Kamis, 21 April 2011

Kabupaten Kebumen Sejarah Gelap, Mahapatih GajahMada, Ki Ageng Pemanahan, Sultan Agung Hanyakrakusuma, Amangkurat 1, Pangeran Diponegoro, Kebumen

SISI GELAP SEJARAH KEBUMEN
KABUPATEN KEBUMEN MASA LALU
KERAJAAN KEDIRI SITUS SENDANG KALASAN PANJER
MAHA PATIH GAJAH MADA DAN SITUS PAMOKSHANNYA DI PANJER
KI AGENG PEMANAHAN DAN PANJER
SULTAN AGUNG HANYAKRAKUSUMA DAN PANJER
SULTAN AMANGKURAT 1 DAN PANJER
TUMENGGUNG KALAPAAKING / KOLOPAKING
PANGERAN DIPONEGORO DAN PANJER
KELURAHAN KEBUMEN
PANGERAN BUMIDIRJO
KODIM 0709 KEBUMEN
PANCASILA MENDUNIA 2013

JUMAT KLIWON, 22 APRIL 2011
OLEH RAVIE ANANDA

Panjer adalah nama sebuah Desa/ Kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Nama Panjer sendiri telah lama dikenal, jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “ Nyaris hilangnya riwayat Panjer Kuno baik dalam masyarakat di wilayah tersebut maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada umumnya ”. Kurangnya perhatian dan pemeliharaan terhadap situs bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di daerah itu tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal bakal berdirinya Kabupaten Kebumen yang telah dikenal sejak 1000 tahun yang lalu sebagai salah satu wilayah yang diperhitungkan dalam ranah nasional. Beberapa Raja dan Tokoh Besar Nusantara pun menggunakan tempat ini sebagai pengungsian, penyepian, basis pertahanan militer bahkan Pamoksan mereka (Maha Patih Gajah Mada Moksha di tempat ini). Sebagai desa yang kini berbentuk kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.

Panjer dari Masa ke Masa
A. Panjer zaman Kerajaan Kediri
Wilayah Panjer sebagai sebuah kadipaten/ Kerajaan telah dikenal dalam ranah nasional pada masa kerajaaan Kediri. Dalam Kitab “Babad Kedhiri“, disebutkan:
“ Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika Adipati Panjer sepisanan mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas. Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake nesune Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati Panjer. Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur njegur ing Sendhang Kalasan. Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer ”.
B. Panjer sebagai Tempat Mokhsanya Maha Patih Gajah Mada.
Maha Patih Gajah Mada adalah salah satu tokoh termasyhur pada zaman Kerajaan Majapahit yang telah berhasil menyatukan Nusantara dengan Sumpah Palapanya. Dari berbagai literatur yang ada belum pernah didapati mengenai riwayat lengkap mengenai kelahirannya, keluarga dan kematiannya. Sosok Gajah Mada hingga kini menjadi suatu misteri bagi sejarah Nusantara. Akhir – akhir ini banyak bermunculan klaim terhadap lokasi kelahiran dari Maha Patih Gajah Mada, akan tetapi mengenai Pamokshannya ( tempat bertapanya Beliau hingga hilang dengan raganya seperti tradisi tokoh – tokoh besar Jawa jaman dahulu ) tidak pernah diketahui. Satu – satunya situs Pamokshan Gajah Mada yang sejak dahulu telah diketahui masyarakat pada zaman Mataram Islam adalah di Kabupaten Panjer. Situs tersebut kemudian dihilangkan bersama kompleks makam kuno yang ada di sana oleh Belanda dengan mengubahnya menjadi pabrik minyak kelapa Sari Nabati. Hal ini senasib dengan situs kerajaan Kediri yang kemudian diubah Belanda menjadi pabrik gula Mamenang Kediri. Pernah muncul klaim mengenai pamokshan Gajah Mada di suatu gua di balik sebuah air terjun di Jawa Timur. Klaim tersebut berdasar pada pemahaman sekelompok orang terhadap Gajah Mada yang disamakan dengan Patih Udara alias Patih Tunggul Maniq ( Patih Majapahit sebelum Gajah Mada ). Tentunya dasar landasan tersebut sangat tidak tepat jika mengacu pada literatur Dr. J. Brandes yang diturun dari kitab – kitab babad Jawa yang berhasil ditemukan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Literatur Dr. J. Brandes menyebutkan sebagai berikut :
“ Kyai Patih Udara als kluizenaar Tunggulmaniq op den berg Mahameru; zijne 2 plichtkinderer : Ki Tanpa Una en Ni ( of Dewi ) Tanpa Uni de door Siung Wanara in de Karawang rivier geworpen vorst en vorstin van Pajajaran. Rijksbestuurdeerna Patih Udara vertrek : Patih Logender, diens broer, gehuwd met eene dochter van den Adipati van Gending……
Brawijaya – Patih Wirun
Bra Kumara – Patih Wahas ( zoon van Wirun ) en daarna Ujungsabata.
Ardiwijaya – Patih Jayasena ( zoon van Wahas, dipati van Kadiri)
Adaningkung of Kala Amisani – Patih Udara
Kencana Wungu – Patih Logender
Mertawijaya – Patih Gajah Mada
Angkawijaya – Patih Gajah Mada
……….

Dari uraian di atas sangat jelas bahwa Gajah Mada bukanlah Tunggul Maniq, sehingga Pamoksan Tunggul Maniq yang diklaim di Jawa Timur tersebut bukanlah Pamokshan Gajah Mada. Semakin kuat kiranya situs Pamoksan Gajah Mada yang berada di desa Panjer sebagai situs asli mengingat desa tersebut sejak jaman dahulu selalu menjadi tempat tokoh – tokoh besar Jawa mengungsi, bersemadhi, bersembunyi dan sebagai basis kekuatan militer serta pemerintahan darurat ketika kraton asli direbut oleh pemberontak.
C. Panjer Zaman Mataram Islam.
Mataram Islam adalah Kerajaan Mataram periode ke dua yang pada mulanya merupakan sebuah hutan lebat yang dikenal sebagai Alas Mentaok, wujud hadiah dari Hadiwijaya (Sultan Demak terakhir) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam membunuh Arya Penangsang yang merupakan saingan besar Hadiwijaya dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Ki Ageng Pemanahan kemudian membabad hutan lebat tersebut dan menjadikannya sebuah desa yang diberinya nama Mataram. Alas Mentaok itu sendiri sebenarnya adalah bekas kerajaan Mataram Kuno yang runtuh sekitar tahun 929 M yang kemudian tidak terurus dan akhirnya dipenuhi oleh pepohonan lebat hingga menjadi sebuah hutan. Alas Mentaok mulai dibabad oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani sekitar tahun 1556 M. Ki Ageng Pemanahan memimpin desa Mataram hingga Ia wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sebagai pengganti dipilihlah putranya yang bernama Sutawijaya/ Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama, dimakamkan di Kotagedhe).

Panembahan Senopati memerintah tahun 1587 – 1601 M. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang/ Sultan Agung Hanyakrawati (wafat tahun 1613 M dimakamkan di Kotagedhe). Sultan Agung Hanyakrawati digantikan putranya yang bernama Raden Mas Rangsang yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma (memerintah tahun 1613 – 1646 M). Sultan Agung Hanyakrakusuma digantikan oleh Putranya yang bernama Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I memerintah pada tahun 1646 – 1677 M).
Di dalam “ Kidung Kejayaan Mataram Bait 04 “ (terjemahan Bahasa Indonesia) disebutkan secara Implisit mengenai keberadaan Panjer.
“ Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gedhe ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gedhe Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gedhe bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Dimana rombongan dijamu oleh Ki Gedhe Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, di sana mendirikan Kota Gedhe”

Ki Gedhe Karang Lo yang dimaksud dalam bait di atas adalah pemimpin daerah Karang Lo (kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karanggayam). Ini artinya sebelum berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun, Karang Lo yang dahulunya merupakan bagian wilayah dari Kadipaten/ Kabupaten Panjer telah dikenal dan diperhitungkan dalam ranah pemerintahan kerajaan pada waktu itu (Demak dan Pajang).

Teritorial Panjer Masa Lampau
Kerajaan Mataram Islam mengenal sistem pembagian wilayah berdasarkan jauh - dekat dan tinggi - rendahnya suatu tempat, sehingga pada saat itu dikenallah beberapa pembagian wilayah kerajaan yakni:
1. Negara Agung
2. Kuta Negara
3. Manca Negara
4. Daerah Brang/ Sabrang Wetan
5. Daerah Brang/ Sabrang Kulon.

Masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah masa keemasan Mataram. Ia memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran. Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens (Ia mengunjungi Mataram lima kali pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma) disebutkan bahwa:
“ Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat, kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orang – orang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan (padi) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki Suwarno “.
Panjer termasuk dalam katagori daerah Mancanegara Bang/ Brang/ Sabrang Kulon. Jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya di daerah Karang Lo/ wilayah Panjer Gunung (kini masuk dalam wilayah kecamatan Karanggayam), sudah terdapat penguasa kademangan di bawah Mataram (masa pemerintahan Panembahan Senopati sekitar tahun 1587 M). Di daerah tersebut, cucu Panembahan Senopati yang bernama Ki Maduseno (putra dari Kanjeng Ratu Pembayun (salah satu putri Panembahan Senopati) dengan Ki Ageng Mangir VI) dibesarkan. Ki Maduseno menikah dengan Dewi Majati dan kemudian berputra Ki Bagus Badranala (Bodronolo; makam di desa Karangkembang; dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung). Ki Badranala adalah murid Sunan Geseng dari Gunung Geyong (Sadang Kebumen). Ia mempunyai peran yang besar dalam membantu perjuangan Mataram melawan Batavia pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ki Badranala yang mempunyai jiwa nasionalis tinggi, membantu Sultan Agung dengan menyediakan lokasi untuk lumbung dan persediaan pangan dengan cara membelinya dari rakyat desa. Pada tahun 1627 M prajurit Mataram di bawah pimpinan Ki Suwarno mencari daerah lumbung padi untuk kepentingan logistik. Pasukan Mataram berdatangan ke lumbung padi milik Ki Badranala dan selanjutnya daerah tersebut secara resmi dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan Mataram. Sebagai Bupati Panjer, diangkatlah Ki Suwarno, dimana tugasnya mengurusi semua kepentingan logistik bagi prajurit Mataram. Karier militer Ki Badranala sendiri dimulai dengan menjadi prajurit pengawal pangan dan selanjutnya Ia diangkat menjadi Senopati dalam penyerangan ke Batavia.

Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda, dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di Panjer (lokasi tersebut berada di dalam kompleks daerah yang kini menjadi Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang mempunyai luas sekitar 4 Ha). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram yang ke tiga dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 M dan dimakamkan di Imogiri. Selanjutnya, pada masa Sultan Amangkurat I, Panjer berubah menjadi sebuah desa yang tidak sesibuk ketika masih dijadikan pusat lumbung padi Mataram pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Pembagian Wilayah Panjer
Panjer masa lalu dibagi dalam dua wilayah yaitu Panjer Roma (Panjer Lembah) dan Panjer Gunung. Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe Panjer Roma I atas jasanya menangkal serangan Belanda yang mendarat di pantai Petanahan. Putra tertua Ki Badranala yang bernama Ki Kertasuta bertugas sebagai Demang di wilayah Panjer Gunung, sedangkan adiknya yang bernama Ki Hastrasuta membantu ayahnya (Ki Badranala) di Panjer Roma. Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih Bupati Panjer, Ki Suwarno. Ia dinikahkan dengan adik ipar Ki Suwarno dan berputra Ki Kertadipa. Ki Badranala menyerahkan jabatan Ki Gedhe Panjer Roma kepada anaknya (Ki Hastrasuta) yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja / Ki Bumi ( paman Amangkurat I yang mengungsi ke Panjer sebab tidak sepaham dengan Sultan Amangkurat I ). Tanah tersebut terletak di sebelah Timur Sungai Luk Ula dengan panjang kurang lebih 3 Pal ke arah Selatan dan lebar setengah ( ½ ) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian membuka tanah ( trukah ) yang masih berupa hutan tersebut dan menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan (berasal dari kata dasar Trukah yang berarti memulai). Seiring berjalannya waktu nama desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja (sekarang masuk dalam wilayah kelurahan Kebumen). Riwayat desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa / Kelurahan Kebumen hingga kini berada di daerah tersebut.
Kutipan dari “ Babad Kebumen “ menyebutkan:
“ Kanjeng Pangeran Bumidirdja murinani sanget sedanipun Pangeran Pekik, sirna kasabaranipun nggalih, punapadene mboten kekilapan bilih Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu. Puntonipun nggalih, Kanjeng Pangeran Bumidirdja sumedya lolos saking praja sarta nglugas raga nilar kaluhuran, kawibawan tuwin kamulyan.
Tindakipun Sang Pangeran sekaliyan garwa, kaderekaken abdi tetiga ingkang kinasih. Gancaring cariyos tindakipun wau sampun dumugi tanah Panjer ing sacelaking lepen Luk Ula. Ing ngriku pasitenipun sae lan waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan.
Wana tarabatan sacelaking lepen Luk Ula wau lajeng kabukak kadadosaken pasabinan lan pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun degi padaleman…..
Kanjeng Pangeran Bumidirdja lajeng dhedhepok wonten ing ngriku sarta karsa mbucal asma lan sesebutanipun, lajeng gantos nama Kyai Bumi…..
Sarehning ingkang cikal bakal ing ngriku nama Kyai Bumi, mila ing ngriku lajeng kanamakaken dhusun Kabumen, lami – lami mingsed mungel Kebumen.
Dhusun Kebumen tutrukanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut sapinggiring lepen Luk Ula udakawis sampun wonten 3 pal, dene alangipun mangetan udakawis wonten ½ pal ”.

