama kalinya Kiai Shalih Darat menuntut ilmu dari Kiai M. Syahid, seorang ulama yang memiliki pesantren Waturoyo, Margoyoso Kajen, Pati. Pesantren tersebut hingga kini masih berdiri. Kiai M. Syahid adalah cucu Kiai Mutamakkin yang hidup semasa Paku Buwono II (1727-1749M). kepada Kiai M. Syahid ini, Kiai Shaleh Darat belajar beberapa kitab fiqih. Di antaranya adalah kiab Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Minhaj al-Qawwim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahab dan lain-lain.

2. Kiai Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi, Kudus.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Jalalain karya Imam Suyuti.

3. Kiai Ishak Damaran, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Nahwu dan Sharaf.
4. Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, seorang Mufti di Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat ilmu falak.

5. Kiai Ahmad Bafaqih Ba’alawi, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Jauhar al-Tauhid karya Syekh Ibrahim al-Laqqani dan Minhaj al-Abidin karya imam Ghazali.

6. Syekh Abdul Ghani Bima, Semarang.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar kitab Masail al-Sittin karya Abu Abbas Ahmad al-Mishri. Yaitu sebuah kiab yang beisi ajaran-ajaran dasar Islam yang sangat populer di Jawa pada abad ke-19 M.

7. Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Basayban, Bulus Gebang Purworejo
Kepadanya Kiai Shaleh Darat mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir al-Qur’an. Oleh Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim ini, Kiai Shaleh Darat diperbantukan kepada Zain al-Alim, untuk mengasuh sebuah pesantren di Dukuh Salatiyang, Desa Maron, Kecamatan Loana, Purworejo.

Melihat keragaman kitab-kitab yang diperoleh oleh Kiai Shaleh Darat dari beberapa gurunya, menunjukkan betapa kemampuan dan keahlian Kiai Shaleh Darat di bidang ilmu agama.

Pergi ke Makkah
Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, Kiai Shaleh Darat bersama ayahnya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ayahnya wafat di Makkah, kemudian Kiai Shaleh Darat menetap di Makkah beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama. Pada waktu itu, abad ke-19, banyak santri Indonesia yang berdatangan ke Makkah guna menuntut ilmu agama di sana. Termasuk Kiai Shaleh Darat. Ia pergi ke Makkah dan bermukim di sana guna menuntut ilmu agama dalam waktu yang cukup lama. Sayangnya, tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia pergi ke Makkah dan kapan ia kembali ke tanah air.

Kiai-Kiainya di Makkah
Yang jelas, selama di Makkah, Kiai Shaleh Darat telah berguru kepada tidak kurang dari sembilan ulama setempat. Mereka adalah:

1. Syekh Muhammad al-Maqri a-Mishri al-Makki.
Kepadanya ia belajar ilmu-ilmu aqidah, khusunya kitab Ummul Barahin karya Imam Sanusi (al-Sanusi).

2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah.
Ia adalah pengajar di Masjid al-Haram dan al-Nabawi. Kepadanya, Kiai Shaleh Darat belajar fiqih dengan menggunakan kitab Fath al-Wahhab dan Syarh al-Khatib , serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik. Sebagaimana tradisi belajar tempo dulu, setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut, Kiai Shaleh Darat juga memperoleh “Ijazah”. Adanya istilah ijazah dikarenakan penerimaan ilmu tersebut memiliki sanad. Dalam hal ini, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ilmu dari Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang memperoleh ilmu tersebut dari gurunya, Syekh Abdul Hamid a-Daghastani, dan al-Dagastani mendapatkan dari Ibrahim Bajuri yang mendapatkan ilmunya dari al-Syarqawi, pengarang kitab Syarh al-Hikam.

3. Al-‘Allamah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti madzab Syafi’iyah di Makkah.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar Ihya’ Ulum al-Diin. Dari sini ia juga mendapatkan ijazah.

4. Al-‘Allamah Ahmad An-Nahawi al-Mishri al-Makki.
Kepadanya Kiai Shaleh Darat belajar al-Hikam karya Ibnu Atha’illah.

5. Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, salah seorang guru di Masjid Nabawi.
Darinya, Kiai Shaleh Darat belajar kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 1 dan 2.

6. Kiai Zahid.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.

7. Syekh Umar a-Syami.
Darinya Kiai Shaleh Darat juga belajar kitab Fath al-Wahhab.

8. Syekh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Syarh al-Tahrir karya Zakaria al-Anshari.

9. Syekh Jamal, seoang Muftti Madzab Hanafiyyah di Makkah.
Darinya Kiai Shaleh Darat belajar Tafsir al-Qur’an.

Dari sinilah, Kiai Shaleh Darat mendapatkan ijazah ketika selesai mempelajari kitab-kitab tertentu, semisal Fath al-Wahhab, Syarh al-Khatib dan Ihya’ Ulum a-Din. Dari sini pulalah apa yang dipelajari Kiai Shaleh Darat dari kitab-kitab tersebut, berpengaruh besar terhadap isi kitab yang dikarangnya, yaitu Majmu’ al-Syariat al-Kafiyah li al-awwam.

Jaringan Keulamaan Kiai Shaleh Darat
Semasa belajar di Makkah, Kiai Shaleh Darat banyak bersentuhan dengan ulama-ulama Indonesia yang belajar di sana. Di antara para ulama yang sezaman dengannya adalah:

1. Kiai Nawawi Banten, disebut juga Syekh Nawawi al-Bantani.

2. Syekh Ahmad Khatib.
Ia seorang ulama asal Minangkabau. Lahir pada 6 Dzulhijjah 1276 (26 Mei 1860 M) dan wafat di Makkah pada 9 Jumadil Awwal (1916 M). Dalam sejarahnya, dua tokoh pendiri NU dan Muhamadiyyah KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi murid Ahmad Khatib. Tercatat ada sekitar 49 karya yang pernah ditulisnya. Di antaranya kiitab Al-Nafahat dan Al-Jawahir fi A’mal a-Jaibiyyat.

3. Kiai Mahfuzh a-Tirmasi.
Ia adalah kakak dari Kiai Dimyati. Selama di Mekkah, ia juga berguru kepada Ahmad Zaini Dahlan. Ia wafat tahun 1338 H (1918 M).

4. Kiai Khalil Bangkalan, Madura.
Ia adalah salah seorang teman dekat Kiai Shaleh Darat. Namanya cukup terkenal di kalangan para Kiai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. ia belajar di Mekkah sekitar pada tahun 1860 dan wafat pada tahun 1923.

Diajak pulang oleh Kiai Hadi Girikusumo
Ketinggian ilmu Kiai Shaleh Darat tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan para santrinya menjadi para kiai besar tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat Kiai Shaleh Darat bermukim di Mekkah. Ia dipilih menjadi salah seorang pengajar di Mekkah. Di sinilah Kiai Shaleh Darat bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo pendiri pondok pesantren Ki Ageng Girikusumo, Mranggen, Demak, Jawa Tengah.
Ia merupakan figur yang sangat berperan dalam menghadirkan Kiai Shaleh Darat ke bumi Semarang.
Melihat kehebatan Kiai Shaleh Darat Mbah Hadi Girikusumo merasa terpanggil untuk mengajaknya pulang bersama-sama ke tanah air untuk mengembangkan islam dan mengajar umat islam di Jawa yang masih awam. Namun karena Kiai Shaleh Darat sudah diikat oleh penguasa Mekkah untuk menjadi pengajar di Mekkah, sehingga ajakan pulang itu ditolak.
Namun Mbah Hadi nekat, Kiai Shaleh Darat diculik, di ajak pulang. Agar tidak ketahuaan, saat mau naik kapal untuk pulang ke Jawa, Kiai Shaleh Darat dimasukkan ke dalam peti bersama barang bawaannya. Namun di tengah jalan ketahuan, jika Mbah Hadi menculik salah seorang ulama di Masjid Mekkah. Akhirnya pada saat kapal merapat di pelabuhan Singapura, Mbah Hadi ditangkap. Jika ingin bebas maka harus mengganti dengan sejumlah uang sebagai denda.
Para murid Mbah Hadi yang berada di Singapura mengetahui bila gurunya sedang menghadapi masalah besar, akhirnya membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan mengumpulkan dana iuran untuk menebus kesalahan mbah Hadi dan menebus uang ganti kepada penguasa Mekkah atas kepergian Kiai Shaleh Darat. Akhirnya, mbah Hadi dan Kiai Shaleh Darat berhasil melanjutkan perjalanan dan berhasil mendarat ke Jawa.
Mbah Hadi langsung kembali ke Girikusumo, sedangkan Kiai Shaleh Darat menetap di Semarang, mendirikan pesantren dan mencetak kader-kader pelanjut perjuangan Islam. Sayang sekali, sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pesantrennya tidak ada yang melanjutkan, kini di bekas pesantren yang dulu digunakan oleh Kiai Shaleh Darat untuk mengajar mengaji hanya berdiri sebuah masjid yang masih digunakan untuk menjalankan ibadah umat islam di kampung Darat Semarang.

Tentang Teori Kebebasan Manusia
Ia juga terkenal sebagai pemikir dalam bidang ilmu kalam. Menurut Nur Kholis Majid, seorang cendikiawan muslim Indonesia, Kiai Shaleh Darat sangat kuat mendukung paham teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyah. Pembelaannya pada paham ini jelas kelihatan dalam bukunya Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘ala Jauhar al-Tauhid. Di sini ia mengemukakan penafsirannya tentang sabda Nabi SAW bahwa akan terjadi perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat, yaitu mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, yakni melaksanakan akaid, pokok-pokok kepercayaan ahlus sunnah wajama’ah, Asy’aiyah dan Maturidiyah.
Selanjutnya dalam teori ilmu kalam yang berkaitan dengan perbuatan manusia, ia menjelaskan bahwa paham Jabariyah dan Qadariyah tentang perbuatan manusia adalah sesat. Yang benar adalah paham Ahlus Sunnah yang berada di tengah antara Jabariyah dan Qodariyah. Sebagai ulama yang berfikir maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru menyerahkan diri secara pasrah kepada Yang Maha Esa. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditaqdirkan Allah SWT. sebaliknya, ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatannya.

