Senin, 08 Juni 2009

Antara Sayyid, Syarif, Habib, Alawiyin dan Kyai oleh Ravie Ananda

Sayyid berasal dari bahasa Arab yang berarti Tuan atau junjungan. Kaum Sayyid dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw melalui putrinya Fatimah Az Zahra. Kaum Sayyid adalah keturunan dari Husein ( Cucu Nabi Muhammad Saw ). Sayyid adalah sebutan untuk laki- laki dan Sayyidah untuk sebutan perempuan.

Adapun keturunan yang melalui jalur Hasan ( cucu Nabi Muhammad Saw ) disebut dengan Syarif ( untuk laki - laki ) dan Syarifah ( untuk perempuan).


Kata Sayyid / Syarif dan Sayyidah atau Syarifah digunakan sebagai keterangan saja bukan untuk gelar. Gelar bagi mereka adalah
Habib ( kekasih ) untuk laki- laki dan Habibah untuk perempuan.


Mereka terbagi dalam kabilah -kabilah / keluarga / marga yang biasanya terdapat di akhir nama mereka misal Al Habsy, Al Hadad dan lain – lain. Diantara kabilah - kabilah tersebut banyak yang mempunyai pimpinan secara turun temurun yang bergelar
Munsib. Para Munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarga.
Ada sejumlah keluarga Sayyid yang dianggap suci dan setara dengan wali, sedangkan golongan lain dianggap sebagai golongan Awas ( ahl al Kasyf ).


Tradisi cium tangan oleh orang yang bukan Sayyid / Syarif kepada kaum Sayyid / Syarif sebagai penghormatan disebut dengan
Taqbil.


Gelar habib juga dipakai oleh keturunan Abas bin Abdul Mutallib ( Abbasiyyin ) dan Abi Talib bin Mutallib ( Talbiyyin ).


Allawiyyin adalah sebutan bagi keturunan dari Ahmad bin Isa yang merupakan merupakan keturunan Ali bin Abu Thalib dan Fatimah az-Zahra.

Mereka yang membatasi gelar sayyid hanya untuk keturunan Nabi Muhammad Saw melalui Fatimah az-Zahra, tidak akan memasukkan Allawi/Alavis dari jalur Ali bin Abu Thalib dengan istri yang lain ( Selain Fatimah Az Zahra ) kedalam sayyid.

Jauh sebelum itu, pada abad - abad pertama Hijriyah, julukan Alawiyin ( Alawi ) digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Ali bin Abi Thalib, baik nasab secara keturunan ataupun karena persahabatan akrab. Kemudian sebutan Alawi itu dikhususkan untuk keturunan Hasan dan Husein. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Alawi hanya berlaku bagi keturunan Alwi bin Ubaidullah. Alwi adalah anak pertama dari cucu Ahmad bin Isa.

Kaum Arab yang bukan Sayyid / Syarif disebut Qabili.

Kaum Sayyid yang pertama masuk di Indonesia adalah marga Basyaiban dan Azmathkhan yang hingga kini keturunannya banyak yang sudah berbaur dengan masyarakat jawa bahkan sudah agak sulit dikenali secara Fisik dan nama yang kebanyakan sejak pertama masuk ke Indonesia memang sudah menyesuaikan diri dengan mengganti nama mereka dengan nama Jawa agar mudah diterima dalam dakwahnya serta membuka diri dengan menikahi kaum yang bukan Sayyid ( Pribumi ). Berbeda dengan kaum sayyid yang lain yang kedatangannya jauh sesudah kedua marga tersebut yang masih membatasi hubungan dan perkawinannya hanya dengan kelompoknya saja, sehingga masih mudah dikenali dari bentuk fisiknya sebagai etnis arab dan nama marga yang biasanya disebutkan di belakang namanya seperti Al Habsy, Al Hadad dan lain - lain. Hal ini sesuai dengan penelitian L.W.C Van Den Berg dalam bukunya Le Hadramawt et Les Colonies Arabes dans l’Archipel Indien (1886) mengatakan:”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar diantara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramawt (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (yakni kaum Sayyid Syarif Hadramaut) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”
Dalam buku yang sama hal 192-204, Van Den Berg menulis:”Pada abad XV, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW).