Dalam Babad Kebumen memang tidak terdapat cerita mengenai desa Trukahan, akan tetapi jika dilihat dari segi Logika Historis yang dimaksud dengan Desa / Dhusun Kabumian adalah Trukahan. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan Logika Historis antara lain :
1. Wilayah dan nama Trukahan sejak pra kemerdekaan hingga kini masih tetap ada, dimana Balai Desa / Kelurahan Kebumen dan Kecamatan Kebumen berada dalam wilayah tersebut ( sedangkan Pendopo Kabupaten masuk dalam wilayah Kutosari ).
2. Makam / Petilasan Ki Singa Patra yang sebetulnya merupakan Pamokshan, sebagai situs yang hingga kini masih terawat dan diziarahi baik oleh warga setempat maupun dari luar Kebumen ( meskipun belum diperhatikan oleh Pemerintah baik Kelurahan maupun Kabupaten ) adalah makam tertua yang ada di kompleks pemakaman Desa Kebumen. Singa Patra adalah sosok tokoh yang nyaris hilang riwayatnya, meskipun namanya jauh lebih dikenal oleh warga Kelurahan Kebumen sejak jaman dahulu kala dan diyakini sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Trukahan masa lampau ( bukan Ki Bumi ). Tokoh ini hidup lebih awal dibandingkan masa kedatangan Badranala, sebab Beliau ( Badranala ) yang hidup pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah pendatang di desa Panjer ( Lembah / Roma ). Beliau sendiri berasal dari daerah Karang Lo ( yang dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Sebagai seorang pendatang yang kemudian berdiam di Panjer Roma, Badranala memperistri Endang Patra Sari. Endang adalah sebutan kehormatan bagi perempuan Bangsawan. Hal ini bisa kita lihat pada situs pemakaman Ki Badranala di desa Karangkembang dimana terdapat beberapa makam yang menggunakan Klan / Marga Patra, dimulai dari Istri Badranala sendiri, hingga beberapa keturunannya.
3. Hilangnya babad Trukahan dan riwayat Ki Singa Patra dimungkinkan adanya kepentingan politik penguasa waktu itu. Terlebih riwayat Babad Kebumen baru diterbitkan pada tahun 1953 di Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat oleh R. Soemodidjojo ( seorang keturunan KP. Harya Cakraningrat / Kanjeng Raden Harya Hadipati Danureja ingkang kaping VI, Pepatih Dalem ing Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ), yang notabene bukan warga asli bahkan mungkin tidak pernah sama sekali tinggal di Panjer ataupun Trukahan / Kebumen. Dengan kata lain, warga Kelurahan Kebumen baru mengenal sosok Bumidirdja semenjak diterbitkannya riwayat Babad Kebumen yang kini lebih populer dengan adanya media Internet.
4. Kurun waktu Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma jelas lebih tua daripada Bumidirja. Sedangkan Ki Badranala yang kemudian bermukim di Panjer saat itu telah memperistri perempuan dari Klan Patra ( yang mengilhami nama sebuah Hotel di Kota Kebumen ).
5. Menurut “ Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional “ yang ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno ( Mantan Bupati Kebumen ) disebutkan bahwa Pangeran Bumidirdja membuka tanah hasil pemberian Ki Gedhe Panjer Roma II / Ki Hastrosuto ( anak Ki Badranala ). Riwayat ini pun tidak disebutkan dalam Babad Kebumen. Riwayat yang lebih terkenal sampai saat ini adalah riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo yang notabene bukan warga asli dan bahkan mungkin belum pernah tinggal di Kebumen, dimana diceritakan bahwa Kebumen berasal dari kata Ki Bumi yang merupakan nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi sungai Luk Ula, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.
6. Pasar Kebumen, pada awalnya berada di wilayah Trukahan, tepatnya di daerah yang kini menjadi kantor Kecamatan Kebumen hingga kemudian pindah ke daerah yang kini menjadi pasar Tumenggungan. Maka daerah di sekitar bekas pasar lama tersebut sampai sekarang masih bernama Pasar Pari dan Pasar Rabuk, karena memang lokasi pasar lama telah menggunakan sistem pengelompokan.
7. Adanya pendatang setelah dibukanya tanah / trukah seperti yang disebutkan dalam Babad Kebumen yang kemudian bermukim, juga bisa diperkirakan mendiami daerah yang kini bernama Dukuh. Hal ini dimungkinkan dengan sebutan nama Dukuh yang telah ada sejak lama.
Asal Mula Nama Tumenggung Kalapaking
Datangnya Pangeran Bumidirdja di Panjer, menimbulkan kekhawatiran Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena Pangeran Bumidirdja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan. Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan untuk meninggalkan Panjer dan tinggallah Ki Kertawangsa yang dipaksa untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe panjer Roma III. Dua Kekuasaan Panjer (Panjer Roma dan Panjer Gunung) membuktikan bahwa Panjer saat itu sebagai sebuah wilayah berskala luas sehingga dikategorikan dalam daerah Mancanegara Brang Kulon.

Pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram di Plered yang ketika itu diperintah oleh Sultan Amangkurat Agung (Amangkurat I). Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya, Sultan Amangkurat Agung dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil melarikan diri ke arah Barat. Dalam pelarian tersebut, Sultan Amangkurat Agung jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer (tepatnya pada tanggal 2 Juni 1677) yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe Panjer III. Sultan Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer III dengan air Kelapa Tua (Aking) karena pada waktu itu sangat sulit mencari kelapa muda. Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer III, kesehatan Sultan Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar kepada Ki Gedhe Panjer III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking I (Kolopaking I, sebagai jabatan Adipati Panjer I (1677 – 1710). Tumenggung Kalapaking I digantikan oleh putranya dan bergelar Tumenggung Kalapaking II (1710 – 1751), dilanjutkan oleh Tumenggung Kalapaking III (1751 – 1790) dan Tumenggung kalapaking IV (1790 – 1833 )). Setelah merasa pulih, Sultan Amangkurat Agung melanjutkan perjalannya menuju ke Barat, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan akhirnya Beliau wafat di desa Wanayasa (Kabupaten Banyumas) tepatnya pada tanggal 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, kematian Sultan Amangurat Agung dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas Rahmat (putranya sendiri yang menyertai Beliau dalam pelarian). Sesuai dengan wasiatnya, Beliau kemudian dimakamkan di daerah Tegal Arum (Tegal) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi. Sementara itu tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung hingga Kalapaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu antara Kalapaking IV dan Arungbinang IV yang berakhir dengan pembagian wilayah dimana Trah Kalapaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas, sedangkan Arungbinang tetap di Panjer. Suksesi inilah yang mengakibatkan kematian Kalapaking IV setelah peristiwa penyerbuan Kotaraja Panjer oleh Belanda yang bekerjasama dengan Arungbinang IV karena Kalapaking IV mendukung Pangeran Diponegoro yang sebelumnya sempat menyusun kekuatan pasukan di daerah tersebut. Sejak pemerintahan Arungbinang IV inilah Panjer Roma dan Panjer Gunung digabung menjadi satu dengan nama Kebumen. Untuk memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian wilayah, Arungbinang IV mendirikan Pendopo Kabupaten baru yang kini menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun -alunnya. Adapun Pendopo Kabupaten lama / Kabupaten Panjer kemungkinan berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer, dengan memperhatikan tata kota yang masih ada ( seperti yang penulis paparkan dalam sub judul Metamorfosis Panjer ) dan luas wilayah Pabrik yang mencapai sekitar 4 Ha, serta adanya pohon – pohon Beringin tua yang dalam sistem Macapat digunakan sebagai simbol suatu pusat pemerintahan kota zaman kerajaan. Begitu juga dengan Tugu Lawet yang pada awalnya merupakan tempat berdirinya sebuah Pohon Beringin Kurung (yang kemudian ditebang dan dijadikan Tugu Lawet ), dimana di sebelah Utaranya adalah Kamar Bola (gedung olahraga, pertunjukan dan dansa bagi orang Belanda) serta lokasi pasar Kebumen lama yang pada awalnya berada di wilayah Trukahan ( pusat pasar rabuk berada di sebelah Timur Balai Desa Kebumen, pasar lama berada di sebelah Utara klenteng, sub pasar rabuk berada di sebelah Utara pasar lama, pasar pari / padi berada di sebelah Selatan klenteng dan pasar burung yang tadinya merupakan Gedung Bioskup Belanda sebelum dihancurkan dan kemudian didirikan gedung Bioskup Star lama di sebelah Timur Tugu Lawet ( sumber : wawancara tokoh sepuh desa Kebumen )), semakin menguatkan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen tempo dulu adalah di desa Panjer dan Trukahan. Hal ini sesuai juga dengan kurun waktu berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen yang didirikan oleh KH. Imanadi pada masa pemerintahan Arungbinang IV (setelah masa Diponegoro) yang membuktikan bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen dan Masjid Agung Kauman di wilayah Kutosari merupakan pindahan dari pusat kota lama di Panjer.

D. Panjer sebagai Tempat Persembunyian, Bersemadhi dan Penyusunan Strategi Perang Pangeran Diponegoro

Pecahnya perang Diponegoro pada tanggal 20 juli 1825 meluas sampai ke wilayah Kedu, Bagelen, Banyumas, Tegal dan Pekalongan. Pada tanggal 21 Juli 1826 datanglah utusan Pangeran Diponegoro ke Kotaraja Kabupaten Panjer ( lokasi Kotaraja tersebut kini berada di kompleks eks pabrik minyak kelapa Sari Nabati Panjer, sedangkan lokasi Kodim 0709 Kebumen dahulunya dinamakan Kebun Raja atau Taman Raja karena disitulah taman/kebun Kabupaten Panjer berada). Utusan Pangeran Diponogoro tersebut bernama Senopati Sura Mataram dan Ki Kertodrono (Adipati Sigaluh Karanggayam). Kedatangan mereka di Panjer Roma disambut oleh Tumenggung Kalapaking IV, Senopati Somawijaya dan Banaspati Brata Jayamenggala (nama asli Mbah Jamenggala yang akhirnya dihukum gantung oleh Belanda di tengah alun – alun Kebumen karena mendukung Pangeran Diponegoro). Bersamaan dengan utusan tersebut, datang pula tamu dari Kradenan yaitu Ki Cakranegara. Mereka kemudian mengadakan perundingan dengan keputusan untuk membantu Perjuangan Pangeran Diponegoro yang sedang melawan Belanda. Adipati Panjer Roma ( Tumenggung Kalapaking IV ) bertugas menyediakan logistik pangan, dan persenjataan untuk para prajurit Panjer Roma yang dipimpin oleh Senopati Gamawijaya.
Pada tanggal 19 November 1826 terjadi perang besar di Purworejo antara Belanda melawan Pangeran Diponegoro yang pada saat itu dibantu oleh prajurit Banyumas. Dalam perang tersebut Pangeran Diponegoro jatuh sakit sehingga pasukan Banyumas mundur dan bersembunyi di benteng Sokawarna. Pangeran Diponegoro sendiri bersembunyi di sebuah gua selama beberapa hari hingga pulih. Setelah sembuh dari sakitnya, Pangeran Diponegoro segera berangkat ke Kotaraja Panjer untuk menyusun strategi dan kekuatan bersama Tumenggung Kalapaking IV. di sana pulalah Beliau selama 3 hari bersemadhi di kompleks makam kuno dan Pamokshan Maha Patih Gajah Mada yang dari dahulu telah menjadi salah satu tempat semadi para tokoh – tokoh Mataram ( Lokasi tempat pertemuan dan peristirahatan sementara Pangeran Diponegoro itu kini menjadi taman kanak – kanak PMK Sari Nabati. Di tempat itu pula lah kuda tunggangan Beliau beristirahat sementara Pangeran Diponegoro bersemadhi di Pamokshan Maha Patih Gajah Mada yang kini terbengkalai, bahkan dijadikan gudang kursi – kursi rongsokan oleh pengelolanya).

Keberadaan Pangeran Diponegoro di Kotaraja Panjer ternyata tercium juga oleh Belanda. Beliau berhasil meloloskan diri dari Kotaraja Panjer sebelum daerah tersebut diserbu oleh Belanda yang bekerjasama dengan Adipati Arungbinang IV. Penyerbuan terhadap Kotaraja Panjer itu sendiri dilakukan secara besar – besaran dari tiga jurusan ( dari arah timur, selatan, dan barat )yang mengakibatkan tewasnya Tumenggung Kalapaking IV akibat terluka cukup parah dalam pertempuran tersebut.
Metamorfosis Historis Panjer
Seiring berjalannya waktu dan berkuasanya Belanda di Indonesia, Panjer juga tidak luput dari kekuasaan Belanda. Panjer tetap dijadikan basis pemerintahan oleh Pemerintah Belanda karena lokasinya yang sangat strategis ( meskipun sejarah masa lalu itu telah hilang ). Hal ini dapat kita lihat dari sisi genetik historisnya dimana Panjer sampai saat ini adalah suatu desa / kelurahan yang lengkap dengan fasilitas – fasilitas yang dibangun oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan, seperti: Stasiun Kereta Api, Rumah Sakit ( dahulu dikenal dengan nama Sendeng; berasal dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara pertolongan kesehatan ), Gedung Pertunjukan, Pertahanan Militer, Perumahan Belanda yang lebih dikenal dengan nama KONGSEN ( berasal dari kata Kongsi ), Taman Kanak – Kanak yang dahulunya merupakan tempat pendidikan dan bermain bagi anak – anak para Pejabat Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, serta Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( yang hingga kini menjadi milik Perusda Propinsi Jateng yang tutup sekitar tahun 1985 ). Pergantian kekuasaan sejak zaman Mataram Islam, Kolonial Belanda, hingga Pemerintahan NKRI ternyata tidak mempengaruhi perubahan desa Panjer dari segi Substansi dan Genetik Historis. Hal ini dapat kita lihat dengan sebuah pembanding sebagai berikut :
Panjer Zaman Kediri
Pada saat itu Panjer telah dikenal sebagai sebuah Kadipaten yang besar dan ramai.

Panjer Zaman Majapahit
Maha Patih Gajah Mada yang konsisten dengan Sumpah Palapanya memilih mokhsa di tempat ini, jauh dari pusat kerajaan Majapahit di Trowulan.

Panjer Zaman Pajang
Ki Gedhe Karang lo yang menjamu Ki Ageng Pemanahan dan Rombongannya sebelum mendirikan Desa Mataram yang kemudian menjadi Kerajaan Mataram Islam membuktikan bahwa Panjer telah menjadi suatu daerah yang memiliki kedaulatan konvensional dalam rahan pemerintahan saat itu.

Panjer Zaman Sultan Agung
1. Sebagai Lumbung padi, Pusat Logistik serta basis militer Pasukan Mataram
2. Sebagai Kotaraja Kabupaten Panjer (yang tentunya telah memiliki kelengkapan fasilitas seperti kesehatan, transportasi, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain – lain meskipun masih bersifat sederhana)
3. Sebagai Basis Militer Mataram

Panjer Zaman Kolonial Balanda (kemudian diteruskan oleh Jepang)
1. Sebagai Pusat logistik yakni dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( seluas 4 Ha ).
2. Sebagai desa yang memiliki berbagai fasilitas seperti Transportasi ( dengan didirikannya stasiun ), Perumahan Belanda ( lebih dikenal dengan sebutan Kongsen lengkap dengan sarana dan prasarananya baik sarana pendidikan anak – anak, Kesehatan ( Zending / Sendeng ) gedung Pertunjukan ( Gedung Bioskup Gembira ), gedung olahraga dan aula yang terdapat di dalam lokasi pabrik, dan lain - lain.
3. Basis Militer Belanda

Panjer Zaman Kemerdekaan
1. Sebagai Pusat Logistik ; dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati oleh Belanda yang setelah tutup sekitar tahun 1985 kemudian beralih fungsi sebagai gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Yogyakarta; disewakan kepada pabrik rokok untuk menampung cengkeh ( sekitar tahun 1989 ), disewakan sebagai gudang penyimpanan bijih Plastik ( sekitar tahun 1990 ), disewakan sebagai gudang beras Bulog, disewakan sebagai lahan perkebunan semangka; disewakan sebagai kantor Pajak; disewakan sebagai tempat penyimpanan sementara alat – alat berat kesehatan RSU; Sebagai tempat penampungan sementara Kompor dan tabung gas dalam rangka program konversi gas pada tahun 2009.
2. Terdapatnya pusat transportasi Kereta Api (stasiun Kereta Api Kebumen)
3. Bertempatnya Markas TNI / Kodim Kebumen
4. Terdapatnya tempat pertunjukan Film (gedung Bioskop Gembira, yang kini telah dibangun dan dialihkan fungsi)
5. sebagai tempat RSUD Kebumen
6. Terdapatnya tempat pendidikan Taman Kanak - Kanak PMK Sari Nabati
7. Terdapatnya Lapangan Tenis dan Bulutangkis, serta menjadi tempat latihan Beladiri berbagai Perguruan yang ada di wilayah Kebumen (sekitar tahun 1990 an)
8. terdapatnya Perumahan Nabatiasa
9. Pernah didirikan pula sekolah SLTP/ MTS Sultan Agung
10. Berdiri pula PGSD sebagai cabang dari Universitas Sebelas Maret
11. dan lain – lain.