Sang Delegator Pesantren
Dalam sejarah pesantren, Kiai Shaleh Darat layak disebut sebagai “ elegator Pesantren”. Karena ia tidak pernah ikut membesarkan pesantren orang tuanya, sebagaimana mafhumnya anak-anak kiai. Ia justru lebih memilih membantu memajukan pesantren orang lain dan membuat pesantren sendiri, dengan tanpa maksud menobatkan dirinya sebagai pengasuh pesantren.

Karir kekiaian Kiai Shaleh Darat diawali sebagai guru yang diperbantukan di pesantren Salatiyang yang terletak di Desa Maron, Kecamatan Loano, Purworejo. Pesantren ini didirikan sekitar abad 18 oleh tiga orang sufi, masing-masing Kiai Ahmad ( Muhammad ) Alim, Kiai Muhammad Alim, dan Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ). Dalam perkembangan selanjutnya pesanten ini dipercayakan kepada Kiai Zain al Alim. Sementara kiai Ahmad ( Muhammad )Alim mengasuh sebuah pesantren, belakangan bernama al-Iman, di desa Bulus, Kecamatan Gebang. Adapun Kiai Muhamad Alim mengembangkan pesantrennya juga di Desa Maron, yang kini dikenal dengan pesantren al-Anwar. Jadi kedudukan Kiai Shaleh Darat adalah sebagai pengajar yang membantu Kiai Zain al Alim ( Muhammad Zein ).

Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an.

Di antara santri jebolan Salatiyang adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin, Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu), dan lain sebagainya.

Tidak jelas, berapa lama Kiai Shaleh Darat mengajar di pesantren Salatiyang. Sejarah hanya mencatat, bahwa pada sekitar 1870-an Kiai Shaleh Darat mendirikan sebuah pesantren baru di Darat, Semarang. Hitungan angka ini didasarkan pada kitabnya , alHikam, Yang ditulis rampung dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon pada tahun 1289 H/1871 M. pesantren Darat merupakan pesanten tertua kedua di Semarang setelah pesantren Dondong, Mangkang Wetan, Semarang yang didirikan oleh Kiai Syada’ dan Kiai Darda’, dua mantan prajurit Diponegoro. Di pesantren ini pula Kiai Shaleh Darat pernah menimba ilmu sebelum pergi ke Mekkah.
Selama mengasuh pesanten, Kiai Shaleh Darat dikenal kurang begitu memperhatikan kelembagaan pesantren. Karena factor inilah, pesantren Darat hilang tanpa bekas sepeninggalan Kiai Shaleh Darat, pada 1903 M. konon bersamaan meninggalnya Kiai Shaleh Darat, salah seorang santri seniornya, Kiai Idris dari Solo, telah memboyong sejumlah santri dari Pesantren Darat ini ke Solo. Kiai Idris inilah yang kemudian menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, yang pernah didirikan oleh Kiai Jamsari.

Ada versi lain yang menyebutkan bahwa pesantren yang didirikan oleh Kiai Shaleh Darat bukanlah pesantren dalam arti sebenarnya, di mana ada bangunan fisik yang mendukung. Pesantren Darat hanyalah majelis pengajian dengan kajian bermutu yang diikuti oleh parasantri kalong. Ini mungkin terjadi, mengingat kedekatan pesantren Darat dengan pesantren Mangkang, dimana Kiai Shaleh Darat pernah belajar di sana, bisa mempengaruhi tingkat ketawadlu’an kiai senior.

Santri-santrinya
Di antara tokoh yang pernah belajar kepada Kiai Shaleh Darat adalah: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah), Kiai R. Dahlan Tremas, seorang Ahli Falak (w. 1329 H), Kiai Amir Pekalongan (w. 1357 H) yang juga menantu Kiai Shaleh Darat, Kiai Idris (nama aslinya Slamet) Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, yang menulis artikel “Qabul al-‘Ataya ‘an Jawabi ma Shadara li Syaikh Abi Yahya, untuk mengoreksi salah satu dari salah satu bagian dari kitab Majmu’at al-Syari’ah karya Kiai Shaleh Darat; Kiai Abdul Hamid Kendal; Kiai tahir, penerus pondok pesantren Mangkang Wetan, Semarang; Kiai Sahli kauman Semarang; Kiai Dimyati Tremas; Kiai Khalil Rembang; Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta; KH. Dahlan Watucongol Muntilan Magelang, Kiai Yasin Rembang; Kiai Ridwan Ibnu Mujahid Semarang; Kiai Abdus Shamad Surakarta; Kiai Yasir Areng Rembang, serta RA Kartini Jepara.

Persinggungannya dengan A Kartini
Adalah sosok yang tidak terikat dengan alian-aliran dalam Islam. Ia justru sangat menghargai aliran yang berkembang saat itu. Ia lebih menekankan pada nilai-nilai pokok (dasar) Islam, dan bukan furu’iyyah (cabang). Lebih dari itu, Kiai Shaleh Darat dikenal sebagai sosok penulis tafsir al-Quran dengan menggunakan bahasa Jawa. Ia sering memberikan pengajian, khusunya tafsir al-Quran di beberapa pendopo Kabupaten di sepanjang pesisir Jawa. Sampai suatu ketika RA Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan, khususnya untuk anggota keluarga. RA Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu yang lain di balik hijab (tabir/tirai). RA Kartini merasa tertarik tentang materi yang disampaikan pada saat itu, tafsir al-Fatihah, oleh Kiai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, RA. Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kiai Shaleh Darat. Ia mengemukakan: “saya merasa perlu menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada rormo kiai dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas keberanian romo kiai menerjemahkan surah al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah difahami dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka al-Quran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.” Lebih lanjut Kartini menjelaskan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini menjadi terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena romo kiai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya fahami.”

Kiai Shaleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menimba ilmu. Karena intisari ajaran al-Quran, menurutnya,, adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan di akhirat nanti.
Karya Tulisnya
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, banyak ulama Indonesia yang menghasilkan karya tulis besar. Tidak sedikt dari karya-karya mereka yang ditulis dengan bahasa Arab. Setelah Kiai Ahmad Rifa’I dari Kalisalak (1786-1875 M) yang banyak menulis kitab yang berbahasa Jawa, tampaknya Kiai Shaleh Darat adalah satu-satunya kiai akhir abad ke-19 yang karya tulis keagamaanya berbahasa Jawa.
Adapun karya-karya Kiai Shaleh Darat yang sebagiannya merupakan terjemahan, berjumlah tidak kuang dari 12 buah, yaitu:

1. Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam.
Kitab ini khusus membahas persoalan fiqih yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon.

2. Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali.
Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 3 dan 4.

3. al-Hikam karya Ahmad bin Athailah.
Merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa.

4. Lathaif al-Thaharah.
Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa.

5. Manasik al-Haj.
Berisi tuntunan atau tatacara ibadah haji.

6. Pasolatan.
Berisi hal-hal yang berhubungan dengan shalat (tuntunan shalat) ima waktu, kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan Huruf Arab pegon.

7. Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani.
Merupakan terjemahan berbahasa Jawa.

8. Minhaj al-Atkiya’.
Berisi tuntunan bagi orang orang yang bertaqwa atau cara-cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

9. Al-Mursyid al-Wajiz.
Berisi tentang ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu Tajwid.

10. Hadits al-Mi’raj

11. Syarh Maulid al-Burdah

12. Faidh al-Rahman.
ditulis pada 5 Rajab 1309 H/1891M. kitab ini diterbitkan di Singapura.
13. Asnar al-Shalah

Kini, Kiai Shaleh Darat memiliki sekitar 70 trah (keturunan) yang tersebar di berbagai daerah. Biasanya, dalam waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan bersilaturahmi di Masjid Kiai Shaleh Darat di Jln. Kakap/Darat Tirto, Kelurahan Dadapsari yang terletak di Semarang Utara.
Dari pertemuan silaturahmi ini, telah 13 kitab karya Kiai Shaleh Darat berhasil dikumpulkan. Sebagian kitab tersebut dicetak di Bombay (India) dan Singapura. Hingga kini, keturunan Kiai Shaleh Darat terus melakukan pencarian dan penelusuran kitab-kitab tersebut ke masing-masing keluarga keturunan Kiai Shaleh Darat di Jepara, Kendal, bahkan sampai ke negara-negara Timur Tengah.
Diposkan oleh Sarmidi Husna di Selasa, Desember 18, 2007


Keterangan tambahan mengenai Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Basaiban Bulus, Mbah Muhammad Alim dan Mbah Zain al Alim ( Muhammad Zein ) : oleh Ravie Ananda

Mbah Ahmad Alim
Mbah Ahmad Alim yang disebut dalam artikel di atas terkenal juga dengan sebutan mbah Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo. Beliau sebagai Pendiri Desa Bulus. Untuk riwayat lebih lengkapnya silahkan membaca “ Sejarah Desa Bulus kecamatan Gebang Purworejo “ Atau “ Pustaka Bangun “ dalam blogger saya.

Mbah Muhammad Alim
Mbah Muhammad Alim yang disebutkan dalam artikel diatas adalah putra dari Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim Basaiban Bulus Purworejo, hasil pernikahan dengan Istri yang berasal dari Kedung Dowo. Mbah Muhammad Alim putra Mbah Ahmad Alim tersebut kemudian bersama – sama dengan ayahnya mengembangkan syiar islam di Purworejo. Mbah Muhammad Alim mendirikan pondok di Loano purworejo.

Mbah Zain al Alim
Mbah Zain Al Alim lebih dikenal dengan sebutan mbah Muhammad Zein Solotiyang Purworejo. Beliau juga putra dari Mbah Ahmad Alim Basaiban dari Istri yang sama. Mbah Zain Al Alim adalah adik dari Mbah muhammad Alim. Mereka berdua adalah saudara kandung seayah dan seibu.

Untuk mengetahui lebih lengkap sejarah Mbah Alim Basaiban / Mbah Ahmad Alim Bulus dan para putra wayahnya, silahkan membaca srtikel dalam blogger saya yang berjudul “ Sejarah Desa Bulus kecamatan Gebang kabupaten Purworejo “atau “Pustaka Bangun “atau “Mbah Ahmad ( Muhammad ) Alim basaiban Bulus Pahlawan Tanpa Tanda jasa yang nyaris terlupakan”.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan tentang para tokoh pendahulu bangsa dan agama di tanah ini yang sudah seharusnya kita hormati dan hargai paling tidak dengan mengenangnya , bukan malah melupakan sejarahnya. Maalamyasykurinnas..lamyasykurillah.