Orang-orang Arab Hadramawt membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab mengikuti jejak nenek moyangnya." Perhatikanlah tulisan Van Den Berg ini yang spesifik menyebut abad XV, yang merupakan abad spesifik kedatangan dan / atau kelahiran sebagian besar Wali Songo di pulau Jawa. Abad XV ini jauh lebih awal dari abad XVIII yang merupakan kedatangan kaum Hadramawt gelombang berikutnya yaitu mereka yang sekarang kita kenal bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga hadramawt lainnya.

Marga Hadramawt yang termasuk sayyid antara lain :
Afiff, Alatas, Alaydrus, Albar, Algadrie, Alhabsyi, AlHamid, AlHadar, AlHadad, AlJufri, Assegaff, Attamimi, AlMuhazir, Baaqil, Baraja (Syekh), Basyaiban, Baridwan, Bawazier, BinSechbubakar, Jamalullail, Maula Dawileh, Maula Heleh /Maula Helah, Shahab, Shihab dll.

Adapun Marga Hadramawt yang termasuk Qabili antara lain : Abud, AbdulAzis, Addibani, Alkatiri, Ba’asyir , Bachrak, Badjubier, Bafadhal, Bahasuan, Basyaib, Baswedan, Haneman,Kawilah, Thalib, bahafdullah dll.

Marga keturunan Hasan antara lain :

Syambar (Syanabirah) : Keturunan Sayyid Syambar bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Bersambung pada Sayyid Qatadah bin Idris bin Mutha’in. Bersambung pada Sayyid Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Kamil bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Tersebar di sekitar Makkah dan Tha’if.

Barakat : Keturunan Barakat bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di sekitar Makkah dan Tha’if. merekapun banyak yang dikenal dengan marga baru, seperti Al-Ghaits, Nasir, Aal-Muflih dll.

Al-Jazan : Keturunan Sayyid Jazan bin Qaytabay bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Tha’if dan sekitarnya.

Al-Harits : Keturunan Sayyid Muhammad Al-Harits bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Mekkah, Tha’if dan sekitarnya.

Hamud : Bersambung pada Hasan Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Makkah dan sekitarnya.

Al-Hazim : Keturunan Sayyid Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Tersebar di Makkah, Jeddah dll. Sebagian mereka dikenal dengan julukan Barakat.

Zaid : Keturunan Sayyid Zaid bin Muhsin bin Husain bin Hasan bin Abu Numai Ats-Tsani. Kekuasaan kota Makkah ada pada keluarga mereka selama lebih dari dua abad sebelum keluarga ‘Aun. Dari mereka banyak yang dikenal dengan julukan lain, seperti marga Yahya, Abdullah, Ghalib, Musa’id dll.

Al-Amir : Keturunan Al-Amir Khalid Quthbuddin bin Muhammad bin Hasyim bin Wahhas bin Muhammad bin Hasyim bin Ghanim. Bersambung pada Sayyid Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun.

Ats-Tsa’labi (Tsa’alibi) : Keturunan Tsa’lab bin Mutha’in. Bersambung pada Sayyid Musa Al-Jun. Kebanyakan mereka tinggal di pesisir pantai Laut Merah di Jeddah.

Al-Ja’fari : Keturunan Sayyid Ja’far bin Ni’matullah Al-Akbar bin Ali bin Dawud bin Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun. Tersebar di Yaman dll.

Al-Jailani : Keturunan Sayyid Asy-Syehk Abdulqadir Al-Jailani. Bersambung pada Sayyid Musa Al-Jun. Tersebar di Iraq, Siria, Maroko dll. Di Maroko mereka lebih dikenal dengan julukan Al-Kailani dan Al-Qadiri.

Az-Za’bi : Keturunan Sayyid Abdul Aziz Az-Za’bi bin Abudulqadir Al-Jailani. Tersebar di Palestina, Jordan, Siria, Beirut dll

Al-Khawaji : Keturunan Sayyid Ali Al-Khawaji bin Sulaiman bin Ghanim. Bersambung pada Sayyid Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun.