Dilihat dari fakta – fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Panjer dari masa ke masa tidak memiliki perubahan fungsi, hanya saja terus menyesuaikan dengan perkembangan peradaban dan budaya.

Perbaikan Situs Pamokshan dan Pertabatan
Setelah terkubur sejarahnya selama beberapa abad, akhirnya Situs Pamokshan Gajah Mada dan Pertabatan Panjer dihidupkan kembali dan dirawat oleh para pemuda dan tokoh masyarakat setempat. Bukti – bukti tertulis dari kitab – kitab dan babad – babad serta literatur yang ada pun telah dikumpulkan, disamping petunjuk yang diperoleh dari sasmita para leluhur yang menemui saat bertirakat sebelum kegiatan perbaikan situs tersebut dimulai. Pembersihan dan perbaikan situs dimulai pada hari selasa Kliwon tanggal 12 April 2011. Sejak saat itulah situs berharga di Panjer yang telah telah dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat akibat ketidaktahuan mereka itu kembali muncul. Situs yang dahulu kala menjadi salah satu Pancernya Panjer kembali muncul dari pengkebumiannya.
Bangsa Yang Besar adalah bangsa yang mengenal kepribadiannya serta selalu mengingat dan menghargai jasa para pendahulunya dengan mengenal dan menjaga sebaik mungkin sejarahnya, serta melestarikan budaya warisannya. Bangsa Yang Besar selalu menyimpan Rahasia Kejayaannya dalam Pekuburan Tulang Naga ( kebudayaan adalah kuburan “Rahasia Kejayaan” para leluhur ). Meski kebenaran yang hakiki tidak akan pernah bisa dipastikan, menjaga sejarah, kesenian dan budaya adalah wujud dari cinta tanah air dan bangsa. Semoga desa Panjer yang penuh sejarah tersebut segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan pihak – pihak yang terkait lainnya, dalam rangka menghidupkan kembali Kearifan Budaya Lokal. Situs Kerajaan Panjer Kuno yang senasib dengan situs kerajaan Kediri milik Prabu Jayabaya tersebut (kedua situs kerajaan tersebut dihapus jejaknya oleh VOC dengan diubah menjadi Pabrik : Pabrik Gula Mamenang untuk Situs Kediri dan Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati untuk Situs Panjer) sangat memungkinkan untuk dikembangkan dengan menjadikan puing – puing Pabrik Sari Nabati menjadi tempat wisata sejarah dan spiritual layaknya Benteng Vander Wijk Gombong yang pastinya akan menambah aset pariwisata dan pemasukan bagi Kabupaten Kebumen. Panjer yang menyimpan sejarah kebesaran masa lalu mungkin bisa dikebumikan dan dikuburkan riwayatnya akan tetapi Panjer sebagai tempat para leluhur bersemayam akan tetap abadi dayanya mendukung Jejer/ Lenggahnya Pancasila. Panjer yang mengandung makna Pancasila Jejer akan selalu ikut mendayai bangsa demi kembalinya wahyu Pancasila yang akan mendamaikan dunia. Semoga keluhuran Pancasila segera lenggah dan semoga semua yang menghalang – halangi murube daya kaluhuran Pancasila segera binengkas oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui daya alam dan para leluhur bangsa.

Salam Pancasila!

Buku Pengantar ini ditulis oleh :
R. Ravie Ananda, S. Pd.
Jln. Garuda 13 Kebumen Jawa - Tengah Indonesia

Selasa, 24 Agustus 2010

membongkar rahasia kubur para leluhur tanah dhawa NKRI

Membongkar Rahasia Kubur Para Leluhur Penguasa Tanah Dhawa NKRI
yang Nyaris Hilang dari Sejarah
Oleh Sayyid R. Ravie Ananda

Kebumen, Slasa Wage 23 Agustus 2010
Peninggalan para Leluhur Tanah Dhawa NKRI selain candi, pusaka, dan harta adalah karya sastra. Karya sastra Masa Lalu yang beraneka ragam selalu mempunyai maksud tersembunyi yang jarang sekali bisa ditangkap jika para pembaca saat ini hanya melihat dan mempelajari dari bentuk fisiknya saja, tanpa mempelajari pola kehidupan dan spiritual masa lalu Tanah Dhawa. Hal ini menimbulkan kesalahan tafsir dan bahkan hilangnya sejarah asli Tanah Dhawa. Belum lagi adanya bangsa pendatang yang sengaja mengubah babad asli demi kepentingan kekuasaannya di Tanah Dhawa yang sebelumnya telah misuwur ini. Mengapa para Leluhur kita selalu menaruh maksud tersembunyi dalam setiap karya sastra baik babad maupun kidung – kidungnya? Jawabnya adalah “ Karena Kesantunan Masa Lalu dimana sudah menjadi budaya bahwa mengungkapkan sesuatu secara langsung merupakan suatu hal yang tidak sopan “. Inilah faktor utama yang sebenarnya harus diperhatikan oleh para peneliti Sastra Jawa, sehingga mereka tidak hanya dituntut untuk ahli dalam hal baca tulis Jawa dan sastra Jawa Kuno saja, melainkan diperlukan juga kejelian dan pengetahuan yang luas serta nglakoni Jawane ( baik tradisinya, ilmunya, tirakatnya, maupun keyakinannya terhadap Tuhan dan kehidupan ).
Penulis akan berusaha mengupas sedikit Sejarah Tokoh Luhur kita yang nyaris hilang, bahkan ada di antaranya yang telah hilang sama sekali dari catatan sejarah Tanah Dhawa. Tokoh sejarah tersebut terdapat dalam Kidhungan Padanghyangan yang kini benar – benar hanya diketahui oleh mayoritas masyarakat Jawa dan para ahli sastranya sebagai suatu cerita nyata ( sesungguhnya tanpa memuat maksud yang sangat lain di dalamnya ) atau bahkan kemudian dijadikan suatu mantra tak berdasar untuk mengusir mahluk halus ( suatu hal yang klenik dan sangat menyedihkan ).
Semoga Yang Kuasa segera mengembalikan keluhuran bangsa ini
Semoga Para Leluhur berkenan penulis buka kesejatiannya

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN
Kidhungan Padanghyangan berarti nyanyian yang menceritakan para leluhur ( penguasa ; Padang berarti terang / menerangkan, Hyang ( an ) berarti Luhur / Keluhuran, menerangkan keluhuran ) , kidung ini sebenarnya memberitahukan dan menerangkan nama – nama penguasa di Jawa pada masa lampau beserta keluhurannya secara tersirat. Akan tetapi karena kehalusan sastra penulisnya yang menggunakan sandi / bahasa kiasan maka tokoh – tokoh yang disebutkan dalam kidung tersebut sampai saat ini hanya dianggap sebagai mahluk halus ( bukan tokoh manusia ). Sesungguhnya pada awal judul, oleh si penulis kidung telah disertakan kunci pemahaman akan tetapi karena sifatnya yang sangat halus yakni dengan menyebutkan mereka semua sebagai ratunya lelembut di berbagai daerah, akhirnya terciptalah pencitraan luar bahwa mereka juga termasuk lelembut. Tokoh – tokoh yang tercitra sebagi lelembut dalam kidung ini memang akhirnya tergolong sebagai Gaib ( Bangsa Halus ) dikarenakan mereka memilih jalan Moksha / Rijalulghaib / Nyiluman pada akhir hidupnya ( bukan mati meninggalkan raganya ), akan tetapi yang perlu diingat bahwa pada awalnya mereka adalah manusia linuwih, tokoh linuwih di daerah masing – masing yang tentunya tidak bisa terlepas dari balutan sejarah yang akhirnya kini pun hilang. Sejarah – sejarah yang telah hilang inilah yang mayoritas menyimpan bukti keagungan Tanah Dhawa NKRI masalalu dimana akhirnya ketika bagian – bagian dari kebudayaan yang hilang tersebut muncul, kemudian menjadi korban penyelewengan sejarah oleh para ahli yang berkuasa ( sebab kurangnya pemahaman mereka terhadap sisi non materi ). Maka terciptalah kejayaan sebuah wangsa Mataram Kuno ( sebab selalu dan selalu setiap ada penemuan situs, candi, dan yang lainnya yang sangat dimungkinkan semua itu berasal dari masa jauh sebelum masehi, semua dikebiri menjadi benda – benda Mataram Kuno ). Sangat tragis sekali tentunya. Sejarah Asli Tanah ini semakin terkubur.

KIDHUNGAN PADANGHYANGAN
Para ratuning lelembut ing nungsa Jawa
Kinidungake sinom
1. Apuranen sun angetang, lelembut sanungsa Jawi, kang rumeksa ing nagara, para ratuning dedemit, agung sawabe ugi, yen apal sadayanipun, apan dadya tetulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.
Maafkan aku menghitung lelembut ( sesuatu yang bersifat lembut / halus / rahasia / samar ) seluruh pulau Jawa yang berkuasa di Negara, para ratunya dedemit, besar dayanya juga, jika hafal semuanya, bisa dijadikan penolak, bisa juga untuk menunggu orang sakit, kayu angker tanah mengerikan jadi tawar ( Ravie Ananda )

2. Kang rumiyin ing bang wetan, Durganeluh Maospahit aran raja Bahureksa, iku ratuning dedemit, Balambangan winarni, awasta pun Balabatu, kang rumeksa Blambangan, Buta Locaya Kediri, pun Sikorep lelembut ing Panaraga.
Yang pertama di sebelah timur, Durganeluh Majapait bernama Raja Bahureksa, itu ratunya dedemit, Balambangan bermacam – macam, yang dikenal yaitu Balabatu yang menguasai Blambangan, Buta Locaya di Kediri, sedangkan Sikorep lelembut di Panaraga ( Ponorogo ) ( Ravie Ananda )

Buta Locaya adalah Patih dari Prabu Jayabaya yang pada masa hidupnya bernama Kyai Daha ( cikal bakal pendiri daerah Kediri ). Setelah mokshanya Prabu Jayabaya, Kyai Daha pun ikut moksha dan memilih menjadi semara bumi ( tidak sampuna jati ) dengan tujuan untuk menjaga tanah Kediri ( Ravie Ananda )

3. Sidakari ing Pacitan, Kaduwang si Klentingmungil, Endrayeksa ing Magetan, Jenggala si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi, Pananggungan Abur- abur, Sapujagad ing Jipang, Madiun si Kalaseksa, ingkang Prabuyekti aneng pasuruhan,
Sidakari di Pacita, Kaduwang si Klentingmungil, Endrayeksa di Magetan, Jenggala si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi ( Surabaya ), Pananggungan Abur – abur, Sapujagad di Jipang, Madiun si Kalaseksa, si Prabu sesungguhnya di Pasuruhan, ( Ravie Ananda )

4. Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi, Macan Guguh Garobogan, Kalajonggo, Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar Sang Kalakatung, Butakuda ing Rama, Kalangbretsi Sekargambir, Carub amor ingkang ana ing Lamongan,
Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggilingwesi, Macan Guguh Garobogan ( Grobogan ), Kalajonggo Singasari, Sarengat Barukuping, Balitar ( Blitar ) Sang Kalakatung (Betara Katong ), Butakuda di Rama, Kalangbretsi Sekargambir, Carub menyatu dengan yang ada di Lamongan,( Ravie Ananda )

5. Gurnita ing Puspalaya, si Lampuran Pilangputih, Kacokan aneng Balora, Gambiran Sang Kaladurgi, Kedunggede Nyi Jenggi, ing Babad Si Klewer, Lasem Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap ing Candi kahyanganira,
Gurnita di Puspalaya, si Lampuran Pilangputih, Kacokan di Balora ( Blora ), Gambiran Sang Kaladurgi, Kedunggede Nyi Jenggi, di Babad Si Klewer, Lasem Kalaprahara, Sedayu Si Dindingmurti, Sidalangkap di Candi kratonnya, ( Ravie Ananda )

6. Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, ing Pajang Buta Salewah, manda – manda ing Matawis, Paleret Bojogdesi, Kutagedhe Nyai Panggung, ing Dabu Butakarta, ing Jombor Setan Kubarsi, Jurutaman kang rumeksa ing Tunjungbang,
Magelang Ki Samahita, Gegeseng Si Dadungawuk, di Pajang Buta Salewah, manda – manda di Matawis, Paleret ( Pleret ) Bojogdesi, Kutagedhe ( Kotagedhe ) Nyai Panggung, di Dabu Butakarta, di Jombor ( perbatasan Magelang – Jogja ) Setan Kubarsi, Jurutaman yang berkuasa di Tunjungbang, ( Ravie Ananda )

Dadung Awuk adalah nama tokoh manusia yang pernah hidup dan masih terukir sejarahnya di Purworejo ( kemungkinan tokoh ini juga mengambil pilihan moksha pada akhir hidupnya ) ( Ravie Ananda )
Setan Kubarsi juga merupakan seorang tokoh yang kemudian pusakanya terkenal dengan sebutan Keris Setan Kober ( Ravie Ananda )

7. Semarang Baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pacalang Ki Sembungyuda, Suwanda ing Sukawati, ing Jadem Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Giling ing Canggal, ing Kendal si Guntinggeni, Kaliwungu Kutuk Api kang rumeksa,
Semarang Baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pacalang Ki Sembungyuda, Suwanda di Sukawati, di Jadem Nyai Ragil, Jayalelana di Suruh, Buta Giling di Canggal, di Kendal si Guntinggeni, Kaliwungu Kutuk Api yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

8. Raradenok aneng Demak, si Batiti aneng Tubin, Juwal Payal ing Talsinga, Sukrama Guyang nenggani, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cemarasewu, Kaladadung Kantungan, si Asmara aneng Taji, Bagus Anom ing Kudus kahyanganira,
Raradenok di Demak, si Batiti di Tubin ( Tuban ), Juwal Payal di Talsinga, Sukrama Guyang yang menunggu, Trenggalek Ni Daruni, Tunjungseta Cemarasewu, Kaladadung Kantungan, si Asmara di Taji, Bagus Anom di Kudus Kahyanganira ( istananya ), ( Ravie Ananda )

Bagus Anom dimungkinkan sebagai nama salah satu tokoh yang berkuasa di Kudus pada masa lampau yakni saat Kudus masih menjadi kerajaan besar dimana kerajaan / kraton tersebut kemudian beralih fungsi menjadi Masjid dan Menara Kudus setelah diubah oleh Sunan Kudus.
9. Logenjeng aneng Juwana, Ngarambang si Bajulbali, si Lontar ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang aneng ing Matesih Jaran Panoleh aranipun. Si Lontir Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar – andir ing Jatimalang,
Logenjeng di Juwana, Ngarambang si Bajulbali, si Lontar di Wirasaba, Madura Buta Garigis, yang ada di Matesih Jaran Panoleh namanya. Si Lontir Pacangakan, Dalepih si Jatisari, Ondar – andir di Jatimalang ( Klirong Kebumen ), ( Ravie Ananda )