Mari kita teladani mereka yang dengan gigihnya berjuang demi Tauhid dan juga rasa nasionalisme mereka yang sangat tinggi dalam mempertahankan Tanah Air nya dari para penjajah.

Semoga Allah Al Wahid Al Ahad, selalu merahmati kita semua fil jasad, wal Batin, ngindal Ruh..amin.
Wassalam
Ravie Ananda

Kamis, 25 Februari 2010

riwayat mbah muhammad alim basaiban bulus purworejo

sejarah desa bulus kecamatan gebang kabupaten purworejo / Sejarah dan silsilah Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo Pustaka Bangun

Jumat, 28 Maret 2008

Sejarah dan Silsilah Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo


oleh : Ravie Ananda

Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo dilahirkan di Afdeling Ledok (Wonosobo) pada tahun 1562 M. Menurut riwayat, beliau adalah keturunan ke 32 dari Baginda Rosulullah Muhammad saw.

Silsilah selengkapnya adalah sebagai berikut.

1.

Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban, ibni
2.

R. Singosuto, Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
3.

R. Alim Marsitojoyo, ibni
4.

R. Martogati, Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
5.

R. Dalem Agung / RA. Nyai Dalem Agung , Mojotengah Garung Wonosobo, ibni
6.

R.A Nyai / R. Kyai Dilem Bandok Wonokromo Garung Wonosobo, ibni
7.

R.A Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara, ibni
8.

R.A Nyai Segati / Pangeran Bayat, Tegalsari Garung Wonosobo, ibni
9.

Sunan Kudus, ibni
10.

Syarifah ( istri Sunan Ngudung ), ibni
11.

Sunan Ampel, ibni
12.

Maulana Malik Ibrahim, ibni
13.

Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang, ibni
14. Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan ), ibni
15. Abdullah ( al - Azhamat ) Khan, ibni
16. Abdul Malik ( Ahmad Khan ), ibni
17. Alwi Ammi al - Faqih , ibni
18. Muhammad Shahib Mirbath, ibni
19. Ali Khali' Qasam, ibni
20. Alwi ats - Tsani, ibni
21. Muhammad Sahibus Saumiah, ibni
22. Alwi Awwal, ibni
23. Ubaidullah, ibni
24. Ahmad al - Muhajir, ibni
25. Isa ar - Rummi, ibni
26. Muhammad al - Naqib, ibni
27. Ali al - Uraidhi, ibni
28. Ja'far ash - Shadiq, ibni
29. Muhammad al - Baqir, ibni
30. Ali Zainal Abidin, ibni
31. Husein, ibni
32. Sayyidatina Fatimah, Ra, ibni
33. Rosulullah Muhammad S. A. W

Kisah Masa Muda Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban, Bulus Purworejo

Saat muda, Beliau pergi menuntut ilmu ke Pekalongan. Beliau mengaji pada ulama besar di sana sampai beberapa lama, kemudian meneruskan menuntut ilmu di Mekah dalam waktu yang cukup lama pula hingga Beliau menjadi seorang ulama besar. Di Mekah Sayyid Ahmad Muhammad Alim mempelajari Tarekat Satariyah. Sepulang dari Mekah, Beliau kemudian menetap di kampung Krapyak, kota Pekalongan bagian utara, menggantikan gurunya sampai beliau menikah dan mempunyai keturunan di sana.

Keturunannya hingga sekarang banyak yang disebut Basaiban seperti : Sayyid / Habib Abu Tholib, Sayyid / Habib Toha dan lain – lain. Ada juga keturunan Beliau yang menjadi Bupati Magelang yakni R. Tumenggung Danu Sugondo, dimana adiknya juga menjadi bupati Purworejo yakni R. Tumenggung Chasan Danuningrat.

Atas permintaan para murid yang berasal dari Wonosobo, Beliau kemudian pindah ke Wonosobo. Pertama kali bermukim adalah di desa Cekelan kecamatan Kepil. Di sana beliau mendirikan pondok pesantren dan masjid yang hingga sekarang masih ada dan berkembang pesat. Pembuatannya dibantu olehbesan Beliau yang bernama R. Tumenggung Bawad ( pensiunan ) pembesar dari Kraton Yogyakarta yang bernama Wiradhaha / ayah Kyai Tolabudin ( makam di Blimbing Bruno Purworejo ) dibantu juga oleh Kyai Karangmalang ( ayah Kyai Imam Puro ) yang telah mengangkat saudara. Dikisahkan mereka membawa pohon Aren dan Pohon jambe / Pinang. Dari desa Cekelan, Beliau kemudian pindah ke desa Gunung Tawang, kecamatan Selomerto Wonosobo . Di sana pun Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendirikan pondok dan masjid.

Setelah bermukim di desa Gunung Tawang, beliau pindah ke arah utara, sampai di dekat dukuh Kendal Mangkang, petilasan Kyai Ageng Gribig dari Klaten Surakarta sewaktu membuat pertahanan saat memerangi Belanda di Batavia ( Jakarta ). Dari tempat tersebut, beliau pindah ke arah timur sampai di Candiroto, akan tetapi tidak dikisahkan hal pendirian masjid dan pondok di sana. Perpindahan selanjutnya adalah di desa Traji, yang berada di sebelah utara Parakan Temanggung, dekat desa Mandensari. Di sana didirikan pula pondok yang sampai sekarang masih ada. Dari desa Traji, Sayyid Ahmad Muhammad Alim bermukim sebentar di desa Bulu, Salaman Magelang. Di sana didirikan pula pondok dengan dibantu oleh Kyai Muhyi Bulu. Pesantren tersebut hingga sekarang pun masih. Rute perpindahan selanjutnya adalah di desa Paguan Kaliboto Purworejo, dan seperti yang sudah – sudah, di sana pun didirikan pondok yang hingga kini pesantren itu masih. Dari Kaliboto, atas permintaan salah seorang murid setianya yakni seorang mantri polisi Beliau pindah ke Pancalan dan mendirikan pesantren sehingga daerah itu menjadi aman. Pondok pesantren tersebut hingga sekarang masih, kemudian Beliau pindah ke desa Nglegok Baledono Purworejo, mendiami bekas pondok Kyai Asnawi ( R. Tumenggung Djoyomenduro, putra kyai Syamsyiah Pengulu Landrat/ Ketua Pengadilan Negeri jaman kejawen yang makamnya terletak di Pangenjurutengah ). Kyai Asnawi mempunyai banyak pondok pesantren.

Dari Baledono, Sayyid Ahmad Muhammad Alim pindah ke Kali Kepuh Beji. Masjid digotong oleh para santri yang jumlahnya sangat banyak. Perpindahan ke Kali Kepuh beji pada awalnya atas perintah Bupati Purworejo yang pertama pada jaman Belanda yang bernama Raden Mas Cokrojoyo, dikarenakan ketakutan Belanda akan adanya penyerangan sewaktu – waktu yang akan dilakukan oleh Sayyid Ahmad Muhammad Alim dan para santrinya. Begitu juga dengan perpindahan Beliau ke Bulus yang merupakan perintah dari Bupati, yang tujuan sebenarnya adalah agar Sayyid Ahmad Muhammad Alim mati dimangsa Brekasakan Hutan ( sejenis hewan dan mahluk halus ), lelembut, harimau, celeng / babi hutan dan warak ( sejenis badak ), sebab di sana terdapat sebuah beji ( semacam mata air ) yang di dalamnya terdapat sepasang bulus ( sejenis kura – kura ) berwarna putih yang merupakan mahluk halus. Maka daerah Bulus saat itu terkenal dengan sebutan Jalma Mara Jalma Mati yang artinya manusia mendekat, manusia mati. Sayyid Ahmad Muhammad Alim tetap selamat dan bahkan kemudian tempat tersebut menjadi desa yang makmur dan pesantrennya berkembang pesat hingga menyebar menjadi cikal bakal lahirnya pesantren – pesantren yang ada di Purworejo dan sekitarnya. Bulus yang tadinya hutan yang sangat angker beliau ubah menjadi desa yang makmur bersama para muridnya yang berasal dari berbagai daerah antara lain dari Pekalongan, Semarang, Salatiga, Magelang dan lain – lain. Jumlah murid Beliau lebih dari seribu orang. Sayyid Ahmad Muhammad alim mengajarkan tarekat Satariyah. Setelah mengaji, para murid ada yang diperintahkan untuk bekerja membuka hutan, ada yang diperintahkan membuat tempat tinggal ada juga yang bekerja seperti biasanya. Murid – murid yang berasal dari Pekalongan bekerja membuat sinjang ( jarit / kain ), sehingga kemudian daerah Bulus pada waktu itu terkenal dengan sebutan daerah Bang – bangan sinjang ( penghasil jarit / kain ). Mereka yang berasal dari Banjarmasin bekerja membuat aneka perhiasan dari emas dan ada juga yang bekerja sebagai tukang jam.


Laku Spiritual Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus Purworejo

Sayyid Ahmad Muhammad Alim sering malakukan tirakat puasa mutih, sering tidak makan. Beliau hanya makan sekali dalam sehari. Pakaian yang dikenakan berwarna putih, sering juga mengenakan pakaian berwarna gadung ( hijau ). Ikat pinggangnya terbuat dari pelepah pisang. Apabila mencuci, Sayyid Muhammad Alim menggunakan pace ( mengkudu ) matang sebagai sabunnya. Beliau tidak pernah merokok, melainkan ngganten ( mengunyah sirih ). Postur tubuhnya besar dan tinggi melebihi postur orang yang tinggi besar pada umumnya. Suaranya besar dan hati serta pikirannya legawa / bersahaja.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu melakukan sholat sunnah sehari semalam sebanyak 35 rokaat. Ketika Sholat Awabin sampai 20 rokaat. Sebelum tidur, seusai membaca wirid, beliau selalu bersahadat 3 kali, memohon ampun pada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu memintakan dan mendoakan agar para keturunannya juga murid – muridnya bisa menjadi orang yang soleh. Beliau juga menjalankan tapa pendhem 40 hari 40 malam, seperti layaknya jenazah yang dikubur, hanya pada bagian atas tepat di bagian kepala diberi sebilah bambu sebagai jalan nafas saat di dalam kubur. Ditengah – tengah lubang tersebut diberi benang yang digunakan untuk isyarat bahwa Beliau masih hidup. Setiap sore benang ditarik yang menandakan bahwa Sayyid masih hidup di dalam kubur. Menurut riwayat, di dalam tapa pendhemnya, Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendapatkan isyarat gaib seperti berikut.