Asy-Syammakhi : Keturunan Sayyid Syammakh bin Yahya bin Dawud bin Abi Ath-Thayyib. Bersambung pada Sayyid Sulaiman bin Abdullah Ar-Ridha bin Musa Al-Jun bin Abdullah Al-Kamil bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Adz-Dzarwi : Keturunan Sayyid Dzarwah bin Hasan bin Yahya bin Dawud Abu Ath-Thayyib.

Al-Anbari : Bersambung pada Adz-Dzarwi.

Thayyib : Bersambung pada Adz-Dzarwi.

Al-Musaawi : Bersambung pada Adz-Dzarwi.

Al-Jauhari (Jawahirah) : Keturunan Asy-Syarif Syaiban bin Yahya bin Dawud Abu Ath-Thayyib.

Al-Idrisi Al-Maghribi : Keturunan Sayyid Idris bin yang bersambung padan Sayyidina Muhammad bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Leluhur mereka adalah pendiri Kerajaan Maroko, kerajaan ini berjaya sampai kini dan secara turun temurun dikuasai oleh keluarga Al-Idrisi atau Adarisah.

Al-Idrisi Al-Ifriqi : Keturunan Sayyid Idris bin Abdullah bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Abi Thalib. Tersebar di Afrika Utara.

Al-Maliki Al-Hasani : Bersambung pada Al-Idrisi.

Al-Masyhur Al-Hasani : Marga ini sebenarnya adalah “Bin Masyhur”, namun, pada masa kolonial Belanda, orang-orang Belanda menyebut “Al-Masyhur” untuk memukul rata marga-marga Arab dengan awalan “al”

Marga keturunan Al-Husain antara lain :

Ar-Rifa’i : Keturunan Sayyid Hasan Rifa’ah bin Ali Al-Mahdi bin Al-Qasim bin Husain bin Ahmad bin Musa bin Abi Sabhah bin Ibrahim Al-Murtadha Al-Ashghar bin Musa Al-Kazhim bin Ja’far Ash-Shadiq. Mereka tersebar di Bashrah, Kuwait, Palestina, Jordan dan lain-lain.

Al-Kayali : Bersambung pada Ar-Rifa’i.

Ash-Shayyadi : Bersambung pada Ar-Rifa’i.

An-Naqib : Bersambung pada Ar-Rifa’i.

Ar-Rawi : Keturunan Sayyid Yahya bin Hasun bersambung pada Ar-Rifa’i. Julukan Ar-Rawi berasal dari kota Rawah yang terletak di wilayah Anbar, Iraq. Tersebar di berbagai tempat di Iraq dan Siria, merekapun banyak yang dikenal dengan marga baru, seperti Al-Ubaid, Sawahik dll.

An-Na’im : Bersambung pada Ar-Rifa’i.

Ar-Rajih : Keturunan Sayyid Rajih bin Abi Numai Al-Awwal. Bersambung Al-Imam Musa Al-Kazhim. Tersebar di Hijaz, termasuk Tha’if dan sebagainya.

Al-Alawi (Ba’alawi) : Keturunan Sayyid Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Abi Thalib. Tersesebar di hampir seluruh negeri Islam, termasuk Indonesia berpusat di Hadhramaut-Yaman. Lebih dari tiga ratus marga bersambung pada Sayyid Alawi ini, dan masing-masing bersambung melalui Assayyia Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qisam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath memiliki dua putra, Sayyid Ali dan Sayyid Alawi. Sayyid Ali mempunyai satu putra yaitu Muhammad Al-Faqih, dan beliau banyak memiliki keturunan. Sedangkan Sayyid Alawi dikenal dengan sebutan Ammil-faqih dan beliau juga memiliki banyak keturunan.

Marga keturunan Ammil-faqih antara lain :

Diantara mereka adalah keluarga Azmatkhan, Al-Haddad, Bin Semith, Ba’abud Maghfun, Bahasan Thawil, Babathinah, Bin Thahir, Bin Hasyim, Bashurrah, Ali Lala, ‘Aidid, Bafagih, Basakutah, Bafaraj, ‘Auhaj, An-Nadhir dan Qullatain.