10. Sunan Lawu ing Arga Dilah, Tembayat si Malanggati, ing Taji si Cucukdandang, Gigirtasik aneng Wedi, Kali Opak winarni, Sanggabuwana aranipun, si Megek Pajagalan, Cengkorek ing Kalibening, Sendahrama Karangwelang kang rumeksa,
Sunan Lawu di Arga Dilah ( Agra Dumilah ), Tembayat si Malanggati, di Taji si Cucukdandang, Gigirtasik di Wedi, Kali Opak bermacam - macam, Sanggabuwana namanya, si Megek Pajagalan, Cengkorek di Kalibening ( Wonosobo ), Sendahrama Karangwelang yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

Sunan Lawu adalah Brawijaya terakhir ( Ayah Raden Patah ) yang kemudian Moksha di Gunung Lawu, dan dikenal dengan sebutan Sunan Lawu. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Pamoksan Brawijaya tersebut bukan di Arga Dumilah melainkan di Arga Dalem, akan tetapi sesungguhnya pamokshan Beliau ada di sebuah gua yang letaknya di balik sebuah air terjun yang terdapat di gunung Lawu ( Ravie Ananda )

11. Setan Karetek ing Kendal, Baleberan Sapuangin, Singapada ing Ngrangkudan, Pandansari ing Sarisig, kang ana Wanapeti Malangkarsa wastanipun, si Sanding ing Sawangan, Winasuhan Dudukwarih, Butatakang ingkang aneng Tegallayang,
Setan Karetek di Kendal, Baleberan Sapuangin, Singapada di Ngrangkudan, Pandansari di Sarisig, yang ada di Wanapeti ( Hutan Cemeti, atas Kawah Candradimuka Banjarnegara ) Malangkarsa julukannya, si Sanding di Sawangan ( Wonosobo ), Winasuhan Dudukwarih, Butatakang yang ada di Tegallayang ( Tegal ), ( Ravie Ananda )

Hutan Cemeti terkenal keangkerannya. Di hutan inilah sekitar tahun 2009 ditemukan Sembilan jenazah kering dan masih utuh ( sepertinya merupakan sebuah keluarga sebab salah satu diantaranya adalah jenazah anak kecil ) yang terbungkus kain kafan dimana setelah diteliti ternyata umurnya diperkirakan lebih dari 1000 tahun ( sayangnya ke Sembilan jenazah tersebut kini telah dimakamkan dan dibuat nisan dari baru serta dinamai tanpa dasar. Peringatan Khaul wali tersebut pun ( semua jenazah tersebut kemudian dianggap wali ) telah diadakan setelah penemuan itu. Berdasarkan sasmita yang penulis dapat, dilokasi ini masih banyak terdapat situs kuno yang terpendam antara lain bangunan bekas kolam, candi kecil dan beberapa perkakas gerabah dan senjata. ( Ravie Ananda )

12. Rara Segaluh ing Jenar, Wewasi Banjaransari, si Talengkung Watupura, si Pura ana ing Rukmi, Sapujengges Pujenggi ingkang aneng ing Lowano, Kala Ngadang ing Tuntang, Kalabancur Ni Bancuring, kang rumeksa sukune ardi Baita,
Rara Segaluh di Jenar, Wewasi Banjaransari, si Talengkung Watupura, si Pura ada di Rukmi, Sapujengges Pujenggi yang ada di Lowano ( Purworejo ), Kala Ngadang di Tuntang, Kalabancur Ni Bancuring, yang berkuasa di kaki gunung Prahu ( Dieng Wonosobo ), ( Ravie Ananda )

13. Gnawati Wana Siluman, Ragawati Ringinputih, Sapuranta ing Jakarta, Pureges Jajaran Singgih, Parusa awor angin, Palenti neng gunung Agung, Ki pulo ngawang – ngawang, Pralapa ardi Merapi, Ni Daluki kang aneng ardi Ungaran,
Gnawati Wana Siluman ( Alas Roban ), Ragawati Ringinputih, Sapuranta di Jakarta, Pureges Jajaran Singgih ( Pajajaran ), Parusa awor ( campur ) angin, Palenti di gunung Agung, Ki pulo ngawang – ngawang, Pralapa gunung Merapi, Ni Daluki yang ada di gunung Ungaran, ( Ravie Ananda )

14. Kang aneng Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Kasujayan Widamamrih, Widanangga Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, kang ana Kabareyan, Citranaya kang neggani, gunung Kendeng kang aran Aji Dipa.
Yang ada di Kayulandeyan Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang di Roban, Kasujayan Widamamrih, Widanangga Dalepah, Bakilung Kedungdarusung, yang ada di Kabareyan, Citranaya yang menunggu, gunung Kendeng yang disebut Aji Dipa ( Aji Saka ),

Bagus Karang ( Bagus Banteng ) dahulunya adalah seorang pemuda yang terkenal nakal, hingga akhirnya dia menjadi seorang siluman yang menguasai daerah Roban yang terkadang suka menggangu orang – orang dan kereta api ( jaman Belanda ) yang lewat di sekitar daerah tersebut ( tepatnya di wilayah perkebunan kopi / Randu / Coklat milik Pabrik Siluwok Sawangan Gringsing Pekalongan ) (Ravie Ananda )

15. Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng Pening, Ni Margi ing Butawiyah, Buta Gigil aneng Tegil, Barebes Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu, Pemalang Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni, Kaliwungu kang aran Setan Gorekan,
Arya Tiron di Lodaya, Sarpabangsa di Pening, Ni Margi di Butawiyah, Buta Gigil di Tegil (Tegal ), Barebes (Brebes ) Capingwarih, Winasuhan Dudukwatu, Pemalang Udan Gelap, Wiradesa Gunting Geni, Kaliwungu yang bernama Setan Gorekan, ( Ravie Ananda )

16. Ingkang aneng Surakarta / Salakerta, Rahaden Banjaransari ngalangkungan winarsita, awasta sang Kalasekti, Kartasura winarni, aran Raden Gunungsantun, Pengging Ki Kalamuka, Pratamanan Raja Putri, ing Kalaten awasta Sang Kaladremba,
Yang ada di Surakarta / Salakerta, Rahaden ( Raden ) Banjaransari yang lebih dikenal dengan nama Sang Kalasekti, Kartasura bermacam - macam, bernama Raden Gunungsantun, Pengging Ki Kalamuka, Pratamanan Raja Putri, di Kalaten (Klaten ) bernama Sang Kaladremba, ( Ravie Ananda )

17. Si Sendul aneng Gambiran, Pacabakan Dodolsawit, ing Atasangin punika R. Jengkala wastaneki, Tangsulrema Gandasuli, Widapeksa ing Delanggu, si Kluntung ing Jepara, Gambiranom aneng Taji, Kadilangu si Kecubung kang rumeksa,
Si Sendul di Gambiran, Pacabakan Dodolsawit, di Atasangin yaitu R. Jengkala namanya, Tangsulrema Gandasuli, Widapeksa di Delanggu, si Kluntung di Jepara, Gambiranom di Taji, Kadilangu si Kecubung yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

18. Teluk Braja ing Talacap, Jerambah Ni Buratwangi, ing Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan Geni, Demit ing Kandang Wesi Ki Panatas wastanipun, Tetela aneng Ngayah, Durgabahu Jeruk legi, Nusa brambang kang aran Ki Mangsadurga,
Teluk Braja di Talacap ( Cilacap ), Jerambah Ni Buratwangi, di Celong Ki Nayadipa, Praduli Ki Udan Geni, Demit di Kandang Wesi Ki Panatas namanya, Tetela di Ngayah ( Ayah Kebumen ), Durgabahu Jeruk Legi ( Klirong Kebumen ), Nusa Brambang ( Nusakambangan ) yang bernama Ki Mangsadurga, ( Ravie Ananda )

Di Nusakambangan tepatnya di gua Ratu / Putri hingga kini masih ada situs kuno bahkan di pintu masuknya pun terdapat relief kepala seorang laki – laki tua yang kemungkinan adalah seorang pemimpin. Hal ini dikuatkan dengan adanya ruangan di dalam gua yang sepertinya pada masa lampau digunakan untuk berkumpul, dimana ada satu bagian yang posisinya lebih tinggi ( singgasana ) dibandingkan yang lain, yang mengelilinginya. Ada juga bagian pada dinding – dinding kamar gua yang sepertinya dibuat sebagai tempat tidur batu. Di gua lain, tepatnya di Gua Masjid Sela, dimana sejak jaman dahulu kala hingga zaman Mataram Islam digunakan sebagai penjara bagi lawan politik sang Raja Penguasa terdapat juga situs kuno yang sangat lengkap, baik dari kamar tidur batu, singgasana batu, lumbung batu, dll. Gua itulah yang sejak jaman dahulu kala jauh sebelum masa Islam datang diyakini sebagai tempat Nabi Ayub. Hal ini tentunya akan semakin mendukung tulisan Kholid Mawardi ( berdasar hasil riset peneliti asing ) yang berjudul “ Jawa Negerinya para Nabi “( Ravie Ananda )

19. Sela Warna Kali Krawang, Carebon Sang Kala Srenggi, ardi Lawet Kyai Baka, Gunung Sumbing Wirakreti, demit Telagapasir ingkang aran Ki Jalikung, si Klengset ing Pasundan, ing Pancer Sang Bagaspati, pan ing Kedu kang aran Ki Mamanmurka,
Sela Warna Kali Krawang, Carebon ( Cirebon ) Sang Kala Srenggi, ardi Lawet ( Banjarnegara ) Kyai Baka, Gunung Sumbing Wirakreti, demit Telagapasir yang bernama Ki Jalikung, si Klengset di Pasundan, di Pancer Sang Bagaspati, sedangkan di Kedu yang bernama Ki Mamanmurka, ( Ravie Ananda )

Ardi Lawet pada masa sebelum Islam bernama Sapta Arga / Martawuj, tempat bertapanya hingga sapurnajatinya Pangeran Palasara dan Begawan Abiyasa ( nama Tua dari Prabu Kresna Dipayana ). Setelah kedatangan Islam, oleh para wali tempat tersebut diubah nama menjadi Ardi Lawet, dan karena keramatnya Sang Abiyasalah, para wali kemudian menjadikan tempat tersebut untuk bermusyawarah. Situs masa lalu tersebut hingga kini masih terawat dengan baik. Nama Tokoh Pewayangan sendiri hingga saat ini dianggap sebagai sebuah fiksi belaka, padahal sesungguhnya Tokoh – tokoh tersebut nyata adanya, akan tetapi sejarah peradabannya telah hilang ( jaman Kejayaan Tanah Dhawa Kuno ), kemudian nama – nama tersebut beserta nama – nama tempat yang ada diambil sebagai nama tokoh dan tempat dalam pewayangan. Yang merupakan fiksi sesungguhnya adalah kisah pewayangan itu sendiri. Kisah pewayangan adalah kisah fiksi yang mengandung arti, makna dan pesan Filosofis hidup Masyarakat Tanah Dhawa Kuno yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Demi menjaga sebuah peradaban agar tidak hilang sepenuhnya dari sejarah keluhuran bangsa ini, maka Tokoh – tokoh dan tempat – tempat yang nyata dan pernah hidup serta mengukir sejarah peradaban Kuno Tanah Dhawa NKRI tersebut diambil sebagai pelaku kisah pewayangan yang sebenarnya fiktif, sehingga akhirnya muncullah dua pencitraan yakni :
1. Wayang sepenuhnya adalah kisah fiktif ( baik tokoh maupun tempatnya )
2. Wayang sepenuhnya adalah kisah non fiktif ( baik tokoh maupun tempatnya )
Kedua pencitraan itu adalah pencitraan yang keliru. Pencitraan yang sebenarnya adalah nama Tokoh dan tempat dalam pewayangan adalah nyata, akan tetapi sejarahnya telah hilang, dan kisah pewayangan itulah yang fiktif akan tetapi mengambil nama tokoh dan tempat yang nyata dan pernah ada di Tanah Dhawa yang dahulunya memang bertujuan untuk menjaga agar sejarah Tanah Dhawa Kuno tidak hilang sepenuhnya ( minimal masih terpatri nama – nama tokoh dan tempatnya ). Hingga sekarang pun situs berupa Candi – candi ( tempat perabuan / ditanamnya sesuatu yang berharga dari tokoh – tokoh tersebut ), gua, mata air, nama tempat serta desa di daerah Dieng Wonosobo hingga Banjarnegara masih ada seperti yang tersebut dalam cerita pewayangan sedangkan di India sendiri nama – nama tokoh, situs dan tempat yang sesuai dengan kisah pewayangan tersebut tidak pernah ada ( harusnya lebih lengkap sebab India mengklaim bahwa Mahabarata adalah karya aslinya ). Menurut sasmita yang penulis dapat saat bermalam dan bersemadhi di candi Bima dan Semar pada beberapa waktu yang lalu, bahwa peradaban Dieng lebih tua dibandingkan dengan peradaban Gunung Lawu, bahkan dahulu kala sudah menjadi tradisi peradaban Lawu berziarah ke Candi – candi Dieng. Hal ini kiranya tidak berlawanan dengan apa yang disebutkan dalam kitab Darmagandhul bahwa dikarenakan babad – babad asli ( kitab – kitab asli ) Tanah Dhawa Kuno telah hilang dibakar oleh para pendatang yang silih berganti, akhirnya Sunan Kalijaga pun berusaha melestarikan yang masih bisa diketahui dari sisa – sisa sejarah masa lampau itu dengan wayang. Begitu juga para Penguasa Mataram yang kemudian memerintahkan para pujangganya untuk menulis riwayat Babad Tanah Dhawa, akan tetapi karena babad yang asli benar – benar telah hilang, maka kitab – kitab baru dari pujangga – pujangga tersebut pun mau tidak mau berpedoman pada kitab lama yang masih ada ( tentunya bukan kitab Babad Asli Tanah Dhawa, melainkan kitab gubahan yang telah disesuaikan dengan penguasa / faham penguasa yang terakhir masuk di Jawa. Dengan paparan – paparan ini maka bisa kita ketahui dengan gamblang bahwa memang telah terjadi penjajahan Sejarah Asli Tanah dhawa NKRI oleh para pendatang yang berkuasa dengan cara mengubah babad asli dan menyesuaikannya dengan faham mereka. Fakta yang menguatkan mengenai hal ini juga terdapat dalam Pustaka Raja Purwa dan Babad Syekh Subakir. Pustaka Raja Purrwa mengatakan bahwa Tanah Dhawa belum ada manusianya saat Ajisaka datang ke Jawa ( Hangejawi ). Dialah yan berjasa mengisi Tanah Dhawa ini dengan manusia setelah sebelumnya dilakukan penumbalan terlebih dahulu karena tanah ini sangat angker dan penuh dengan lelembut. Babad Syekh Subakir berkata lain. Dalam babad ini diceritakan bahwa Syekh Subakirlah yang pertama kali masuk ke Jawa dan menumbal tanah ini ( tepatnya di gunung Tidar Magelang hingga bertemu dengan ratu lelembut yang bernama Semar. Setelah terjadi kesepakatan, barulah Syekh Subakir ini mengisi pulau Jawa dengan manusia dari Negara lain. Terlihat dalam dua babad tersebut betapa dua kepentingan kekuasaan dengan paham yang berlainan saling memperebutkan sebagai cikal bakal pengisi Tanah Dhawa. ( Ravie Ananda ).
20. Magiri si Manglarmanga, ing Gading si Puspasari, Katanggungan Kluntungwelah, Barengkelan Banaspati kang wasta Raden Dewi, ing Tengah pun Sabuk alu. Nagri Kedungerika awasta Sang Raja Putri, ing Bahrawa Baruklinting kang rumeksa,
Magiri ( Imogiri Yogyakarta ) si Manglarmanga, di Gading si Puspasari, Katanggungan Kluntungwelah, Barengkelan ( Brengkelan Porworejo ) Banaspati yang bernama Raden Dewi, di Tengah (Pangenjurutengah Purworejo ) ialah Sabuk alu. Nagri Kedungerika bernama Sang Raja Putri, di Bahrawa ( Ambarawa ) Baruklinting yang berkuasa, ( Ravie Ananda )

21. Si deleng ing Pamancingan, Guwa Langse Raden Dewi, ana dene Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi, ngulon turut pasisir kulawarga Nyai Kidul sampun pepak sedaya, para ratuning dedemit sampun nglempak kang aneng ing tanah Jawa.
Si deleng di Pamancingan, Guwa Langse Raden Dewi, sedangkan Parangwedang Raden Ayu Jayengwesi, ke barat sepanjang pesisir keluarga Nyai Kidul sudah lengkap semua, para ratunya dedemit sudah terkumpul yang ada di tanah Jawa ( Ravie Ananda ).