Beliau diperintahkan untuk memilih salah satu dari 3 bendera. Bendera tersebut berwarna putih, hijau dan merah. Ada suara gaib yang kemudian memerintahkan untuk memeilih salah satu. Pilihen Kyai ( pilihlah Kyai ) ?. Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim kemudian memilih bendera yang berwarna putih. Setelah memilih salah satu, kemudian suara gaib itu menerangkan sebagai berikut.

Bahwa putih tadi perlambang amal soleh: hijau perlambang materi keduniawian sedangkan merah perlambang dari kekuatan fisik.

Sehingga amanah Beliau untuk semua anak turunnya seperti berikut.

“ Anak turunku ora usah tirakat, asal gelem mantep anggone ngaji, bakal diparingi dadi wong mulya dunya tekan akherat.” ( anak turunku tidak perlu tirakat, asal mantap mengaji akan menjadi orang mulya dunia dan akherat ).

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Ahli Nahwu, Fiqih dan Tafsir. Tiap malam sering dijaga oleh harimau singga 5 ekor. Sering juga dijaga oleh Warak ( sejenis badak ). sehingga rumah dan tanaman Beliau menjadi aman. Di mana tempat yang dianggap angker oleh masyarakat umum, apabila telah ditempati oleh Beliau menjadi aman.Orang yang jahat sekali pun apabila telah bertemu dengan beliau, maka akan menjadi orang soleh. Maka banyak yang menjadi pengikut kemana pun Beliau pindah karena tidak bisa berpisah dengan Sayyid Ahmad Muhammad Alim.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim sering juga menghilang, terutama malam Jumat, akan tetapi di dalam masjid terdengar ada suara bergema jamaah dzikir Satariyah, yang dijaga pula oleh brekasakan hutan.

Setengah riwayat diceritakan bahwa suara dzikir tersebut hingga sekarang masih terdengar saat malam Jumat di makam Beliau. Ada yang bisa melihat, berujud haji sejumlah 40 orang yang rupawan. Untuk melihatnya harus dengan menjalankan sholat sunah dan membaca surat Yaasin terlebih dahulu.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu menyiarkan Islam, hingga menyebar di seluruh Purworejo hingga adanya pesantren di Loning, Pancalan, Tirip, Maron dan lainnya.

Tarekat Satariyah setelah Sayyid Ahmad Muhammad Alim wafat diteruskan oleh Kyai Guru Loning Mukhidinirofingi dan Kyai Muhammad Alim Maron. Kyai Muhammad Alim Maron juga pernah ditangkap Belanda sebab menjalankan tarekat Satariyah, karena dicurigai akan seperti Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim.

Sayyid Ahmad Muhammad Alim mempunyai badal 2 orang yakni :

1.

Ngumar
2.

Haji Toha

Akan tetapi setelah wafatnya Sayyid Ahmad Muhammad Alim, Haji Toha kemudian pergi ke Kelang Singapura, dan mungkin mengajarkan Tarekat Satariyah di sana. Para murid juga banyak yang pulang keasalnya masing – masing setelah Beliau wafat, sehingga Bulus pada waktu itu kosong hingga 3 tahunan.

Atas pertolongan Yang Maha Kuasa, ada seorang yang bernama Raden Mas Cokrojoyo ( bupati Purworejo yang pertama ) memerintahkan kepada Ulama yang bertempat tinggal di kampung Madiyokusuman Purworejo bernama R. Syarif Ali untuk menempati daerah Bulus. Keturunannya hingga saat ini masih. Tanah pesantren kemudian diwakafkan kepada yang memimpin di situ untuk meneruskan.


Masa Perjuangan

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus berjiwa pejuang. Pada waktu Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma Mataram memerangi Belanda di Batavia ( Jakarta ), yang memberangkatkan Kyai Ageng Gribig Klaten Surakarta, Kyai Sayyid Muhammad Alim menyerahkan para murid pemudanya untuk dijadikan prajurit, yang dipimpin oleh Kyai Ageng Gribig.

Jaman Pangeran Diponegoro ( R.M. Ontowiryo ), Beliau juga dengan sangat halus tanpa diketahui Belanda menyerahkan para santri mudanya untuk dijadikan prajurit. Agar tidak diketahui Belanda, maka Beliau berpindah – pindah tempat. Murid – murid diserahkan pada pertahanan Magelang dan Bagelen, yang dipimpin oleh R. Tumenggung Djoyomustopo yang makamnya di Sindurejan., juga pada R. Syamsyiah ( Pengulu Landrat Pangenjurutengah ).

Riwayat Setelah Perang Berhenti

Sayyid Ahmad Ahmad Muhammad Alim Basaiban masih meneruskan perjuangannya. Setelah Belanda menguasai negara ini hukum yang berlaku adalah sebagai berikut.

1.

Orang yang ditangkap kemudian dihukum dengan disalib dan dijemur di terik matahari, kemudian dicor timah panas hingga mati (seperti yang terjadi di Kedung Lo, sebelah barat Tanggung Purworejo)

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban kemudian mengajukan tuntutan agar hukuman itu diubah. Tuntutan tersebut diterima Belanda. Hukuman kemudian berubah menjadi
2.

Hukuman Picis di Bong Cina

Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban kemudian kembali mengajukan tuntutan agar hukuman itu diubah. Tuntutan tersebut diterima Belanda. Hukuman kemudian berubah menjadi
3.

Hukuman Gantung

Semua tuntutannya dibantu oleh Kyai Guru Loning Mukhidinirofingi. Apabila akan mengajukan tuntutan, Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu mengunyah sirih terlebih dahulu, kemudian berpakaian putih atau hijau, kemudian ditandu sebab usianya yang sangat tua. Belanda menganggap Beliau sebagai Pimpinan Pengadilan.

Diceritakan bahwa Kyai Sayyid Muhammad Alim berpindah – pindah hingga28 tempat. Usia Beliau mencapai 280 tahun. Sayyid Ahmad Muhammad Alim wafat pada hari Jumat Pahing tanggal 1 Jumadilakhir tahun B 1262 Hijriyah/1842 Masehi. Beliau dimakamkan di sebelah barat pengimaman masjid Bulus.

Peringatan Haul Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus dilakukan rutin setiap tahun di Bulus Purworejo oleh seluruh anak turunnya.


Silsilah pra Turunipun Sayyid Muhammad Alim Bulus


1.

Garwa Kalibening Wonosobo peputra :

1. Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan Kaliboto Purworejo

2. Sayyidah Nyai Khasanadi Munggang Kreteg Wonosobo

3. Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu Salaman Magelang

4. Kyai Sayyid Mualim Pancalan Loano Purworejo


2.

Garwa Banyuurip Purworejo peputra :

1. Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen Purworejo

2. Sayyidah Nyai Zaenul Ngalim Greges Tembarak Temanggung


3.

Garwa Kedung Dowo peputra :

1. Kyai Sayyid Muhammad Alim Loano Purworejo

2. Kyai Sayyid Muhammad Zein Solotiyang Purworejo



Sayyidah Nyai Tolabudin peputra :

1.

Kyai Sayyid Taslim Tirip Gebang Purworejo
2.

Kyai Sayyid Ahmad Husen Paguan Kaloboto Purworejo


Nyai Khasanadi Munggang ( Nyai Gentong ), dados garwanipun Kyai Ngali Markhamah Bendosari Sapuran Wonosobo ananging mboten kapanjang, lajeng kagarwa dening Kyai Chasanadi lan peputra :

1.

Sayyidah Nyai Murdaqoh Krakal Kreteg Wonosobo
2.

Sayyidah Nyai Pencil Kreteng Wonosobo


Kyai Sayyid Ngabduljalal Bulu peputra ( saking garwa I ) :

1.

Kyai Sayyid Bughowi Ngentos Muntilan Magelang
2.

Kyai Sayyid Imron Krumpakan Kajoran Magelang
3.

Kyai Sayyid Ngabdul Jalil Bulu Salaman Magelang
4.

Sayyidah Nyai Chayat Bulu Salaman Magelang
5.

Sayyidah Nyai Ngabdullah Bulu Salaman Magelang
6.

Kyai Sayyid Ngabdul Ngalim Bulu Salaman Magelang
7.

Sayyidah Nyai Ngabdul Kodir Kedung Lumpang Salaman Magelang


Saking Garwa Putri Patih Dipodirjo Purworejo peputra :

1.

Sayyidah Nyai Ngabdullah Solotiyang Loano Purworejo
2.

Sayyidah Nyai Syekh Yusuf Solotiyang Loano Purworejo
3.

Kyai Sayyid Jakfar Naib Banyuasin Loano Purworejo

Kyai Sayyid Mualim Pancalan peputra :

1.

Sayyid Imam Jaed Jagir Bruno Purworejo
2.

Kyai Sayyid Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung
3.

Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Gintung Gebang Purworejo
4.

Sayyid R. Ng. Joyodirjo Salamkanci Bandongan Magelang
5.

Sayyid Haji Dachlan Greges Tembarak Temanggung
6.

Sayyidah Nyai Muhammad Rustam Pancalan Loano Purworejo
7.

Sayyidah Nyai Ngabdulmanan Pancalan Loano Purworejo
8.

Sayyidah Nyai Tumpak Terasan Bandongan Magelang


Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen peputra :

1.

Sayyidah Nyai Syuhadak Purwodadi Banjarnegara
2.

Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus
3.

Kyai Sayyid Batang Pekalongan
4.

Ayah Kyai Sayyid Dachlan Sorogenen Purworejo


Kyai Sayyid Muhammad Alim Maron peputra :

1.

Kyai Sayyid Belah Kedungwot ( Ambal Pucang ) Kebumen
2.

Kyai Sayyid Ngusman Gambasan Tembarak Temanggung
3.

Kyai Sayyid Ngabdullah Cekelan Tembarak Temanggung
4.

Sayyidah Nyai Juwar Maron
5.

Kyai Sayyid Ahmad Maron ( wafat muda )
6.

Kyai Sayyid Ridwan Maron ( wafat muda )
7.