Keturunan Ammil-faqih tidak begitu banyak memiliki pecahan marga sebagaimana keturunan Al-faqih, namun bukan berarti keturunan Ammil-faqih lebih sedikit dari keturunan Al-Faqih, karena banyak dari keturunan Ammil-faqih yang tidak terdaftar, yaitu keturunan Abdullah bin Ammil-faqih yang dulu hijrah ke Filipina dan berbaur dengan pribumi untuk berda’wah, juga keluarga Azmatkhan yang tersebar di India, Indonesia dan sebagainya. Di Indonesia, keluarga dan keturunan Azmatkhan lebih banyak dari Ba’alawi yang lain, hanya saja mereka sudah njawani, mereka sudah seperti orang Jawa biasa.

Pada saat Sayyid Husain Jamaluddin (kakek kebanyakan keluarga Azmatkhan Indonesia) meninggalkan India, beliau pergi bersama tiga orang saudara beliau, yaitu Sayyyid Qamaruddin, Sayyid Majiduddin dan Sayyid Tsana’uddin, mereka memasuki daratan Cina dan negeri-negeri lain di Asia. Nah, bisa jadi mereka juga memeliki banyak keturunan di Cina dan lainnya, sebagaimana Sayyid Husain Jamaluddin di Indonesia. Kemudian ditemukan pula saudara Sayyid Husain Jamaluddin yang berna Sayyid Sulaiman Al-Baghdadi, beliau menjadi Sultan di Tailand dan sebagian keturunan beliau hijrah ke Indonesia.

Marga Keturunan Al-Faqih antar lain :

Diantara mereka adalah keluarga Mauladawilah, As-Saqqaf atau Assegaf, Al-Idrus atau Alaydrus, Bin Syehk Abibakar (biasa disingkat BSA), Al-Atthas atau Alatas, Bin-syihab atau Shahab, Al-Habsyi, Asy-Syathiri, Maulakhelah, Baharun, Bafagih, Bilfagih, Ba’agil, Bin’agil, Al-Jufri, Al-Bahar, Bin Jindan, Al-Munawwar, Al-Hamid, Hamid, Al-Bar atau Albar, Al-Kaf, Al-Muhdhar, Al-Musawa, Al-Masyhur, Al-Muqaibil, Bin Hadun, Al-Haddar, Al-Hinduan, Bin Yahya, Mudhar, Al-Baiti, Al-Qadri, Basyaiban, Basyumailah, Bin Syaikhan, Ash-Shafi, Ba’umar, Al-Ghamri, Bafaraj, Baraqba, Al-Musawa, Fad’aq, Barum, Bajahdab, Jamalullail, Assirri, Bin Sahl, Hamdun, Kharid atau Khirid, Khunaiman, Khamur dan masih banyak lagi yang lainnya.

Keluarga Al-Alawi atau Ba’alawi berpusat di Hadhramaut, Yaman, kemudian berpencar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, mereka dikenal dengan sebutan “Habib”, kecuali keluarga Azmatkhan” dan Basyaiban” yang telah lama berbaur dengan masyarakat Jawa, maka merekapun -yang menjadi tokoh agama- lebih dikenal dengan julukan semisal Kiai.

Gelar sebutan para Sayyid/ Syarif berdasarkan periode abad
Rabithah Alawiyah :: dalam artikel onlinenya, menyatakan bahwa menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya
Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah :

1. IMAM (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum khariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.

2. SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim.

3. HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina. Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa, juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.

4. SAYYID (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar. Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.

Kebanyakan dari Masyarakat umum dan bahkan kaum Sayyid / Syarif di Indonesia menganggap keturunan yang sah apabila para sayyid / syarif tersebut mempunyai nasab yang tak terputus dari jalur laki - laki, sehingga bila para Syayyid san Syarif tersebut telah memiliki jalur perempuan kemudian dianggapnya tidak sah. Hal ini adalah budaya Arab Jahiliyah yang dapat dibuktikan secara otentik dengan melihat turunnya surat al Quran yang sebelumnya didasarkan pada kejadian yang dialami Nabi Muhammad Saw yakni ketika Al-Qasim, putra Rasulullah, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliu, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.

Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu adalah bahwa Allah memberi banyak keturunan pada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam melalui putri beliau, Fatimah Az-Zahra’.

Sedangkan Abu lahab dan ‘Ash bin Wa’il dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar bahwa justru merekalah yang tidak akan memiliki keturunan, yaitu ayat..