Pelurusan Sejarah mengenai Nyai Roro Kidul
Masyarakat pada umumnya telah terbiasa dan terkondisi oleh pencitraan masa Islam bahwa Ratu Kidul adalah Nyai Roro Kidul. Pemahaman ini sangatlah keliru. Penulis akan menjelaskan sedikit riwayat mengenai dua tokoh tersebut.

Nyai Roro Kidul
Jaman dahulu kala, jauh sebelum adanya kerajaan Kediri, lelembut / mahluk halus di seluruh Nusantara dirajai oleh ratu yang juga asli lelembut yang bernama Nyai Ageng Rara Kidul yang singgasananya di tengah samudra pantai selatan.

Eyang Ratu Kidul
Pada masa kerajaan Kediri, seorang adik dari prabu Jayabaya ( putri ) yang menyandang cacad fisik diasingkan dari kerajaan di pantai selatan, tujuannya tidak lain agar mempercepat kematiannya. Akan tetapi, karena ia mempunyai darah luhur, di pantai selatan tersebut ia bertapa mati raga dalam waktu yang lama, hingga sampai pada suatu saat yang telah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa, akhirnya dia moksha ( Rijalul Ghaib ) dan menjadi Manusia Bangsa Halus / Rijalulghaib / Siluman. Karena dayanya yang luar biasa ( dari badan kasar menjadi badan halus ) akhirnya ratu lelembut yang bernama Nyai Ageng Rara Kidul tersebut kalah daya dan kemudian jabatan ratu lelembut Nusantara beralih pada Eyang Ratu Kidul. Adapun Nyai Ageng Rara Kidul ( yang asli bangsa halus tadi ) kemudian menjadi patih dari Eyang Ratu Kidul.

Eyang Ratu Kidul sendiri diizinkan oleh Yang Maha Kuasa menjadi bangsa Halus, dimana dia ditugaskan untuk mengayomi seluruh manusia Tanah Dhawa yang masih menggunakan Jawanya ( Njawani ) agar tidak diganggu oleh bangsa halus dalam bentuk apapun. Adapun mengenai Eyang Ratu Kidul yang konon memiliki kamar khusus seperti di salah satu hotel di Bali dan beberapa tempat lain, sesungguhnya bukanlah Eyang Ratu Kidul, melainkan patihnya yang bernama Nyai Ageng Rara Kidul. ( Ravie Ananda ).

Dari beberapa pemaparan penulis, mengenai jati diri beberapa nama tokoh / Ratu lelembut yang disebutkan dalam kidung di atas, bisa disimpulkan bahwa Ratu – ratu Lelembut tersebut adalah nama tokoh manusia yang sebenarnya berkaitan erat dengan sejarah Tanah Dhawa RI, bukan sebagai sosok Ratu Bangsa Halus yang tidak memiliki kaitan apapun dengan sejarah dan cenderung bermakna negatif. Sayang sekali sejarah – sejarah keluhuran Tanah Dhawa NKRI yang melekat dalam tokoh – tokoh yang telah moksha tersebut kini ikut hilang ditelan bumi, seperti juga sejarah mengenai sosok Gajah Mada yang jatidiri dan keturunannya hingga kini masih terselubung misteri. Semoga sejarah yang hilang tersebut segera muncul kembali bersamaan dengan bangkitnya keluhuran Tanah Dhawa NKRI. Rahayu.
Salam Pancasila

Ravie Ananda

Kamis, 19 Agustus 2010

sejarah cikal bakal kabupaten Kebumen (sisi gelap sejarah)

PANJER

Sisi Gelap Sejarah dan Romantisme Masa lalu
Sebuah Desa Perjuangan yang Nyaris Hilang
Mengupas Fakta tentang Asal – Usul Desa dan Kabupaten Kebumen

Oleh : Sayyid R. Ravie Ananda


Pendahuluan
Panjer Adalah nama sebuah Desa / Kelurahan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Nama Panjer sendiri telah lama dikenal, jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya sejak masa Pra Islam. Satu hal yang sangat disayangkan adalah “ nyaris hilangnya riwayat Panjer baik dalam masyarakat Panjer itu sendiri maupun dalam pengetahuan masyarakat Kabupaten Kebumen pada umumnya, serta kurangnya perhatian dan pemeliharaan terhadap situs bangunan peninggalan bersejarah dan budaya masa lampau yang terdapat di daerah tersebut “.

Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat Panjer adalah cikal bakal Berdirinya Kabupaten Kebumen. Sebagai desa yang kini berbentuk kelurahan, Panjer tetap khas dengan rasa dan suasana masa lampaunya.

Panjer Pra Mataram Islam
Dalam Kitab “ Babad Kedhiri “, disebutkan:
“ Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika adipati Panjer sepisanan mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas.
Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake nesunya Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati Panjer.
Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur njegur ing Sendhang Kalasan.
Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer ”.

Di dalam kitab tersebut, memang hanya sedikit sekali keterangan tentang Panjer karena yang menjadi “ Objek Sentralnya “ adalah Kerajaan Medangkamulan, Mamenang dan pergantian tahta ( jauh sebelum Ajisaka masuk ke Jawa ), akan tetapi dari literatur di atas dapat disimpulkan bahwa Panjer adalah sebuah wilayah yang memang sudah dikenal sejak masa pra Islam.
Di Indonesia terdapat dua daerah yang menggunakan nama Panjer yakni di Kabupaten Kebumen dan di Pulau Bali. Namun jika diamati dari segi Genetik Historisnya ( istilah penulis ), maka Panjer Kebumen lah yang disinyalir kuat sebagai suatu daerah yang dari dahulu telah bernama Panjer dan merupakan tempat terjadinya beberapa peristiwa sejarah dari masa ke masa.
Babad Panjer menurut periodisasi Mataram Islam
Mataram Islam adalah Kerajaan Mataram periode ke 2 yang pada mulanya merupakan sebuah hutan lebat yang dikenal sebagai Alas Mentaok, wujud hadiah dari Hadiwijaya ( Sultan Demak terakhir ) kepada Ki Ageng Pemanahan atas jasanya dalam membunuh Arya Penangsang yang merupakan saingan besar Hadiwijaya dalam perebutan tahta Kerajaan Demak. Ki Ageng Pemanahan kemudian membabad hutan lebat tersebut dan menjadikannya sebuah desa yang diberinya nama Mataram. Alas Mentaok itu sendiri sebenarnya adalah bekas kerajaan Mataram Kuno yang runtuh sekitar tahun 929 M yang kemudian tidak terurus dan akhirnya dipenuhi oleh pepohonan lebat hingga menjadi sebuah hutan. Alas Mentaok mulai dibabad oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani sekitar tahun 1556 M. Ki Ageng Pemanahan memimpin desa Mataram hingga Ia wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sebagai pengganti dipilihlah putranya yang bernama Sutawijaya / Panembahan Senopati ( Raja Mataram Islam pertama, dimakamkan di Kotagedhe ). Panembahan Senopati memerintah tahun 1587 – 1601 M. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang / Sultan Agung Hanyakrawati ( wafat tahun 1613 M dimakamkan di Kotagedhe ). Sultan Agung Hanyakrawati digantikan putranya yang bernama Raden Mas Rangsang yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Hanyakrakusuma ( memerintah tahun 1613 – 1646 M). Sultan Agung Hanyakrakusuma digantikan oleh Putranya yang bernama Sultan Amangkurat Agung ( Amangkurat I memerintah pada tahun 1646 – 1677 M ).

Di Dalam “ Kidung Kejayaan Mataram “ ( terjemahan Bahasa Indonesia ) disebutkan secara Implisit mengenai keberadaan Panjer.

Bait 04
Demikianlah maka pada suatu hari yang penuh berkat
berangkatlah rombongan Ki Gedhe ke Alas Mataram
di situ ada di antaranya: Nyi Ageng Ngenis, Nyi Gedhe Pemanahan
Ki Juru Mertani, Sutawijaya, Putri Kalinyamat, dan pengikut dari Sesela
Ketika itu adalah hari Kamis Pon, tanggal Tiga Rabiulakir
yaitu pada tahun Jemawal yang penuh mengandung makna
Setibanya di Pengging rombongan berhenti selama dua minggu
Sementara Ki Gedhe bertirakat di makam Ki Ageng Pengging
Lalu meneruskan perjalanan hingga ke tepi sungai Opak
Dimana rombongan dijamu oleh Ki Gedhe Karang Lo
Setelah itu berjalan lagi demi memenuhi panggilan takdir
hingga tiba di suatu tempat, disana mendirikan Kota Gedhe
Ki Gedhe Karang Lo yang dimaksud dalam bait di atas adalah pemimpin daerah Karang Lo ( kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karanggayam ). Ini artinya sebelum berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun, Karang Lo ( Kadipaten / Kabupaten Panjer ) telah dikenal dan diperhitungkan dalam ranah pemerintahan kerajaan pada waktu itu ( Demak dan Pajang ).
Panjer Dalam Teritorial Masa Lampau
Kerajaan Mataram Islam mengenal sistem pembagian wilayah berdasarkan jauh - dekatnya dan tinggi – rendahnya suatu tempat, sehingga pada saat itu dikenallah beberapa pembagian wilayah kerajaan yakni :
1. Negara Agung
2. Kuta Negara
3. Manca Negara
4. Daerah Bang / Brang / Sabrang Wetan
5. Daerah Bang / Brang / Sabrang Kulon.
Masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah masa keemasan Mataram. Ia memerintah dengan bijaksana, adil dan penuh wibawa, sehingga rakyat pada masa itu merasakan ketentraman dan kemakmuran. Menurut catatan perjalanan Rijklof Van Goens ( Ia mengunjungi Mataram lima kali pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma ) disebutkan bahwa :
“ Mataram di bawah Sultan Agung bagaikan sebuah Imperium Jawa yang besar dengan rajanya yang berwibawa. Istana kerajaan yang besar dijaga prajurit yang kuat , kereta sudah ramai, rumah penduduk jumlahnya banyak dan teratur rapi, pasarnya hidup, penduduknya hidup makmur dan tenteram. Kraton juga punya penjara, tempat orang – orang jahat pelanggar hukum dan tawanan untuk orang Belanda yang kalah perang di Jepara. Pada masa Sultan Agung inilah dikenal secara resmi adanya sebuah daerah lumbung pangan ( padi ) di Panjer dengan bupatinya bernama Ki Suwarno.
Panjer termasuk dalam katagori daerah Mancanegara Bang / Brang / Sabrang Kulon. Jauh sebelum nama Kebumen itu ada, tepatnya di daerah Karang Lo / wilayah Panjer Gunung ( kini masuk dalam wilayah kecamatan Karanggayam ), sudah terdapat penguasa kademangan di bawah Mataram ( masa pemerintahan Panembahan Senopati sekitar tahun 1587 M ). Di daerah tersebut, cucu Panembahan Penopati yang bernama Ki Maduseno ( putra dari Kanjeng Ratu Pembayun ( salah satu putri Panembahan Senopati ) dengan Ki Ageng Mangir VI ) dibesarkan. Ki Maduseno menikah dengan Dewi Majati dan kemudian berputra Ki Bagus Badranala ( Bodronolo; makam di desa Karangkembang; dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Ki Badranala adalah murid Sunan Geseng dari Gunung Geyong. Ia mempunyai peran yang besar dalam membantu perjuangan Mataram melawan Batavia pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ki Badranala yang mempunyai jiwa nasionalis tinggi, membantu Sultan Agung dengan menyediakan lokasi untuk lumbung dan persediaan pangan dengan cara membelinya dari rakyat desa. Pada tahun 1627 M prajurit Mataram di bawah pimpinan Ki Suwarno mencari daerah lumbung padi untuk kepentingan logistik. Pasukan Mataram berdatangan ke lumbung padi milik Ki Badranala dan selanjutnya daerah tersebut secara resmi dijadikan Kabupaten Panjer di bawah kekuasaan Mataram. Sebagai Bupati Panjer, diangkatlah Ki Suwarno, dimana tugasnya mengurusi semua kepentingan logistik bagi prajurit Mataram. Karier militer Ki Badranala sendiri dimulai dengan menjadi prajurit pengawal pangan dan selanjutnya Ia diangkat menjadi Senopati dalam penyerangan ke Batavia.
Dibakarnya Lumbung Padi Panjer
Sejarah nasional menyebutkan bahwa kekalahan Sultan Agung Hanyakrakusuma disebabkan oleh dibakarnya lumbung – lumbung padi Mataram oleh Belanda, dimana lumbung terbesar pada saat itu adalah lumbung yang berada di Panjer ( kemungkinan besar lokasi tersebut berada di dalam kompleks daerah yang kini menjadi Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati yang mempunyai luas sekitar 4 Ha ). Peristiwa ini terjadi pada penyerangan Mataram yang ke 3 dan sekaligus menjadi peperangan terakhir Sultan Agung Hanyakrakusuma. Beliau wafat pada awal tahun 1645 M dan dimakamkan di Imogiri. Selanjutnya, Pada masa Sultan Amangkurat I, Panjer berubah menjadi sebuah desa yang tidak sesibuk ketika masih dijadikan pusat lumbung padi Mataram pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Pembagian Wilayah Panjer
Panjer masa lalu dibagi dalam dua wilayah yaitu Panjer Roma ( Panjer Lembah ) dan Panjer Gunung. Ki Badranala diangkat menjadi Ki Gedhe Panjer Roma I atas jasanya menangkal serangan Belanda yang mendarat di pantai Petanahan. Putra tertua Ki Badranala yang bernama Ki Kertasuta bertugas sebagai Demang di wilayah Panjer Gunung, sedangkan adiknya yang bernama ki Hastrasuta membantu ayahnya ( Ki Badranala ) di Panjer Roma. Ki Kertasuta kemudian diangkat menjadi Patih Bupati Panjer, Ki Suwarno. Ia dinikahkan dengan adik ipar Ki Suwarno dan berputra Ki Kertadipa. Ki Badranala menyerahkan jabatan Ki Gedhe Panjer Roma kepada anaknya ( Ki Hastrasuta ) yang kemudian bergelar Ki Gedhe Panjer Roma II. Beliaulah yang kemudian berjasa memberikan tanah kepada Pangeran Bumidirja / Ki Bumi ( paman Amangkurat I yang mengungsi ke Panjer sebab tidak sepaham dengan Sultan Amangkurat I ). Tanah tersebut terletak di sebelah Timur Sungai Luk Ula dengan panjang kurang lebih 3 Pal ke arah Selatan dan lebar setengah ( ½ ) Pal ke arah Timur. Pangeran Bumidirja kemudian membuka tanah ( trukah ) yang masih berupa hutan tersebut dan menjadikannya desa. Desa inilah yang kemudian bernama Trukahan ( berasal dari kata dasar Trukah yang berarti memulai ). Seiring berjalannya waktu nama desa Trukahan kini hanya menjadi nama padukuhan saja ( sekarang masuk dalam wilayah kelurahan Kebumen ).