Kyai Sayyid Siroj Maron
8.

Kyai Sayyid Nawawi Cacaban Kaliboto Purworejo
9.

Sayyidah Nyai Sayuti Tegalarung Parakan Temanggung
10.

Sayyidah Nyai Maimun ( Sabilan ) Bulus Gebang Purworejo
11.

Sayyidah Nyai Chotimah ( Kyai Bakri ) Kalongan Loano Purworejo
12.

Kyai Sayyid Ngadnan Parakan Temanggung


Kyai Sayyid Zein Solotiyang peputra :

1.

Sayyidah Nyai Haji Ngali Pabean Muntilan Magelang
2.

Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah Purworejo
3.

Sayyidah Nyai Ngabdullah Faqih Sutoragan Kemiri Purworejo
4.

Sayyidah Nyai Kalisuren Kreteg Wonosobo
5.

Sayyidah Nyai Ngabdul Majid I Grabag Magelang
6.

Sayyidah Nyai Ngabdul Majid II Grabag Magelang
7.

Kyai Sayyid Daldiri Solotiyang ( wafat muda )
8.

Kyai Sayyid Fadil Solotiyang Loano Purworejo
9.

Sayyidah Nyai Badar Solotiyang Loano Purworejo


Sayyidah Nyai Zainul Ngalim peputra :

1.

Sayyidah RA. Nyai Ngabdul Chalim Greges Tembarak Temanggung
2.

Sayyidah RA. Nyai Ngabdullah Faqih Wonosobo
3.

Sayidah RA. Nyai Ngabdul Murid Greges Tembarak Temanggung


Kyai Sayyid Taslim / Fatimah peputra : (garwanipun Kyai Taslim saking Luning, Bulus, Kaliwatu lan satunggal dereng dipun mangertosi asalipun )

1.

Kyai Sayyid RM. Abdurrohman Tirip Purworejo
2.

Sayyidah RA. Jamilah ( Nyai Ibrahim Pengulu Landrat Kebumen )
3.

Sayyidah RA. Aisyah Kyai Abu Sujak Kemiri
4.

Kyai Sayyid RM. Abdurrohim
5.

Sayyidah RA. Suyud / Kyai Suyud Karangrejo Kutoarjo




Putra saking garwa sanesipun Nyai Fatimah ;


6.

Sayyidah Nyai Murtaman ( Lubang Butuh )
7.

Kyai Sayyid Abdullah Sajad ( Pengulu Kebumen )
8.

Kyai Sayyid Ibrahim Pituruh
9.

Kyai Sayyid Dullah Ngusman Singapura / Malaysia
10.

Kyai Sayyid Dullah Feqih Gintungan
11.

Kyai Sayyid Abdul Qohir Tirip
12.

Kyai Sayyid Abdul Mukti Bruno
13.

Kyai Sayyid Zaet Tirip peputra

kaliyan garwa Putri Termas ;

1. Sayyid Nawawi

kaliyan garwa Syarifah Zaenab ;

1. Syarifah Barokah ( Baroroh )


14.

Sayyidah Nyai Maemunah ( Kyai Yusuf Sucen ) peputra ;

1. Sayyidah Sri / Kyai Mabrur Kutoarjo peputra ;

1. Kyai Sayyid Zakariya Lampung

2. Kyai Sayyid Muchtarom ( kaliyan Nyai Johar ) peputra ;

1. Sayyid Malik

2. Sayyidah Rohmah ( seda timur )

3. Kyai Machfudz kaliyan Nyai Rufingah lan Nyai Maryatun mboten peputra lajeng mundhut putra angkat ;

1. Zawawi bin Kyai Kodir Ali Imran

15.

Sayyid Kyai Suyud Karangrejo Kemiri peputra ;
16.

Kyai Sayyid Arsan peputra ;


Kyai Sayyid R. Abdurrohman alm. peputra : ( garwa kyai Sayyid R.Abudrrohman wonten kalih, ananging dereng dipun sumerepi asma – asmanipun. Garwa sepindah saking Sucen, garwa kaping kalih saking Bulus )

Kaliyan garwa Sucen ;
1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon
2. Sayyid R. Hadiyul Mustofa/H. Sucen

Kaliyan garwa Bulus ;

1. Sayyidah RA. Fatimah

2. Sayyidah Wardiyah ( mboten peputra )


1. Sayyidah RA. Roikhanah Plumbon Kebumen peputra :

1.

Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun alm.
2.

Sayyidah RA. Rofqoniyah / Kyai Matori alm.
3.

Sayyid R. Sanusi alm.
4.

Sayyid R. Sugeng alm.
5.

Sayyid R. Dulkodir alm.

1. Sayyidah RA. Rughoyah / Makmun peputra :

1. Sayyidah RA. Rokhimah peputra ;
2. Sayyidah RA. Kharisoh peputra ;

1. Sayyidah RA. Nurul

2. Sayyidah RA. Retno

3. Sayyid R. Beni


3. Sayyidah RA. Khotmah peputra ;


4. Sayyidah RA. Halimah peputra ;


5. Sayyidah RA. Honimah peputra ;

1. Sayyid R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki peputra:

1.Sayyid R. Avataranindita Manungsa Jati

2. Sayyidah RA. Aila Rezannia / Poedjo Rahardjo peputra:

1.Sayyidah RA. Grahita Rahdipa Rahardjo

6. Sayyidah RA. Soimah peputra ;

1. Sayyid R. Arif Hidayat

2. Sayyidah RA. Titin Rahayuningsih

3. Sayyid R. Teguh Priyatno

4. Sayyidah RA. Nur Fatmawati

5. Sayyidah RA. Diyah Kurniasari

2. Sayyidah Rofqoniyah peputra;
1. KH. Sayyid R. Salim Almator peputra ;
1. Sayyid R. Tobagus Muslihudin Aziz
2. Sayyidah RA. Hikmatul Hasanah
3. Sayyidah RA. Maksumah Kurniawati
4. Sayyid R. Musyafa Firman Iswahyudi
5. Sayyidah RA. Retno Auliyatussangadah
6. Sayyidah RA. Eta fatmawati Auliyatul Ummah
2. Sayyidah RA. Songidah peputra ;


3. Sayyidah RA. Sangadatun Diniyah alm peputra ;


4. Kyai Sayyid R. Khumsosi Al Mator berputra ;
1. Sayyidah RA. Siti Khulasoh
2. Sayyidah RA. Siti Fatimah
3. Sayyid R. Lukman Zein
4. Sayyidah RA. Anis Siti Karimah
5. Sayyidah RA. Siti Khomsiati
6. Sayyid R. Anas Mufadhol alm.
5. Sayyid R. H Makmuri peputra ;

1. Sayyidah RA. ISnita

2. Sayyid R. Arif

3. Sayyidah RA. Ningrum

6. Sayyid R. Muslim peputra ;

1. Sayyidah RA. Balkis

2. Sayyidah RA. Fentiya

3. Sayyidah RA. Roro

4. Sayyid R. Mamas

3. Sayyid R. Sanusi bin Roikhanah Plumbon peputra;
1. Sayyidah RA. Sol ? Peputra ;


2. Sayyidah RA. Salamah Prembun peputra ;



2. Sayyidah RA. Fatimah binti Abdurrahman Tirip bin Sayyid Taslim /Fatimah peputra ;

Kaliyan garwa I / Jazuli ;

1. Sayyid. R. Mad Amin

2. Sayyidah RA. Rohmah

3. Sayyidah RA. Romlah

4. Sayyidah RA. Ruqoyah


Kaliyan garwa II / Haji Siroj ;

1.

Sayyidah RA. Zuhriyah
2.

Sayyid R. Yazid
3.

Sayyid R. Zahrowardi
4.

Sayyidah RA. Nguluwiyah
5.

Sayyid R. Zarnuji



Kyai Sayyid R. Abdurrohim bin Kyai Sayyid Taslim ( kagungan garwa kalih inggih punika RA. Baingah binti RM. H. Muhammad Nur bin Kyai Guru Luning kaliyan garwa Alang – alang Amba lan RA. Nafingah binti RM. Chamid Triris bin Kyai Guru Luning kaliyan garwa Putri Lurah Kroyo, ananging dereng dipun sumerepi pundi ingkang garwa sepindah lan pundi garwa ingkang kaping kalih ) :

Saking garwa I peputra :

1.

Sayyid R. Mahasin
2.

Sayyidah RA. Hasbiyah
3.

Sayyid R. Khojin
4.

Sayyid R. Baedowi
5.

Sayyidah RA. Maksumah
6.

Sayyid R. Abdullah


Saking garwa II peputra :

1. Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi

2. RA. Munawaroh ( Sumatera , ananaging ngantos dumugi sakpriki dereng wonten pawartosipun )

3. KH. Sayyid R Sya'roni alm. Temurjo Purwoharjo Banyuwangi

4. Kyai Sayyid R. Abdal alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi

5. Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi

6. Kyai Sayyid R. Hamdullah Buluagung Siliragung Banyuwangi

7. Kyai Sayyid Din alm.

8. Kyai Sayyid R. Fatkhan

Kyai Sayyid R. Muhyi / Mukti peputra :

1. Sayyid R. Muflih Perangan

2. Sayyid R. Muh. Miftah Perangan

3. Sayyid R. Mudatsir

4. Sayyidah RA. Muhsonah

5. Sayyidah RA. Mu'awah Seneporejo Siliragung

6. Sayyid R. Muzamil

7. Sayyidah RA. Mudzrikah

8. Kyai sayyid R. Munhamir Tamanagung Cluring Banyuwangi

9. Sayyidah Mustaqimah Sukorejo


KH. Sayyid R. Sya'roni Temurejo peputra :

1. Sayyidah RA. Mutmainah

2. Sayyid R. Sairu
3. Sayyid R. Khamami
4. Sayyid R. Jami'ah
5. Sayyid R. Jauhar
6. Sayyid R. Halimi

Kyai Sayyid R. Azhad alm. Perangan Purwoharjo Banyuwangi peputra :

1. Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan

2. Kyai Sayyid R. Toha Azhad Merauke Irian Jaya

3. Kyai Sayyid R. Musta'in Azhad alm.

4. Kyai Sayyid R. M. Yasin Azhad Perangan

5. Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Ngadirejo Purwoharjo

6. Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan

7. Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan

8. Kyai Sayyid R. Nur Hamid azhad Perangan

Kyai Sayyid R. Mustofa Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Ahmad Nasihudin Al Bahiri
2. Sayyidah RA. Latifah