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأَبْتَرُ

Sesungguhnya orang yang membencimu itulah yang tidak sempurna (putus keturunan).”

Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benar-benar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh masyarakat, maupun yang tidak.

Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan “Sunan” itu bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan “Sunan” dari perempuan, maka pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris perempuan?”. Islam dan “budaya berpendidikan” telah sepakat untuk membenarkan “status keturunan” dari garis perempuan. Maka bila ada orang yang membeda-bedakan geris laki-laki dan perempuan maka berarti orang itu bukan penganut paham Islam dan bukan pula penganut “budaya berpendidikan.” Dan lebih “tidak berpendidikan” lagi orang yang mengatakan bahwa hubungan nasab keturunan anak perempuan terputus dari ayah si perempuan.

Semoga Allah Swt selalu merahmati kita semua fil Jasad, wal batin ngindarRUH amin

Wassalam...

Ravie Ananda




15 Komentar:

Pada 10 Maret 2013 18.18 , Blogger Cakap Bisa mengatakan...

Asalamualaikum.. Bagus Info Tuan. Saya Sharif Afiq marga bin yahya dari malaysia.

 
Pada 21 September 2014 03.59 , Blogger Chusain Almaghrabi mengatakan...

Ravy ... i

nfo not harus by dikoreksi..

 
Pada 21 September 2014 04.01 , Blogger Chusain Almaghrabi mengatakan...

Ravy ... i

nfo not harus by dikoreksi..

 
Pada 21 September 2014 04.03 , Blogger Chusain Almaghrabi mengatakan...

Ravy ... info not perlu do koreksi

 
Pada 25 Desember 2014 15.44 , Blogger Helmy gasim shebubakar mengatakan...

Sesungguhnya benarlah bahwahsanya Sayyid Husin Jamaludin Akbar al Azamat Khan menurunkan banyak raja raja dan sultan di Nusantara yang bertahan sampai sekarang termasuk Sultan sultan dari Kerajan Mataram Islam yang ada di jogja dan Solo sekarang.

 
Pada 11 Agustus 2015 11.02 , Blogger Azmy Kuddah mengatakan...

Hmmmm... Bagi aku sih tulisan ini tidaklah lebih hanya penjelasan dari orang yg bukan ahlinya tapi sok ahli dalam hal nasab.. Alias SOK TAHU dan SOK TEMPE.. jadinya tahu tempe.. Hehehe.. Wallahu alam.. Belajar lagi aja yah .. Jangan asal nulis.. Pissssss... 😜✌️

 
Pada 3 Januari 2016 12.14 , Blogger khozein zein mengatakan...

Apakah marga ba'bud termasuk habaaib yaa

 
Pada 11 Januari 2016 21.37 , Blogger Herman Syah mengatakan...

Makasih info nya

 
Pada 23 Januari 2016 12.51 , Blogger myudi iswahyudi mengatakan...

Anda tidak jeli dalam mempelajari rujukan , bahwa garis nasab Rasullah hanya pada Sayyidah Fatimah RA. Dan tidak pada wanita setelahnya walaupun ia memiliki darah dari Imam Ali Kr. Setelah Sayyidah Fatimah RA . melahirkan Imam Husain dan Hasan maka tidak ada kekhususan lain untuk nasab dan kembali pada kodrat Nasab bergaris pria .dan Ilmu pendidikan yang anda katakan rujukan dari mana ? Sains modern menyatakan Keturunan adalah gen dari ayah .

 
Pada 15 April 2016 07.13 , Blogger Tn Aji Rahmat Hidayat mengatakan...

Saya mau tau siapa yang pertama kali orang arab yang datang ke kota kandangan-kalimantan selatan . Boleh ditambah lagi wal ?

 
Pada 24 April 2016 15.27 , Blogger muhamad farhan mengatakan...

Klo bin on keturunan alkhatiri bkan

 
Pada 25 Mei 2016 16.09 , Blogger Elfizon Anwar mengatakan...




ASTAGHFIRULLAH, PERPECAHAN KAUM MUSLIMIN DIABADIKAN DENGAN SIMBOL PERPECAHAN KEDUA ANAKNYA ALI BIN ABI THALIB???