Riwayat desa Trukahan yang kemudian berubah menjadi Kelurahan Kebumen pun kini nyaris hilang, meskipun Balai Desa / Kelurahan Kebumen hingga kini berada di daerah tersebut.
Kutipan dari “ Babad Kebumen “ menyebutkan:

“ Kanjeng Pangeran Bumidirdja murinani sanget sedanipun Pangeran Pekik, sirna kasabaranipun nggalih, punapadene mboten kekilapan bilih Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu. Puntonipun nggalih, Kanjeng Pangeran Bumidirdja sumedya lolos saking praja sarta nglugas raga nilar kaluhuran, kawibawan tuwin kamulyan.
Tindakipun Sang Pangeran sekaliyan garwa, kaderekaken abdi tetiga ingkang kinasih. Gancaring cariyos tindakipun wau sampun dumugi tanah Panjer ing sacelaking lepen Luk Ula. Ing ngriku pasitenipun sae lan waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan.
Wana tarabatan sacelaking lepen Luk Ula wau lajeng kabukak kadadosaken pasabinan lan pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun degi padaleman…..
Kanjeng Pangeran Bumidirdja lajeng dhedhepok wonten ing ngriku sarta karsa mbucal asma lan sesebutanipun, lajeng gantos nama Kyai Bumi…..
Sarehning ingkang cikal bakal ing ngriku nama Kyai Bumi, mila ing ngriku lajeng kanamakaken dhusun Kabumen, lami – lami mingsed mungel Kebumen.
Dhusun Kebumen tutrukanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut sapinggiring lepen Luk Ula udakawis sampun wonten 3 pal, dene alangipun mangetan udakawis wonten ½ pal ”.

Dalam Babad Kebumen memang tidak terdapat cerita mengenai desa Trukahan, akan tetapi jika dilihat dari segi Logika Historis ( istilah penulis ), yang dimaksud dengan Desa / Dhusun Kabumian adalah Trukahan. Hal ini dapat ditelusuri berdasarkan Logika Historis antara lain :
1. Wilayah dan nama Trukahan sejak pra kemerdekaan hingga kini masih tetap ada, dimana Balai Desa / Kelurahan Kebumen dan Kecamatan Kebumen berada dalam wilayah tersebut ( sedangkan Pendopo Kabupaten masuk dalam wilayah Bumirejo ).
2. Makam / Petilasan Ki Singa Patra yang sebetulnya merupakan Pamokshan, sebagai situs yang hingga kini masih terawat dan diziarahi baik oleh warga setempat maupun dari luar Kebumen ( meskipun belum diperhatikan oleh Pemerintah baik Kelurahan maupun Kabupaten ) adalah makam tertua yang ada di kompleks pemakaman Desa Kebumen. Singa Patra adalah sosok tokoh yang nyaris hilang riwayatnya, meskipun namanya jauh lebih dikenal oleh warga Kelurahan Kebumen sejak jaman dahulu kala dan diyakini sebagai tokoh yang menjadi cikal bakal Desa Trukahan masa lampau. Penulis mensinyalir bahwa Tokoh ini hidup lebih awal dibandingkan masa kedatangan Badranala, sebab Beliau ( Badranala ) yang hidup pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah pendatang di desa Panjer ( Lembah / Roma ). Beliau sendiri berasal dari daerah Karang Lo ( yang dahulu masuk dalam wilayah Panjer Gunung ). Sebagai seorang pendatang yang kemudian berdiam di Panjer Roma, Badranala memperistri Endang Patra Sari. Endang adalah sebutan kehormatan bagi perempuan Bangsawan. Hal ini bisa kita lihat pada situs pemakaman Ki Badranala di desa Karangkembang dimana terdapat beberapa makam yang menggunakan Klan / Marga Patra, dimulai dari Istri Badranala sendiri, hingga beberapa keturunannya.
3. Hilangnya babad Trukahan dan riwayat Ki Singa Patra dimungkinkan adanya kepentingan politik penguasa waktu itu. Terlebih riwayat Babad Kebumen baru diterbitkan pada tahun 1953 di Praja Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat oleh R. Soemodidjojo ( seorang keturunan KP. Harya Cakraningrat / Kanjeng Raden Harya Hadipati Danureja ingkang kaping VI, Pepatih Dalem ing Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ), yang notabene bukan warga asli bahkan mungkin tidak pernah sama sekali tinggal di Panjer ataupun Trukahan / Kebumen. Dengan kata lain, warga Kelurahan Kebumen baru mengenal sosok Bumidirdja semenjak diterbitkannya riwayat Babad Kebumen yang kini lebih populer dengan adanya media Internet.
4. Kurun waktu Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma jelas lebih tua daripada Bumidirja. Sedangkan Ki Badranala yang kemudian bermukim di Panjer saat itu telah memperistri perempuan dari Klan Patra ( yang mungkin mengilhami nama sebuah Hotel di Kota Kebumen ).
5. Menurut “ Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional “ yang ditulis oleh Dadiyono Yudoprayitno ( Mantan Bupati Kebumen ) disebutkan bahwa Pangeran Bumidirdja membuka tanah hasil pemberian Ki Gedhe Panjer Roma II / Ki Hastrosuto ( anak Ki Badranala ). Riwayat ini pun tidak disebutkan dalam Babad Kebumen. Riwayat yang lebih terkenal sampai saat ini adalah riwayat yang ditulis oleh R. Soemodidjojo yang notabene bukan warga asli dan bahkan mungkin belum pernah tinggal di Kebumen, dimana diceritakan bahwa Kebumen berasal dari kata Ki Bumi yang merupakan nama samaran dari Pangeran Bumidirja yang kemudian trukah di tepi sungai Luk Ula, sehingga kemudian tempat tersebut dinamakan Kebumian.
6. Pasar Kebumen, pada awalnya berada di wilayah Trukahan, tepatnya di daerah yang kini menjadi kantor Kecamatan Kebumen hingga kemudian pindah ke daerah yang kini menjadi pasar Tumenggungan. Maka daerah di sekitar bekas pasar lama tersebut sampai sekarang masih bernama Pasar Pari dan Pasar Rabuk, karena memang lokasi pasar lama telah menggunakan sistem pengelompokan.
7. Adanya pendatang setelah dibukanya tanah / trukah seperti yang disebutkan dalam Babad Kebumen yang kemudian bermukim, juga bisa diperkirakan mendiami daerah yang kini bernama Dukuh. Hal ini dimungkinkan dengan sebutan nama Dukuh yang telah ada sejak lama.

Asal Mula Nama Tumenggung Kalapaking
Datangnya Pangeran Bumidirdja di Panjer, menimbulkan kekhawatiran Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara Panjer Gunung karena Pangeran Bumidirdja saat itu dinyatakan sebagai buronan Kerajaan. Akhirnya Ki Gedhe Panjer Roma II dan Tumenggung Wangsanegara memutuskan untuk meninggalkan Panjer dan tinggallah Ki Kertawangsa yang dipaksa untuk tetap tinggal dan taat pada Mataram. Ia diserahi dua kekuasaan Panjer dan kemudian bergelar Ki Gedhe panjer Roma III. Dua Kekuasaan Panjer ( Panjer Roma dan Panjer Gunung ) membuktikan bahwa Panjer saat itu sebagai sebuah wilayah berskala luas ( Kabupaten / Kadipaten ) sehingga dikategorikan dalam daerah Brang Kulon.

Pada tanggal 2 Juli 1677 Trunajaya berhasil menduduki istana Mataram di Plered yang ketika itu diperintah oleh Sultan Amangkurat Agung ( Amangkurat I ). Sebelum Plered dikuasai oleh Trunajaya, Sultan Amangkurat Agung dan putranya yang bernama Raden Mas Rahmat berhasil melarikan diri ke arah Barat. Dalam pelarian tersebut, Sultan Amangkurat Agung jatuh sakit. Beliau kemudian singgah di Panjer ( tepatnya pada tanggal 2 Juni 1677 ) yang pada waktu itu diperintah oleh Ki Gedhe Panjer III. Sultan Amangkurat I diobati oleh Ki Gedhe Panjer III dengan air Kelapa Tua ( Aking ) karena pada waktu itu sangat sulit mencari kelapa muda. Setelah diobati oleh Ki Gedhe Panjer III, kesehatan Sultan Amangkurat I berangsur membaik. Beliau kemudian menganugerahi gelar kepada Ki Gedhe Panjer III dengan pangkat Tumenggung Kalapa Aking I ( Kolopaking I, sebagai jabatan Adipati Panjer I ( 1677 – 1710 ). Tumenggung Kalapaking I digantikan oleh putranya dan bergelar Tumenggung Kalapaking II ( 1710 – 1751 ), dilanjutkan oleh Tumenggung Kalapaking III ( 1751 – 1790 ) dan Tumenggung kalapaking IV ( 1790 – 1833 )).

Setelah merasa pulih, Sultan Amangkurat Agung melanjutkan perjalannya menuju ke Barat, akan tetapi sakitnya ternyata kambuh kembali dan akhirnya Beliau wafat di desa Wanayasa ( Kabupaten Banyumas ) tepatnya pada tanggal 13 Juli 1677. Menurut Babad Tanah Jawi, kematian Sultan Amangurat Agung dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Raden Mas Rahmat ( putranya sendiri yang menyertai Beliau dalam pelarian ). Sesuai dengan wasiatnya, Beliau kemudian dimakamkan di daerah Tegal Arum ( Tegal ) yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Tegal Wangi. Sementara itu tampuk kepemimpinan Panjer periode Kolopaking hanya berlangsung hingga Kolopaking IV dikarenakan adanya suksesi di Panjer pada waktu itu antara Kalapaking IV dan Arungbinang IV yang berakhir dengan pembagian wilayah dimana Kalapaking mendapat bagian di Karanganyar dan Banyumas, sedangkan Arungbinang tetap di Panjer. Sejak pemerintahan Arungbinang IV inilah Panjer Roma dan Panjer Gunung digabung Menjadi satu dengan nama Kebumen. Berdasar pemaparan di atas, penulis menyimpulkan ( sumber : sasmita yang penulis dapat ) bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen di wilayah Desa / Kelurahan Bumirejo ( bukan di wilayah Desa / Kelurahan Kebumen sebagai Nol Kilometernya pemerintahan, dimana seharusnya Desa, Kecamatan, dan Kabupaten Kebumen berada dalam satu lingkup ) disebabkan adanya suksesi antara Tumenggung Kalapaking IV dan Arungbinang IV. Untuk memantapkan kedudukan setelah kemenangannya atas peristiwa pembagian wilayah, Arungbinang IV mendirikan Pendopo Kabupaten baru yang kini menjadi Pendopo dan Rumah Dinas Bupati Kebumen lengkap dengan alun - alunnya. Adapun Pendopo Kabupaten lama / Kabupaten Panjer kemungkinan berada di lokasi Pabrik Minyak Sari Nabati Panjer, dengan memperhatikan tata kota yang masih ada ( seperti yang penulis paparkan dalam sub judul Metamorfosis Panjer ) dan luas wilayah Pabrik yang mencapai sekitar 4 Ha, serta adanya pohon – pohon Beringin tua yang dalam sistem Macapat digunakan sebagai simbol suatu pusat pemerintahan kota zaman kerajaan. Begitu juga dengan Tugu Lawet yang pada awalnya merupakan tempat berdirinya sebuah Pohon Beringin Kurung ( yang kemudian ditebang dan dijadikan Tugu Lawet ), dimana di sebelah Utaranya adalah Kamar Bola ( gedung olahraga, pertunjukan dan dansa bagi orang Belanda ) serta lokasi pasar Kebumen lama yang pada awalnya berada di wilayah Trukahan ( pusat pasar rabuk berada di sebelah Timur Balai Desa Kebumen, pasar lama berada di sebelah Utara klenteng, sub pasar rabuk berada di sebelah Utara pasar lama, pasar pari / padi berada di sebelah Selatan klenteng dan pasar burung yang tadinya merupakan Gedung Bioskup Belanda sebelum dihancurkan dan kemudian didirikan gedung Bioskup Star lama di sebelah Timur Tugu Lawet ( sumber : wawancara tokoh sepuh desa Kebumen )), semakin menguatkan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen tempo dulu adalah di desa Panjer dan Trukahan. Hal ini sesuai juga dengan kurun waktu berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen yang didirikan oleh KH. Imanadi pada masa pemerintahan Arungbinang IV ( setelah masa Diponegoro ) yang membuktikan bahwa berdirinya Pendopo Kabupaten Kebumen yang berada di wilayah Bumirejo dan Masjid Agung Kauman di wilayah Kutosari merupakan pindahan dari pusat kota lama di Panjer.

Metamorfosis Historis Panjer
Seiring berjalannya waktu dan berkuasanya Belanda di Indonesia, desa Panjer juga tidak luput dari kekuasaan Belanda. Panjer tetap dijadikan basis pemerintahan oleh Pemerintah Belanda karena lokasinya yang sangat strategis ( meskipun sejarah masa lalu itu telah hilang ). Hal ini dapat kita lihat dari sisi genetik historisnya dimana Panjer sampai saat ini adalah suatu desa / kelurahan yang lengkap dengan fasilitas – fasilitas yang dibangun oleh Belanda jauh sebelum kemerdekaan, seperti: Stasiun Kereta Api, Rumah Sakit ( dahulu dikenal dengan nama Sendeng; berasal dari kata Zending yang berarti politik penyebaran agama Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara pertolongan kesehatan ), Gedung Pertunjukan, Pertahanan Militer, Perumahan Belanda yang lebih dikenal dengan nama KONGSEN ( berasal dari kata Kongsi ), Taman Kanak – Kanak yang dahulunya mungkin juga merupakan tempat pendidikan bagi anak – anak para Pejabat Belanda yang tinggal di wilayah tersebut, serta Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( yang hingga kini menjadi milik Perusda Propinsi Jateng yang tutup sekitar tahun 1985 ).
Pergantian kekuasaan sejak zaman Mataram Islam, Kolonial Belanda, hingga Pemerintahan NKRI ternyata tidak mempengaruhi perubahan desa Panjer dari segi Substansi dan Genetik Historis. Hal ini dapat kita lihat dengan sebuah pembanding sebagai berikut :

Panjer Zaman Sultan Agung
1. Sebagai Lumbung padi dan Pusat Logistik Pasukan Mataram
2. Sebagai Kotaraja Kabupaten Panjer ( yang tentunya telah memiliki kelengkapan fasilitas seperti kesehatan, transportasi, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain – lain meskipun masih bersifat sederhana )
3. Sebagai Basis Militer Mataram
Panjer Zaman Kolonial Balanda ( kemudian diteruskan oleh Jepang )
1. Sebagai Pusat logistik yakni dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( seluas 4 Ha ).
2. Sebagai desa yang memiliki berbagai fasilitas seperti Transportasi ( dengan didirikannya stasiun ), Perumahan Belanda ( lebih dikenal dengan sebutan Kongsen lengkap dengan sarana dan prasarananya baik sarana pendidikan anak – anak, Kesehatan ( Zending / Sendeng ) gedung Pertunjukan ( Gedung Bioskup Gembira ), gedung olahraga dan aula yang terdapat di dalam lokasi pabrik, dan lain - lain.
3. Basis Militer Belanda

Panjer Zaman Kemerdekaan
1. Sebagai Pusat Logistik ; dengan didirikannya Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati oleh Belanda yang setelah tutup sekitar tahun 1985 kemudian beralih fungsi sebagai gudang penampungan tebu sementara sebelum diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Yogyakarta; disewakan kepada pabrik rokok untuk menampung cengkeh ( sekitar tahun 1989 ), disewakan sebagai gudang penyimpanan bijih Plastik ( sekitar tahun 1990 ), disewakan sebagai gudang beras Bulog, disewakan sebagai lahan perkebunan semangka; disewakan sebagai kantor Pajak; disewakan sebagai tempat penyimpanan sementara alat – alat berat kesehatan RSU; Sebagai tempat penampungan sementara Kompor dan tabung gas dalam rangka program konversi gas pada tahun 2009.
2. Terdapatnya pusat transportasi Kereta Api ( stasiun Kereta Api Kebumen )
3. Bertempatnya Markas TNI / Kodim Kebumen
4. Terdapatnya tempat pertunjukan Film ( gedung Bioskop Gembira, yang kini telah dibangun dan dialihkan fungsi )
5. sebagai tempat RSUD Kebumen
6. Terdapatnya tempat pendidikan Taman Kanak - Kanak PMK Sari Nabati
7. Terdapatnya Lapangan Tenis dan Bulutangkis, serta menjadi tempat latihan Beladiri berbagai Perguruan yang ada di wilayah Kebumen ( sekitar tahun 1990 an )
8. terdapatnya Perumahan Nabatiasa
9. dan lain – lain.