Kyai Sayyid R. Thoha Azhad Merauke Irian Jaya peputra :
1. Sayyid R. Habiburrohim
2. Sayyidah RA. Nihayatus Zuhriya

Kyai Sayyid R. Yasin Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Wafi
2. Sayyidah RA. A' lin Bil Hija

Sayyidah RA. Siti Aminah Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Ahmad Luqman Hakim
2. Sayyid R. Burhanudin Al Maki
3. Sayyid R. Abdurrahman
4. Sayyid R. Abdurrahim
Sayyidah RA. Siti Hanifah Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Utsman

Kyai Sayyid R. Halimu Shodiq Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Wildan Hadziqi

Kyai Nur Hamid Azhad Perangan peputra :
1. Sayyid R. Alan ' Adzim Al Aufa

Kyai Sayyid R. Hamdullah peputra :
1. Kyai Sayyid R. Ali Masngud Buluagung
2. Sayyidah RA. Sa'adah
3. Sayyid R. Zuhri
4. Sayyid R. Tasip

Mbah Sayyid R. Dulkohir bin Kyai Sayyid Taslim Tirip peputra :

1. Sayyidah RA. Nyai Bandiyah
2. Sayyidah RA. Nur Rohmah
3. Sayyidah RA. Murlingah
4. Sayyid R. Khoidar

kaliyan garwa Nyai Muntofingah binti Kyai Abdul Mungid Pacalan mboten peputra

Kaliyan Garwa Nyai Sultoniyah binti Kyai Abdul Mungid Pacalan peputra ;
5. Sayyidah RA. Umi Salamah
6. Sayyid R. Bun Yamin

Sayyidah RA. Bandiyah peputra :
1. KH. Sayyid R. Hasyim
2. KH. Sayyid R. Nawawi Bantul ( menantu Kyai Munawir Krapyak Yogyakarta )
3. Sayyidah RA. Musfiroh

Sayyidah RA. Murlingah peputra ;

1. Sayyidah RA. Ambariyah

2. Sayyid R. Slamet Bahrudin

3. Sayyidah RA. Wiwik Atun Hasanah

Sayyidah RA. Umi Salamah peputra;

1. Sayyidah RA. Taslimah

2. Sayyidah RA. Robingah

3. Kyai Sayyid R. Muhammad Taslim Tirip

4. Sayyid R. Ahmadi

5. Sayyid R. Sangid

Sayyid R. Bun Yamin peputra ;

1. Sayyid R. Subro Malisi

2. Sayyidah RA. Siti Fatimah

3. Sayyid R. Gufron

KH. Sayyid Hasyim peputra :
1. Sayyidah RA. Nurhalimah Sukorejo
2. Sayyidah RA. Bastiyah
3. Kyai Sayyid R. Ahmad Saifudin Pekalongan
4. Sayyidah Siti Romlah Sulawesi
5. Kyai Sayyid R. Mubarok Sukorejo ( ponpes Roudlotul Hufadzil Quran )
6. Sayyid R. Imam Ghozali ( badal Kyai Sayyid R. Mubarok )
KH. Sayyid R. Nawawi Bantul peputra :
1. Kyai Sayyid R. Ngasim
2. Sayyid R. Yasin
3. Sayyidah RA. Istiqomah
4. Sayyid R. Abdul Muqti
5. Sayyidah RA. Barokah
6. Sayyidah RA. Binti Nafiyah
7. Sayyidah RA. Umi Azizah
8. Sayyid R. Agus Salim
9. Sayyidah RA. Wardah
10. Sayyidah RA. Ulfah
11. Sayyidah RA. Zahiyah

Sayyidah RA. Musfiroh peputra :
1. Kyai Sayyid R. Husnin
2. Sayyidah RA. Masyitoh
3. Kyai Sayyid R. Muhsin


Sayyidah Nyai Murtaman binti Kyai Sayyid Taslim berputra ;

Kyai Sayyid Habib ( Butuh lubang lor ) berputra ;

Kyai Sayyid Ahmad Hisyam ( Kepil ) berputra ;

Sayyidah Nyai Siti Hafsoh berputra ;

1.

Kyai Sayyid R. Habibullah
2.

Kyai Sayyid R. Muh. Nawawi Hisyam ( Gus Wawi Adikarso Kebumen )
3.

Kyai Sayyid R. Mahrus Muqorrobin
4.

Sayyidah RA. Siti Halimah
5.

Kyai Sayyid R. Muh Ali Dimyati
6.

Kyai Sayyid R. Zainul Arifin
7.

Sayyidah RA. Fatimah
8.

Sayyidah RA. Siti Halimah
9.

Sayyidah RA. Nafisah


Sayyidah Nyai Suchemi Pangenjurutengah binti Kyai Sayyid Zein Solotiyang berputra;

1.

Sayyidah Nyai Abdullah Faqih Jatiwangsan Kemiri Purworejo
2.

Kyai Sayyid R. Damanhuri Pangenjurutengah peputra ;

1.

Sayyidah RA. Nyai Badarudin Guron Sindurejan peputra ;

1.

Sayyidah RA. Ummulchasanah Mucharom Buluselatan 14 Semarang peputra ;

1. Sayyid R. Heru Bulu Selatan Jl. Suyudana Semarang

2. Sayyid R. Farchan Bulu Selatan Jl. Suyudana Semarang

2.

Sayyid R. Sulachudin Pangenjurutengah
3.

Sayyid R. Sakir Guron Purworejo
4.

Sayyid R. Ashal 15 th seda
5.

Sayyidah RA. Mustanganah 11 th seda
6.

Sayyidah RA. Nurul Chasanah 9 th seda
7.

Sayyid R. Harim 5 th seda
8.

Sayyidah RA. Mustawidah Guron Purworejo
9.

Sayyidah RA. Nurul Aini Guron Purworejo
10.

Sayyid R. Harun Al Rasyid Guron Purworejo

2. Sayyidah RA. Nyai Fatimah / Muh. Masyhuri Krobokan Semarang Barat peputra ;

1.

Sayyid R. Wahid Ngusman Pangenjurutengah
2.

Sayyidah RA. Isnaini Nurjanah Krobokan Semarang Barat
3.

Sayyidah RA. Idah Choiriyah Krobokan Semarang Barat
4.

Sayyid R. Sarofin Arbaah Krobokan Semarang Barat
5.

Sayyidah RA. Chomsatun Krobokan Semarang Barat


Kyai Sayyid Faqih bin Kyai Sayyid Taslim Tirip peputra :
Kyai Sayyid Malkan peputra :
Kyai Sayyid mustofa Gintungan peputra ;



Sayyid Muhammad Zein Solotiyang bin Sayyid Muhammad Alim Bulus peputra ;

Sayyid Muhammad Fadil Solotiyang peputra ;

Sayyidah Isti Sangadah peputra :

1.

Sayyid Mahmud Ali Kauman Kebumen peputra ;

1. Sayyid Arif Mustofa

2.

Sayyidah Isti Chamidah / Syamsi Kauman Kebumen peputra ;

1. Sayyid R. Muh. Sudjangi

2. Sayyid R. Sugeng Assyamsi

3. Sayyid R. Abdul Rozak

4. Sayyid R. Lukman Hakim

5. Sayyid R. Abdus Somad

6. Sayyid R. Muh. Mahfud

7. Sayyid R. Muh. Murtadlo



Kyai Sayyid Rofingi Sorogenen bin Sayyid Muhammad Alim Bulus peputra :

1. Kyai Sayyid Ahmad Junus Bulus peputra :

Demikian riwayat serta silsilah Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban Bulus. Harapan penulis, riwayat ini bisa berguna bagi keturunan Sayyid Ahmad Muhammad Alim Bulus agar bisa mempererat tali persaudaraan kembali, ngumpulake balung pisah....dan juga bagi pembaca sekalian. Tentunya meski telah sangat berhati – hati dalam penulisannya, banyak sekali terdapat kekurangan – kekurangannya. Atas hal ini penulis memohon maaf sedalam – dalamnya.

Penulis sangat mengharap sumbangan riwayat dari keturunan Sayyid Ahmad Muhammad Alim yang lain demi terciptanya riwayat yang baik.

sumber : Pustaka Bangun

Terimakasih kepada :

1. Sayyid Dahlan alm.

2. Sayyid Agil Ba'bud alm.

3. Sayyid K. Damanhuri alm.

4. R. Darmowarsito alm.

5. Haji Syamhudi alm.

6. R. Muh. Siroj

7.Panitia khoul Sayyid Ahmad Muhammad Alim yang lain

Rahmat dan kuasa Allah Swt melalui Beliau semua lah Kitab Pustaka Bangun yang berisi Manaqib Sayyid Ahmad Muhammad Alim hingga saat ini masih lestari.

Pada peringatan 125 tahun wafatnya Kyai sayyid Ahmad Muhammad Alim yang bertempat di serambi masjid Bulus pada hari Kamis Paing, 2 Jumadilakhir 1387 H atau 7 September 1967, dihadapan kurang lebih 300 orang nasab Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim, Kyai Sayyid R. Damanhuri, alm pada saat itu ditunjuk untuk membacakan Kitab Manakib tersebut.

Apabila ada sumbangan riwayat atau para keturunan Sayyid Ahmad Muhammad Alim Basaiban yang belum tercantum di sini, dapat menghubungi penulis di

ravieananda@yahoo.com atau datang langsung di kediaman penulis

dengan alamat

Ravie Ananda

Jl. Garuda 13 Kebumen 54311 Jateng


Subhanalloh,,,

Rohmatulloh, Wassalamah ... warahmah...wabarokah...wangilman..warizqon.. .. ngalaik

diposkan oleh raffie ananda @ 20:53 6 Komentar
6 Komentar:

Pada 22 Maret 2009 21:12 , Blogger LukMan mengatakan...

asslmkm....kabare piye boss...
ada koreksi dikit nih..tuk keturunan syd.khumsosi: anas mufadol itu udah alm.
tuk keturunan syd.makmur:1.isnita 2. arif. 3. ningrum.
tuk keturunan syd. muslim: 1. balqis 2. fentiya. 3. roro 4. mamas

Pada 8 Juni 2009 21:59 , Blogger raffie ananda mengatakan...

wangalaikumsalam
maksih koreksinya
sudah saya betulkan bib

Pada 2 Agustus 2009 12:19 , Blogger Jurnal Geografi Indonesia mengatakan...