Dilihat dari fakta – fakta di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Panjer dari masa ke masa tidak memiliki perubahan fungsi, hanya saja terus menyesuaikan dengan perkembangan peradaban dan budaya.

Romantisme Panjer Masa Lalu
Sebagai desa yang terbilang tua, Panjer penuh dengan benda – benda budaya peninggalan dari tiga periode ( Mataram, Belanda dan Kemerdekaan ) yang dapat dikelompokkan kedalam dua bagian yaitu :
1. Benda yang Masih tersisa antara lain :
1. Bangunan Tua yang sangat Luas bekas Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati ( lengkap dengan rel dan Lori pengangkut kopra menuju pengolahan, saluran irigasi, perkantoran, penimbangan, pos jaga, lapangan Bulutangkis dan Aula dan lain - lain.
2. Perumahan Belanda ( Kongsen ) Nabatiasa.
3. Sumur Tua yang disinyalir sudah ada sejak jaman pra Mataram Islam yang mungkin tadinya berwujud sendang. Sumur itu berada didalam lokasi Pabrik paling Timur dengan diameter kurang lebih 4 M ( sekitar tahun 1990 an pernah terbit Surat Kabar Kebumen yang memuat sejarah Panjer sebagai cikal bakal Kebumen, dimana disebutkan juga adanya Legenda Sendang Kuno dan sebuah Batu Kuno semacam sebuah Prasasti di desa Panjer, sayang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.
4. Tiga buah WC umum peninggalan Belanda yang terdapat di Selatan perumahan Belanda yang kini disebut Kongsen dengan dua sumur umum yang berdiameter sekitar 2,5 meter.
5. Bangkai Truk pengangkut Kopra yang teronggok di garasi depan Pabrik Sari Nabati.
6. Bekas Roda Meriam yang dipasang di dekat pintu masuk Pabrik dan lapangan Panjer sebelah Timur.
7. Pohon Pinus yang ditanam di pintu Masuk perumahan Kongsen sebelah Barat dan di sebelah utara Stasiun Kereta Api.
8. Pohon Kamboja peninggalan Belanda di halaman Taman Kanak – Kanak Sari Nabati.

2. Benda yang telah hilang antara lain :
1. Tiga buah Pohon Saman Raksasa di sebelah Utara stasiun yang ditebang sekitar tahun 1989. Dahulu ketika pohon tersebut masih ada, daerah tersebut terasa sangat klasik dan kuno. Berbagai jenis burung dapat kita jumpai bersarang dan berkicau di atasnya. Terdapat juga Ayam Hutan yang bersarang dan selalu berkokok di pagi hari di atas pohon tersebut.
2. Rel dan Lori yang berasal dari baja dan semua bahan - bahan yang berasal dari besi, termasuk plat – plat besi tebal penutup saluran irigasi ( kalen ), mesin pembuat dan pengolah minyak, seng atap penutup pabrik, dan lain – lain ( dikarenakan sekitar tahun 2000 dilelangkan sebagai barang bekas )
3. Tiga buah sumur pompa umum di kompleks perumahan / Kongsen.
4. Pintu “ HS “ ( pintu ruangan generator listrik pabrik jaman Belanda ) yang dahulu selalu membuka dengan sendirinya setiap Kamis sore dan menutup Jumat sore ( di atas pintu tersebut terdapat tulisan berhuruf Jawa dan Belanda “ High Stroom “. Setiap pintu tersebut membuka, keluarlah sepasang burung gagak yang terbang mengitari wilayah Kongsen, dan akan masuk kembali ke ruangan tersebut sesaat sebelum pintu tersebut menutup ). Keanehan yang dahulu menjadi konsumsi hiburan bernuansa magis gratis bagi masyarakat setempat kini tidak lagi bisa dilihat ( sejak sekitar tahun 1995 ). Bangunan Pabrik yang penuh dengan warisan budaya tiga periode tersebut, yang dahulu terasa sangat indah, klasik dan menyejukkan serta nyaman, kini 80% telah menjadi puing – puing yang kokoh tanpa atap dan hutan semak belukar.
5. Kesenian Ebleg Panjer yang dahulu sangat terkenal di Kabupaten Kebumen kini tidak lagi hidup, bahkan kelengkapan kesenian itu telah rusak dan hanya tersisa sebuah Barongan Tua Keramat yang nyaris hilang ( barongan ini ditemukan kembali tanpa sengaja oleh seorang warga Panjer di desa Kalirancang ).
6. Dua buah pohon Flamboyan raksasa yang tinggi dan sangat indah ketika berbunga serta beberapa pohon Beringin besar yang berada di lapangan Panjer sebelah Timur, tepatnya di sebelah Selatan bangunan WC umum Kongsen.
7. Pohon Sakura yang berada di sebelah Utara sumur Kongsen bagian Barat ( dahulu sering digunakan untuk bermain anak – anak Kongsen, kemungkinan peninggalan pejabat Jepang yang tinggal di sana waktu itu ).
8. Pintu masuk Kongsen sebelah Barat ( pintu tersebut dahulu sering digunakan untuk bermain ayunan oleh anak – anak Kongsen ).
9. Pohon Beringin besar yang berada di halaman Taman Kanak – Kanak Sari Nabati.
10. Bak Tempat Penampungan sampah buatan zaman Belanda ( dahulu terletak di sebelah selatan Kongsen ).

Kembalinya Barongan Keramat Desa Panjer
Bentuk seni dan budaya yang telah ada turun - temurun di desa Panjer adalah Ebleg. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Ebleg sama dengan Kuda Lumping. Menurut penulis, Ebleg tidak bisa disamakan dengan Kuda Lumping. Perbedaan antara Ebleg dan Kuda Lumping adalah :
Ebleg adalah suatu kesenian khusus yang merupakan perpaduan antara tarian, filosofi dan mistis yang di dalamnya mempunyai tiga instrumen pokok yakni Gending, Barongan dan Kuda Lumping / Jaran Kepang. Menurut penulis Ebleg adalah kesenian yang sudah berkembang sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma. Hal ini dapat diamati dari beberapa hal antara lain :
1. Gending ; melambangkan Sastra Gending, sebuah kitab karya Sultan Agung Hanyakrakusuma.
2. Barongan yang bentuknya meniru seekor singa ; melambangkan Sosok Sultan Agung yang dari dahulu disegani dan mendapat julukan Singa Jawa dari para lawannya.
3. Kuda Lumping / Jaran Kepang : melambangkan pasukan berkuda Mataram yang gagah dan berani mati, kompak dan disiplin.

Kuda Lumping adalah suatu kesenian tarian ( tarian kuda ) hasil pengembangan dari kesenian Ebleg yang di dalamnya tidak mengharuskan adanya barongan dan unsur mistis.

Kesenian Ebleg desa Panjer disinyalir telah ada jauh sebelum era Kemerdekaan. Hal ini penulis simpulkan setelah mewawancarai beberapa tokoh Ebleg setempat, dimana tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui sejak kapan kesenian tersebut mulai ada di Panjer. Dari semua narasumber yang ada hanya mengetahui bahwa Ebleg Panjer telah ada sejak para leluhur mereka kecil ). Tidak aktifnya Ebleg Panjer ( mulai sekitar tahun 1995 ) nyaris mengakibatkan hilangnya Barongan Keramat yang terbuat dari kayu Kendal itu dari desa Panjer. Hilangnya Barongan Keramat tersebut diketahui setelah seorang mantan pemain Ebleg Panjer yang bernama Waris ( Pak Waris ) yang kebetulan bekerja sebagai Penjaga Pabrik Sari Nabati mempunyai itikad untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut. Sekitar tahun 2003 Beliau secara kebetulan berbincang – bincang dengan seorang Kusir Dokar dari desa Kalirancang yang mangkal di stasiun Kebumen dimana topik pembicaraan pada saat itu adalah kesenian Ebleg. Kusir Dokar tersebut bercerita bahwa di desanya memiliki kesenian Ebleg yang juga tidak aktif lagi. Adapun barongannya konon kabarnya dahulu meminjam dari desa Panjer. Berangkat dari cerita itu, Pak Waris segera menghubungi pengurus Ebleg Kalirancang melalui kusir dokar tersebut. Akhirnya, kembalilah Barongan Tua desa Panjer ke asalnya. Tahap selanjutnya, Pak Waris mengumpulkan para mantan pemain ebleg dan mengajak untuk menghidupkan kembali Ebleg Panjer yang terbilang paling tua di Kabupaten Kebumen tersebut. Beliau bersama Pak Dalang Parijo ( alm. ) pada saat itu segera memimpin kembali latihan ebleg dengan peralatan seadanya yakni “ sapu ijuk “ yang dijadikan peraga pengganti kuda lumping yang ketika itu telah rusak. Setelah keseragaman geraktari dan gending pengiring dirasa padu, maka dimulailah latihan sekaligus pagelaran rutin di lapangan Manunggal Kodim setiap hari Kamis Wage ( sesuai tradisi jaman dahulu ). Peraga Kuda Lumping pun kemudian dibeli oleh grup kesenian Ebleg Panjer di daerah Bocor dengan swadana dari anggota. Kesenian tua yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Panjer dan terkenal di Kabupaten Kebumen itu sangat disayangkan kini kembali mati suri. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian pemerintah baik Desa maupun Kabupaten.

Perbaikan Barongan “ Ki Singa Mataram “
Dikarenakan kondisinya yang rusak akhirnya dilakukanlah perbaikan Barongan “ Ki Singa Mataram “ ( nama Barongan tersebut ) pada malam Jumat Kliwon di bulan Ramadhan, bertepatan dengan malam 17 Agustus 2010. Bahan pelapis kepala barongan berasal dari Kulit Macan Tutul Sempor Kebumen ( telah ada sejak sekitar 25 tahun yang lalu ), sumbangan dari Mbah Narto Gombong ( seorang tokoh Legiun Veteran ) dan Bpk. Bambang Priyambodo ( Sekcam Kuwarasan ). Bahan lain adalah kulit Blacan dan Kijang sumbangan dari para pemuda Kranggan Kebumen dan Bejiruyung Sempor, serta karung Goni yang digunakan sebagai tubuh barongan, sumbangan dari warga pendatang asli Wonogiri dan Solo. Pekerjaan perbaikan dilakukan oleh sekelompok pemuda Pecinta Budaya Kebumen dan sesepuh Ebleg di kompleks Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati Panjer, dimulai dari pukul 22.00 wib hingga selesai ( tepat pukul 01.00 wib ) dimana sebelumnya telah dilakukan ritual terlebih dahulu.

Sebuah pujian dan acungan jempol kiranya patut sekali diberikan kepada para anggota kesenian Ebleg Panjer yang ternyata hingga saat ini masih berkemauan keras untuk menghidupkan kembali kesenian tersebut di tengah munculnya kesenian baru di desa Panjer ( kesenian Kentongan Banyumasan dan Janeng ). Rapat kecil para anggota pun telah diadakan untuk membentuk wadah dan kepengurusan. Harapan penulis, semoga pemerintah setempat ataupun pemerintah Kabupaten Kebumen segera memberikan perhatian dan dukungan ( apresiasi ) yang serius terhadap kesenian Ebleg Panjer yang merupakan kesenian Ebleg Tertua di Kabupaten Kebumen. Kesenian tua dari desa yang pernah menjadi pusat kekuatan Pasukan Mataram saat memerangi Belanda dan desa yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Panjer / Kebumen silam.

Panjer dalam Kenangan Penulis
Saya lahir di desa Panjer pada tahun 1980. Ayah saya bekerja sebagai karyawan di Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati. Sejak dilahirkan hingga tahun 1993, saya tinggal besama orang tua di Perumahan Nabatiyasa ( Eks Perumahan Belanda ) yang lebih dikenal dengan sebutan Kongsen. Saya sempat menikmati saat – saat kejayaan Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati sebelum akhirnya tutup pada tahun 1985. Banyak kenangan indah di desa Panjer yang tak bisa tergantikan dengan apapun yang ternyata sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian saya.

Sebagai anak seorang karyawan, sebuah kenangan indah adalah menaiki Lori menuju lokasi pengambilan jatah minyak dan logistik bulanan bagi karyawan. Naik Lori adalah pengalaman langka yang tidak bisa dinikmati oleh semua anak, hal ini dikarenakan Lori hanya ada di tempat – tempat tertentu seperti Pabrik Minyak, Pabrik Gula dan sejenisnya. Setiap tengah malam, suara peluit dari cerobong Pabrik sebagai penanda pergantian shif terasa khas dan klasik, perpaduan rasa mencekam dan sakral bagi setiap anak kecil di Kongsen.

Bersama teman – teman sebaya bermain melihat fenomena spiritual membuka dan menutupnya pintu “ HS “ serta keluar dan masuknya sepasang burung gagak adalah pengalaman yang langka dan hanya dapat disaksikan di Pabrik Minyak Kelapa Sari Nabati Panjer. Di atas pintu yang tidak lagi membuka tersebut, kini tumbuh sebuah pohon Beringin yang akarnya telah menutupi sebagian pintu.
Pabrik seluas 4 Ha yang terkenal kuno dan angker itu pun urung dijadikan tempat Uji Nyali sebuah program acara reality show beberapa waktu silam, dikarenakan ketidakberanian tim penyelenggara acara menanggung kemungkinan resiko yang akan ada jika mengambil tempat yang terlalu Kuno dan Angker.