Saya salah satu warga desa tegalsari, garung, wonosobo yang baru tahu informasi kalau R.A Nyai Segati/ Pageran Bayat itu termasuk silsilahnya sunan kudus. Makamnya masih terpelihara rapih, di desa saya.
Mas Ravie bia menunjukkan bacaan bukunya yang asli, untuk mengetahui silsilah keturunan asalnya masyarakat tegalsari, garung, wonosobo. Bagaimana silsilah selnjutnya dengan warga desa saya?

Pada 4 Agustus 2009 05:17 , Blogger raffie ananda mengatakan...

wassalamualaikum..saya juga sudah ziarah ke tegal sari garung..saya senang sekali makam mbah segati masih terawat dengan baik.kebetulan saudara saya ada di stieng jadi tiap saya ke stieng saya usahakan untuk ziarah ke mbah segati..juga ke para turunnya yakni mbah ngalim masritojoyo dan lainnya di garung juga..tapi bukan di kompleks makam mbah segati..untuk buku asli saya hanya punya riwayat pustaka bangun yang ditulis jaman thn 1967 an oleh keluarga bani ngalim bulus saat itu yakni kyai damanhuri alm. purworejo, dan habib dahlan baabud, juga habib agil baabud dan panitia saat itu, yang didalamnya sudah tertera riwayat secara turun temurun dimana ada nama mbah segati dan lain2.mengenai riwayat mbah segati sendiri secara lengkap saya kurang paham.belum sempat mencari. semoga masyarakat garung segera bisa menemukan..amin

Pada 4 Agustus 2009 07:19 , Blogger EL Batul mengatakan...

Assalamu'alaikum wr wb.
Alfaqier Syed Alidien bin Hasan Asseggaff.Alhamdulillah alfaqier dapat berkunjung pada blok yg anda buat.Kebetulan alfaqier pengamat nasab Alawiyin yg ada di Indonesia,Yaman,Malaysia,Singapora dan Brunai.Mengamati tulisan yg anda buat ternyata terlalu banyak kekeliruhan dan salah nisbah,mohon maaf.Soal klg Al Basyaiban Al Ali Faqih Muqaddam,nasabnya sangat rapi dan alfaqier menyimpan nasab mereka secara lengkap dan sdh mengadakan perjumpan dg keluarga ini beberapa tahun yg lalu.Nasab yg antum berikan tidak ada sama sekali hubungan dg klg Basyaiban.Juga pada tulisan antum banyak salah antara keluarga Masyaikh,qabilli dan para Sayyid terjadi kerancuan,mohon maaf .Semoga hal ini dapat menjadi koreksi buat antum.Dan kami memelihara nasab ini secara turun temurun sampai saat ini dan kami mewarisi catatan dari datuk2 kami secara berkesinambungan sampai kini.Ada ratusan kitab yg kami warisi hingga sat ini. Salam dari hamba yg Faqier

Pada 1 November 2009 21:12 , Blogger raffie ananda mengatakan...

waalaikum salam wr.wb.
Maaf baru sempat buka bib.Terima kasih koreksinya dan mohon maaf kalau tidak sesuai dengan catatan antum.Yang jelas semua adalah wujud dari malamyaskurinnas lamyaskurillah. Karena riwayat yang saya tulis memang sudah turun temurunm dibacakan dalam haul Mbah Alim Bulus purworejo dimana beliau memang turunan dari Sunan Kudus.Sedangkan beliau adalah guru dari mbah kiai Soleh Darat.Yang penting adalah kami keluarga besar alim bulus ingin mewujudkan rasa syukur kami,tanpa perantara mereka kami tidak akan ada.Itulah wujud kesempurnan Allah.mengenai nashab yang terpelihara mungkin saja shahih,tetapi saya yakin masih banyak sekali masyarakat kita yang termasuk Alawayin yang belum masuk dalam catatan nasab.Juga yang turun dari wanita,yang sementara ini hanya didapati satu nama wanita yakni Sayidah Fatimah Azzahra. Apakah benar mulai dari Fatimah tidak ada lagi wanita,yang menurunkan sedangkan Allah sendiri memulyakan aminah untuk melahirkan Nabi SAW dan Fatimah untuk melahirkan para alawiyin.Semoga tidak adanya wanita dalam catatan nasab setelah Fatimah bukanlah termasuk budaya arab jahiliyah yang malu dengan adanya garis wanita. Terlebih dari itu ini semua bukanlah hal inti yang penting adalah ketauhidan kita karena itulah yg akan kita bawa menghadap yang KUASA.wa innailaihi rojiun.Nabi Nuh saja tidak bisa menyelamatkan putranya.Nabi SAW saja tidak bisa membuka hidayah pamannya.Sehingga dalam sirah nabawiyah disebutkan setiap penyebutan nasab hingga tujuh lapis keatas baginda nabi selalu berhenti dan bersabda bahwa semakin keatas nasab cenderung agak keliru.sekali lagi mohon maaf sedalam-dalamnya,semoga Allah yg maha Mengetahui memaafkan dan membukakan hidayah, rahmat, dan tauhid kita fil jasad wal batin ngindal ruh.dan semoga para pengarang yg ikhlas bukan para pengarang yg bermuatan politis selalu dilindungi Allah.Salam.


Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Halaman Muka

Rabu, 17 Februari 2010

Madinah dari Masa ke Masa

SEJARAH SINGKAT MADINAH DARI MASA KE MASA

Oleh Ravie Ananda

Madinah sebagai kota penting umat Islam sebenarnya telah lama sekali berkembang jauh sebelum Masehi. Tarikh Madinah dimulai dari Generasi ke 4 keturunan nabi Nuh As. Sekelompok kabilah dari negeri Babil yang kemudian keluar dari negeri tersebut untuk mencari tempat baru yang akan mereka jadikan pemukiman, hingga akhirnya kabilah tersebut menemukan lahan yang subur yang terlindungi dan dikelilingi oleh deretan pegunungan dan batuan gunung api. Mereka kemudian menetap di sana dan membuat sebuah perkampungan kecil yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama pemimpin kabilah tersebut yaitu YATSRIB.

Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Kaum Amalik keturunan nabi Nuh telah bertempat tinggal disana sejak Abad 23 sebelum Hijrah ( 2300 tahun sebelum Hijrah / 1721 tahun sebelum Masehi ). Pada abad 12 Sebelum Hijrah ( 1200 tahun sebelum Hijrah / 621 tahun sebelum Masehi ) Yatsrib telah terikat hubungan dengan kerajaan Mainiah. Dari beberapa penemuan purbakala, diketahui bahwa pada abad 11 Sebelum Hijrah ( 1100 tahun sebelum Hijrah / 521 tahun sebelum Masehi ) Yatsrib selama 10 tahun berada dibawah kekuasaan kerajaan Babilion dengan rajanya yang bernama Namunit yang tinggal di Taima.

Pada abad 5 Sebelum Hijrah ( 500 tahun sebelum Hijrah / 79 tahun Sebelum Masehi ), kaum Yahudi yang ketika itu telah diporakporandakan oleh Romawi berdatangan ke Yatsrib dan menetap di sana. Pada abad 3 Sebelum Hijrah ( 300 tahun sebelum Hijrah / tahun 279 Masehi ) suku Aus dan Khosroj berdatangan dari Yaman dan kemudian menetap di Yastrib. Disusul kemudian oleh suku – suku yang lain. Sejak saat itulah Yatsrib menjadi sebuah daerah yang mempunyai keanekaragaman masyarakat, petani yang ulet dan daerah yang terkenal dengan pertaniannya yang maju, kebun – kebun kurma, ladang – ladang sayuran dan buah – buahan yang tersebar diseluruh penjuru Yatsrib.

Kafilah dagang yang berpindah – pindah antara Syam dan Yaman singgah di Yatsrib untuk membekali diri mereka dengan air yang jernih dan Kurma yang istimewa sebagai bekal perjalanan mereka. Tukar – menukar barang ( barter ) pun kemudian terjadi antara penduduk Yatsrib dengan para kafilah tersebut.

Pada tahun 120 sebelum Hijrah ( 459 Masehi ) terjadilah perang suku antara suku Aus melawan suku Khosroj yang sebenarnya disebabkan oleh tipu daya / adu domba kaum Yahudi. Keadaan Yatsrib yang tadinya damai aman dan makmur tersebut kemudian berubah menjadi daerah yang penuh kekacauan berkepanjangan.

Perubahan Ystrib mulai nampak kembali pada tahun ke 3 Sebelum Hijrah ( 576Masehi ) pada saat musim haji, dimana beberapa orang dari suku Khosroj menemui Rosululloh SAW dan kemudian Nabi mendakwahi mereka untuk memeluk agama Islam dan membacakan beberapa ayat al Quran. Pada bulan Haji di tahun berikutnya 10 orang dari suku Khosroj dan 2 orang dari suku Aus menemui Rosululloh Saw dan menyatakan keislaman mereka dan membaiat Rosululloh BAIAT AQOBAH pertama. Rosululloh kemudian mengutus Musa ibnu Umair untuk berdakwah di Yatsrib. Pada musim Haji berikutnya, 70 orang dari Yatsrib menemui Rosululloh dan membaiat Beliau BAIAT AQOBAH kedua. Mereka juga mengajak Rosululloh dan pengikutnya di Mekah untuk Hijrah ke Yatsrib dan membentuk masyarakat Islam Pertama. Akhirnya Rosululloh san Abubakar hijrah ke Yastrib setelah sebelumnya didahului oleh para pengikut Rosululloh. Hijrahnya Rosululloh tersebut menjadi tonggak perubahan di Yatsrib. Sejak saat itulah Yatsrib berganti nama menjadi Madinah, yang juga memiliki julukan lain yakni Toyyibah, Tobah, Addab dan lain – lain yang menunjukkan keagungan. Berubahlah keyakinan masyarakat Madinah dari penyembahan berhala menjadi penyembahan ala Islam. Masjid Nabawi pun menjadi pusat pendidikan Islam.