Panjer tempo dulu sepertinya juga menjadi pusat kerajinan batu mulia. Hal ini terbukti dengan ditemukannya berbagai batu akik baik yang telah jadi maupun bahan mentah di depan halaman rumah paling barat ( yang menghadap selatan ), sehingga kenangan anak – anak Kongsen pun semakin lengkap dengan adanya kegiatan mencari batu akik selepas hujan reda di tempat tersebut. Dengan penuh ketekunan dan kejelian, anak – anak saat itu “ Ndhodhok “ sambil menajamkan pandangan terhadap sinar kilau dari batu yang muncul akibat lapisan tanah penutupnya terbawa air.

Ketika Bunga flamboyan raksasa berbunga, anak – anak Kongsen dengan riang gembira bermain di bawah jingganya bunga- bunga yang berguguran menutup tanah di bawahnya. Sambil menari – nari, anak – anak membunyikan polong yang jatuh dari pohon tersebut dan menjadikannya alat musik “ ecek – ecek “ sambil berteriak riang “ Hore – Hore… Salju “ ( bunga flamboyan yang berguguran diimajinasikan seperti salju jingga ).

Masa dibukanya penutup saluran irigasi / kalen juga merupakan saat yang sangat dinanti bagi anak – anak Kongsen, sebab di masa itulah anak – anak turun beramai - ramai dengan peralatan yang ada untuk mengambil ratusan ikan lele lokal yang besarnya bisa mencapai 1 Kg ( perekornya ), ikan – ikan Behtok dan Gabus ( Bayong ) yang selama musim mengalirnya air irigasi bersembunyi di selokan yang tertutup plat tersebut. Panen ini dirasakan seluruh warga Kongsen.

Ketika musim kemarau tiba, dua buah sumur tua Kongsen yang kebetulan ikut surut dan keruh pun, dikuras oleh warga. Pengurasan ini merupakan saat menyenangkan bagi anak – anak Kongsen yang ikut bekerjabakti menguras sumur, sebab di dalamnya banyak ditemukan benda – benda klasik seperti Keris, batu Akik, dan lain – lain yang tentunya hal ini tidak didapati di setiap sumur.

Anak – anak Kongsen juga akrab dengan cerita hantu, namun cerita hantu di daerah Panjer tidak seperti kebanyakan ( misal pocong, kuntilanak dan sejenisnya ). Hantu di Panjer yang telah banyak dilihat oleh warga sekitar dan orang – orang dari luar Panjer yang kebetulan berolahraga Bulutangkis malam di lapangan dalam Pabrik adalah hantu Keranda, hantu Kereta Kuda dan Rombongan Kuda, hantu Orang Belanda, hantu Prajurit jaman kerajaan ( yang menunggu pintu masuk WC umum ), serta berupa suara – suara tanpa wujud seperti berbunyinya tiang dari besi di lapangan timur tanpa ada yang membunyikan setiap tengah malam yang selalu menjadikan rasa penasaran anak – anak Kongsen. Layaknya detektif, anak – anak yang bermain kemah – kemahan setiap liburan sekolah, selalu mengamati dari kejauhan peristiwa itu dengan penuh keheranan bercampur takut.

Pada saat – saat akhir kejayaan pabrik, anak - anak mempunyai kebiasan mengambil beberapa kopra yang sedang dijemur dan memakannya. Rasa manis dan gurih dari kopra hingga kini mungkin masih termemori dalam ingatan anak – anak Kongsen.

Tutupnya Pabrik dan bergantinya fungsi menjadi tempat penampungan tebu sementara adalah hal yang tetap menggembirakan bagi anak – anak Kongsen. Setiap truk tebu yang datang penuh muatan, menjadi harapan bagi anak – anak. Mereka dengan cekatan mengambil tebu tanpa ijin dengan mengendap - ngendap di bawah truk yang berhenti di garasi, tentunya setelah melompati pagar besi terlebih dahulu.

Setiap bulan puasa, kegiatan rutin anak – anak Kongsen selain mengaji adalah menunggu buka puasa dengan melihat kereta api dan keluarnya kawanan kelelawar yang bersarang di gudang garam kompleks stasiun. Ribuah kelelawar itu akan menjadi tontonan kembali di pagi harinya setelah usai solat Subuh saat kelelawar tersebut pulang ke sarangnya.

Datangnya sekelompok wisatawan asing yang lebih dikenal dengan ” turis “ setiap tahun ke pabrik juga merupakan hal yang menarik bagi anak – anak Kongsen. Mereka selalu mengambil foto untuk dokumentasi sebuah pabrik tempat nenek moyangnya dahulu bermukim dan bekerja. Turis – turis tersebut adalah keturunan dari para pembesar Belanda yang sebelum kemerdekaan menempati dan mengelola pabrik Panjer.

Kerjabakti membersihkan rumput ilalang di lokasi pabrik sebelah timur yang sangat luas juga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi anak – anak Kongsen. Setiap musim kemarau saat ilalang dan rumput perdu mengering telah dibakar, terlihat jelas dasar – dasar lantai pabrik masa lalu sebagai tempat pembuatan minyak kelapa raksasa. Dibakarnya terlebih dahulu lokasi tersebut untuk mempermudah dan mematikan puluhan ular kobra yang banyak terdapat di area tersebut. Karena jarang dilalui manusia, burung - burung yang indah dan beraneka macam pun banyak bersarang di lokasi tersebut. Kawasan itu layaknya sebuah pulau kecil yang hanya dihuni oleh sekawanan burung – burung dan binatang lainnya. Dahulu di lokasi ini pernah juga ditemukan seonggok tutup Tank ( kendaraan tempur ) milik Belanda.

Panjer memang sebuah desa yang hingga sekarang masih khas dengan kekunoannya, meskipun mungkin dalam sejarah berdirinya Kebumen banyak hal yang tertutup mengenai desa ini dan hanya terekspos sosok Bumidirja dan Jaka Sangkrip. Kurangnya perhatian Pemerintah terhadap sejarah Kebumen, Panjer dan desa – desa lainnya kiranya sangat mempengaruhi pengetahuan dan kecintaan masyarakat Kebumen terhadap tempat lahirnya yang akhirnya melahirkan beberapa kerancuan sejarah, sebagai contoh misal :

Makam Pangeran Bumidirja di Lundong Kutowinangun.
Makam tersebut mengundang tandatanya bagi penulis. Pangeran Bumidirdja adalah nama lain dari Ki Bumi, tetapi mengapa di makam tersebut terdapat dua makam dimana yang satu bertuliskan Pangeran Bumidirdja ( di dalam cungkub ), sedangkan yang satunya lagi bertuliskan Ki Bumi ( di luar cungkub ). Kerancuan yang lain juga terdapat pada makam yang berada di sebelah makam P. Bumidirdja yang bertuliskan P. Mangkubumi II. Hal ini jelas akan mengundang reaksi kritis, sebab Pangeran Mangkubumi adalah gelar dari RM . Sujono ( salah satu putra dari Amangkurat Jawi / RM. Surya Putra dengan garwa selir ) yang setelah menjadi raja ( akibat perjanjian Giyanti tentang pembagian tanah sengketa ) kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana I, sehingga Pangeran Mangkubumi II adalah gelar lain dari Sultan Hamengkubuwana II ( RM. Sundoro ). Adanya penulis Babad Kebumen atau Panjer yang mengatakan bahwa Ki Bumi adalah P. Mangkubumi, bisa dikatakan tidak memahami benar – benar tokoh – tokoh tersebut dan kedudukannya di dalam pemerintahan Mataram pada masa itu. Begitu juga dengan adanya makam Ki Bumi dan P. Bumidirja yang saya sebutkan tadi, dapat disimpulkan bahwa yang bertugas dalam bidang sejarah dan budaya Kabupaten Kebumen kurang jeli dan memperhatikan antara sejarah, dongeng dan fakta yang ada.


Penutup
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya dengan mengenal dan menjaga sebaik mungkin sejarahnya, serta melestarikan budaya warisannya. Meski kebenaran yang hakiki tidak akan pernah bisa dipastikan, menjaga sejarah, kesenian dan budaya adalah wujud dari cinta tanah air dan bangsa. Semoga desa Panjer yang penuh sejarah tersebut segera mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dan pihak – pihak yang terkait lainnya. Begitu juga dengan riwayat Trukahan dan Ki Singa Patra yang nyaris hilang dari babad sejarah Kebumen, semoga bisa dijadikan salah satu pegangan dalam melestarikan sejarah desa Kebumen yang sesungguhnya dalam rangka menghidupkan kembali Kearifan Budaya Lokal. Desa Panjer yang penuh nilai sejarah dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan dengan menjadikan puing – puing Pabrik Sari Nabati menjadi tempat wisata sejarah dan spiritual layaknya Benteng Vander Wijk Gombong itu kiranya akan menambah aset Budaya Kabupaten Kebumen.

Sumber Pustaka :
Sejarah Nasional Indonesia
Babad Kadhiri
Kidung Kejayaan Mataram
Babad Kebumen, R. Soemodidjojo
Sejarah Kebumen dalam Kerangka Sejarah Nasional, Dadiyono Yudoprayitno

Sumber Lisan :
Wawancara dengan beberapa tokoh narasumber

Sumber Spiritual :
Sasmita – sasmita saat tirakat di beberapa makam dan situs


Kebumen, Selasa Paing 17 Agustus 2010
Kado Ulang Tahun untuk Tanah Airku


Sayyid R. Ravie Ananda



Biodata Penulis


Nama : Ravie Ananda, S. Pd.
Alamat : Jalan Garuda 13 Kebumen
Agama : Islam
Tempat dan Tanggal lahir : Desa Panjer, Kebumen 29 Maret 1980
Pendidikan : TK. PMK Sari Nabati Panjer
SDN. I Kebumen
SMPN 1 Kebumen
SMAN 2 Kebumen
Universitas Muhamadiyah Purworejo
Pekerjaan : Wiraswasta



SILSILAH PENULIS


KEKANCINGAN MATARAM SULTANAGUNGAN
Brawijaya Pungkasan
Bondan Gejawan ( Ki Ageng Tarub III )
Ki Ageng Getas Pandawa
Ki Ageng Sela
Ki Ageng Nis
Ki Ageng Pemanahan
Panembahan Senopati
Sultan Agung Hanyakrawati
Sultan Agung Hanyakrakusuma
1. Amangkurat I
2. Amangkurat II Pangeran Puger ( Pakubuwana I ) HAMENGKUBUWANAN
3. Amangkurat Jawi / IV ( RM. Suryaputra ) Amangkurat Jawi / IV ( RM. Suryaputra )
4. KGPH. Kartasura RM. Sandeyo Kyai Nur Iman Mlangi Hamengku Buwana I RM. Sujono
5. RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’I Kyai Guru Luning 1. Hamengku Buwana II RM. Sundoro + Erawati
6. RA. Fatimah ( Nyai Taslim Tirip ) 2. BPA. Dipowiyono
7. RM. Abdurrahman Tirip 3. RA. Nyai Kamaludiningrat (Pengulu Kraton)
8. RA. Roikhanah ( Pengulu R. Rilwan Plumbon ) 4. RA. Nyai Imanadi ( Garwa II )
9. RA. Rughoyah ( R. Makmun ) 5. RA. Nyai Jawahir
10. RA. Honimah ( Sumadi ) 6. R. Badarudin
11. R. Ravie Ananda 7. R. Makmun
8. RA. Honimah ( Sumadi )
9. R. Ravie Ananda


BANI IMANADI ( Pendiri Masjid Agung Kauman Kebumen )
Pangeran Marbut / Syekh Abdurrahman
Pangeran Nurmadin / Syekh Nurudin
KH. Imanadi ( garwa Putrinipun RA. Kamaludiningrat ) KH. Imanadi ( garwa Pringtutul Rawareja )
1. RA. Nyai Jawahir 1. R. Moh. Alwi
2. R. Badarudin 2. R. Ali Awal
3. R. Makmun 3. RA. Nyai Abdul Hanan
4. RA. Honimah ( Sumadi ) 4. R. Pengulu Rilwan ( RA. Roikhanah )
5. R. Ravie Ananda 5. RA. Rughoyah ( R. Makmun )
6. RA. Honimah ( Sumadi )
7. R. Ravie Ananda

BANI ZAENAL ABIDIN BANJURSARI
Syekh Kahfi Awal
Muhtarom
Jawahir Awal
Syekh Yusuf Buluspesantren
Zaenal Abidin Banjursari Zaenal Abidin Banjursari
1. Jawahir ( Nyai Jawahir putri Imanadi ) 1. Zaenal Muharram
2. R. Badarudin ( Nyai Ragil ibni Zaenal Muharram ) 2. Nyai Ragil (R. Badarudin)
3. R. Makmun ( RA. Rughoyah ) 3. R. Makmun (RA. Rughoyah )
4. RA. Honimah ( Sumadi ) 4. RA. Honimah ( Sumadi )
5. R. Ravie Ananda 5. R. Ravie Ananda


BANI SAYYID AHMAD MUHAMMAD ALIM BULUS PURWOREJO
Al Azhamatkhan ( miturut seratan nasab Sunan Kudus )
Basaiban ( miturut Pustaka Bangun anggitanipun Kyai R. Damanhuri, Habib Dahlan Baabud lan Habib Agil Baabud Purworejo )

1. Sayyidatina Fatimah
2. Husein
3. Ali Zainal Abidin
4. Muhammad al - Baqir
5. Ja'far ash - Shadiq
6. Ali al - Uraidhi
7. Muhammad al - Naqib
8. Isa ar - Rummi
9. Ahmad al - Muhajir
10. Ubaidullah
11. Alwi Awwal
12. Muhammad Sahibus Saumiah
13. Alwi ats - Tsani,
14. Ali Khali' Qasam,
15. Muhammad Shahib Mirbath
16. Alwi Ammi al - Faqih
17. Abdul Malik ( Ahmad Khan )
18. Abdullah ( al - Azhamat ) Khan
19. Ahmad Syah Jalal ( Jalaluddin Khan )
20. Syekh Jumadil Kubro, Pondok Dukuh Semarang
21. Maulana Malik Ibrahim
22. Sunan Ampel
23. Syarifah ( garwanipun Sunan Ngudung )
24. Sunan Kudus
25. Nyai Segati ( Pangeran Bayat ) Tegalsari Garung Wonosobo
26. Nyai Bekel Karangkobar Banjarnegara
27. Kyai Dilem Bandok Wonokromo Garung Wonosobo
28. Nyai Dalem Agung Mojotengah Garung Wonosobo
29. R. Martogati Wonokromo Garung Wonosobo
30. R. Ngalim Marsitojoyo Garung Wonosobo
31. R. Singosuto Garung Wonosobo
32. Hadrotussyaikh Ahmad Muhammad Alim Bulus R. Tumenggung Wirondhoho Bruno
33. Sayyidah Nyai Tolabudin Paguan Kaliboto Purworejo 1. Kyai R. Tolabudin
34. Sayyid Taslim Tirip ( RA. Fatimah )2. Sayyid Taslim Tirip ( RA. Fatimah )
35. Sayyid R. Abdurrahman Tirip 3. Sayyid R. Abdurrahman Tirip
36. Sayyidah RA. Roikhanah ( R. Rilwan )4. Sayyidah RA. Roikhanah ( R. Rilwan )
37. Sayyidah RA. Rughoyah ( R. Makmun ) 5. Sayyidah RA. Rughoyah ( R. Makmun )
38. Sayyidah RA. Honimah ( Sumadi ) 6. Sayyidah RA. Honimah ( Sumadi )
39. Sayyid R. Ravie Ananda 7. Sayyid R. Ravie Ananda