Pada tahun 2 Hijriyah, terjadilah perang Badar yang kemudian disusul dengan perang UHUD ( perang di bawah gunung Uhud ) pada bulan Syawal tahun ke 3 Hijriyah ( 582 Masehi ). Pada tahun ke 5 Hijriyah ( 584 Masehi ), suku Qurais bersekutu dengan kaum kafir lainnya menyerang Madinah. Rosululloh bersama masyarakat muslimin Madinah membuat parit – parit untuk menangkal serangan Qurais tersebut, sehingga perang tersebut kemudian terkenal dengan nama perang Khandak atau Parit yang terjadi bersamaan dengan adanya badai gurun. Suku Qurais yang membokong dari belakang pun mengalami kekalahan.

Pada masa Rosululloh dan Khulafaurrosyidin itulah Madinah menjadi Ibukota Negara Islam. Rosululloh kemudian mengadakan perluasan Masjid Nabawi pada tahun ke 7 hijriyah ( 586 Masehi ). Pada tahun ke 17 Hijriyah ( 596 Masehi ), khalifah Umar bin Khatab melakukan perluasan kembali dengan mempertahankan bentuk aslinya. Pada tahun ke 30 Hijriyah ( 609 Masehi ), khalifah Utsman Bin Afan merenovasi masjid Nabawi dengan batu Berukir. Ustman juga membuat pasukan – pasukan yang ditugaskan untuk dakwah dan membuka wilayah, sehingga Islam kemudian berkembang pesat di luar jazirah Arab.

Pada masa Romawi, pusat pemerintahan Islam dialihkan dari Madinah ke Damaskus hingga pertengahan dinasti Abassiyah.

Perluasan Masjid Nabawi kembali dilakukan pada masa Khalifah Al Mahdi dengan mempertahankan bentuk lama.

Mulai abad ke 3 Hijriyah ( tahun ke 300 Hijriyah / 879 Masehi ) terjadilah kemerosotan di berbagai bidang di Madinah. Banyak terjadi perampasan dan perampokan kafilah dagang sehingga lambat laun kota Madinah menyusut luasnya dan kembali seperti ketika tahun pertama berdiri ( awal Hijriyah ). Hal ini disebabkan karena banyak masyarakat yang meninggalkan kota akibat keadaan yang tidak baik tersebut.

Pada tahun 578 hijriyah ( 1157 ) ketika terjadi perang Salib, seorang pemimpin tentara salib yang bernama Arnold mendaratkan pasukannya melewati jalur laut Merah kemudian menuju Yambuk dan mengarah ke Madinah. Tujuannya tidak lain untuk menyerang Madinah. Aksi tersebut dapat dipatahkan secara telak oleh Salahuddin Al Ayubi bersama pasukannya yang menghadangnya di sebuah wilayah yang jauhnya satu malam perjalanan dari Madinah.

Pada Tanggal 5 Rajab 567 Hijriyah ( 1146 Masehi ) sebuah gunung berapi di sebelah timur kota Madinah meletus dan memuntahkan lahar panas ke arah Barat menuju kota Madinah, akan tetapi sebelum sampai kota Madinah, alur lahar tersebut berbelok kearah utara. Selama tiga bulan lamanya lahar panas mengalir dari gunung tersebut.

Pada tahun 866 Hijriyah ( 1445 Masehi ) Masjid Nabawi terbakar oleh sambaran petir. Hampir semua bagian dari Masjid Nabawi hangus. Salah satu bagian yang selamat adalah kamar Rosululloh. Atas bantuan dana dari Sultan Qotbai’ Bangunan Masjid Nabawi diperbaiki, serta dibangun pula tempat – tempat sekolah dan mengaji.

Mulai abad ke 10 H ( mulai tahun 1000 Masehi ) Madinah dikuasai oleh dinasti Utsmani selama 4 abad ( 400 tahun ). Selama periode tersebut terjadilah berbagai perubahan di segala bidang kehidupan di Madinah. Salah satunya adalah pembuatan pagar kota dan benteng yang kokoh, juga dibentuknya satuan – satuan pasukan keamanan.

Setelah masa tersebut, stabilitas kota Madinah kembali melemah yang disebabkan adanya perebutan kekuasaan antarpanglima pemerintahan. Perampokan – perampokan kafilah dagang terjadi kembali. Kekacauan pun kembali terjadi baik di dalam kota Madinah maupun di pelosok – pelosok Madinah.

Pada tahun 1220 Hijriyah ( 1799 Masehi ) penduduk Madinah memberikan baiat kepada para Dai pembawa perbaikan dan kemudian Madinah menggabungkan diri dengan kerajaan Saudi pertama. Selama 6 tahun rakyat Madinah merasakan perbaikan ketentraman dan keamanan.

Setelah 6 tahun berlangsung, Tulan Basya’ bin Muh. Ali Basya’ berhasil merebut madinah dan mengembalikannya kepada kekuasaan Utsmaniyah.

Pada tahun 1265 hijriyah ( 1844 Masehi ) dimulailah renovasi Masjid Nabawi. Proses renovasi tersebut berlangsung selama 12 tahun.

Pada tahun 1318 Hijriyah ( 1897 Masehi ) kota Madinah mulai terhubung dengan Istambul dan negara - negara lainnya melalui stasiun radio yang besar dan kuat dibangun di Madinah.

Pada tahun 1326 Hijriyah ( 1905 Masehi ) dibangunlah jalur Rel Kereta Api yang membentang dari Damaskus hingga Madinah. Dengan adanya perkembangan – perkembangan tersebut, Madinah berkembang pesat penduduknya, dari jumlah awal yang hanya sekitar 10000 jiwa hingga mencapai angka 80.000 Jiwa. Kehidupan sosial, perekonomian dan perdagangan kembali bangkit.

Tahun 1334 Hijriyah (1931 Masehi ) adalah tahun terberat bagi Madinah. Terjadinya perang Dunia I berefek juga terhadap stabilitas kota Madinah. Pemimpin pasukan Utsmaniah, Ali Basya membangun benteng – benteng pertahanan di Madinah untuk mempertahankan kota dari serangan Assyarif Husein dan pasukannya. Rakyat dipaksa meninggalkan / mengosongkan kota Madinah. Assyarif Husein dan pasukannya kemudian memblokade rakyat yang tetap tinggal di dalam Madinah hingga 3 tahun lamanya yang kemudian mengakibatkan terjadinya kelaparan dan kekurangan makanan di Madinah. Keadaan tersebut berhenti ketika runtuhnya kekuasaan Utsmani dan keluarnya pasukan dari Madinah pada tahun 1337 Hijriyah ( 1916 Masehi ). Selanjutnya tampuk kepemimpinan Madinah diserahkan kepada Bani Hasyim. Sejak itu Madinah kembali menjadi kota yang kecil yang berpenduduk sekitar 15000 jiwa saja.

Kekuasaan Madinah kembali melemah ketika terjadinya bentrok antara Bani Hasyim dengan kerajaan Saudi. Akhirnya diambillah penyelesaian dengan jalan Attauhid ( penyatuan ) dengan cara menyatukan Madinah dengan Saudi menjadi satu kerajaan yang besar dan kuat oleh Raja abdul Aziz bin Abdurrahman Ali Su’ud. Pada tanggal 19 Jumadil Ula 1344 Hijriyah ( 1923 Masehi ), utusan dari Madinah, berbaiat pada Raja Abdul Aziz.

Pada tanggal 23 Rabiul Awwal 1345 hijriyah ( 1924 Masehi ) Raja Abdul Aziz berkunjung ke Madinah dan bertatapmuka dengan pemuka – pemuka Madinah dalam rangka membahas pengembangan Saudi yang termasuk di dalamnya adalah wilayah Madinah.

Pada tahun 1370 Hijriyah ( 1949 Masehi ) dimulailah pembangunan saudi, dimana di dalamnya termasuk juga perluasan wilayah kota Madinah dan Masjid Nabawi. Pemerintah membebaskan tanah disekitar Masjid Nabawi. Termasuk juga wilayah serambi Utara Masjid Nabawi dihancurkan untuk kemudian dipugar menjadi bangunan yang luas dan megah.

Pada tahun 1381 Hijriyah ( 1960 Masehi ) berdirilah Universitas Madinah yang menerima para siswa dari berbagai penjuru dunia. Berkembang juga lembaga – lembaga pendidikan islam lainnya dibawah Universitas Muh. Ibnu Suud dan Universitas Raja Abdul Aziz. Terbit juga Majalah Islam al Manhal dan Madinah Al Munawwaroh.

Pengembangan besar – besaran kerajaan Saudi termasuk juga masjid Nabawi terus berlangsung. Pada tanggal 15 Safar 1405 Hijriyah ( 1984 Masehi ) dimulailah pengembangan Madinah dan Masjid Nabawi dengan peletakan batu pertama. Pengawasan dilakukan oleh Gubernur Madinah Pangeran Abdul Majid bin Abdul Aziz. Pembangunan selama 9 tahun berlangsung tanpa henti tanpa mengganggu aktifitas ibadah umat Islam di masjid Nabawi.

Pada tahun 1414 Hijriyah ( 1993 Masehi ) pembangunan dan perluasan Masjid Nabawi menjadi 73000 meter persegi pun selesai dan kemudian diresmikan oleh raja Fahat bin Abdul Aziz. 7 km dari masjid Nabawi pun dibangun mesin pendingin raksasa yang disalurkan melalui pipa – pipa raksasa menuju Masjid Nabawi untuk menciptakan kesejukan para peziarah. Sedangkan lantai dasar masjid digunakan untuk tempat parkir kendaraan.

Tidak hanya Masjid Nabawi, masjid Kuba pun dihancurkan dan direnovasi menjadi masjid yang megah seluas 13500 meter persegi. Begitu juga dengan masjid Miqot yang dibangun seluas 90000 meter persegi.

Dibidang elektronika, dibangun juga Industri rekaman dan percetakan al Quran yang mencetak kitab al Quran dengan terjemahan dalam berbagai bahasa, dan dalam bentuk kaset, video dan piringan hitam dalam jumlah yang sangat banyak hingga ratusan juta mushaf .

Demikian riwayat singkat sejarah Madinah dari Masa ke masa semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Semoga Allah Swt selalu melimpahkan Rahmat keselamatan dan hidayahNya kepada Rosululloh Saw, wa’ala alihi fil jasad wal batin ngindal Ruh.