BUANGLAH SIMBOL KETURUNAMU DAN SEGERA BERTAUBAT NASHUHALAH KEPADA ALLAH!!!

Bagian kedua dari dua tulisan


Ketua Umum Rabithah Alawiyah Sayyid Zen Umar bin Smith menyatakan bahwa fenomena itu perlu diluruskan.



Menurutnya, habib secara bahasa berarti keturunan Rasulullah yang dicintai. Adapun, habaib adalah kata jamak dari habib. Jadi tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.



Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib. Zen menjelaskan, di Indonesia para keturunan Rasullullah banyak yang berasal dari Husein. Maka banyak yang disebut sayyid.



Sementara keturunan-keturunan Hasan kebanyakan menjadi raja atau presiden seperti di Maroko, Jordania, dan kawasan Timur Tengah. Pertama kali ulama-ulama dari Yaman atau Hadramaut masuk ke Indonesia di beberapa daerah. Karena adanya akulturasi budaya, sebutan sayyid di Aceh berubah menjadi Said, di Sumatra Barat menjadi Sidi dan lain sebagainya. *)




Ketiga, wujud perpecahan kaum Muslim menjadi dua kelompok besar dari satu rumpun tersebut, 'konyol'-nya diabadikan dalam wujud identitas masing-masing kelompok yang diwariskan turun-menurun dan harus digunakan atau dipakai ke dalam nama orang-perorang sebagai simbol abadinya. Misalnya, yang melalui jalur keturunan Husein bin Ali bin Abi Thalib gelar identitas abadinya SAYYID. Sementara orang yang ngaku dari keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib identitas kelompoknya adalah menggunakan ASYSYARIF.

Anehnya Orang-orang Yang Mengaku Keturunan Ahlul Bait atau Keturunan Nabi atau Keturunan Rasul apa lagi menggunakan merek Keturunan RASUL ALLAH selain sudah menggunakan istilah yang SALAH KAPRAH tidak pula merasa bersalah dan tidak punya beban rasa tanggungjawab pada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW sehingga MENGABADIKAN PERPECAHAN KAUM MUSLIM itu dengan SIMBOL IDENTITAS KETURUNANNYA.



*) http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat


http://alhabaib.blogspot.co.id/2011/05/manaqib-al-maghfurlah-al-walid-al-habib.html


https://ikitasya.blogspot.co.id/2009/08/guru-mursyid.html?showComment=1463960384585#c2991987336691473703

 
Pada 25 Mei 2016 16.10 , Blogger Elfizon Anwar mengatakan...

ASTAGHFIRULLAH, PERPECAHAN KAUM MUSLIMIN DIABADIKAN DENGAN SIMBOL PERPECAHAN KEDUA ANAKNYA ALI BIN ABI THALIB???

BUANGLAH SIMBOL KETURUNAMU DAN SEGERA BERTAUBAT NASHUHALAH KEPADA ALLAH!!!

Bagian kesatu dari dua tulisan

Orang yang ngaku-ngaku dinasti keturunan nabikah, ahlul baitkah atau keturunan rasulkah. segera bertobat nashuhalah kepada Allah Ta’ala karena tanpa sadar, identitas abadi yang disandang turun-temurun dari nenek moyangnya yang dicantumkan sebelum nama para orang keturunan itu, adalah lambang atau simbol suatu perpecahan dari kaum Muslim. Tinggalkan simbol-simbol yang dipakai pada namanya karena itu MELAMBANGKAN KEGEMBIRAAN atas PERPECAHAN keturunan Khalifah Ali bin Abi Thalin kaum MUSLIM se dunia:


Astaghfirullah identitas itu terus dipakai bahkan wajib dipakai oleh anak cucunya:



Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan. ﴾SQS. Al An'am, 6:21﴿



Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta. ﴾SQS. At Taubah, 9:77﴿



Pertama, istilah 'keturunan' ahlul bait atau 'keturunan' nabi atau 'keturunan' rasul terlebih lagi menggunakan istilah KETURUNAN RASULULLAH (RASUL ALLAH) tidaklah dikenal dalam Al Quran. Karena Al Quran 'hanya' menggunakan istilah yang tegas dan jelas yakni menggunakan nama sang tokohnya, jadi yang ada misal istilah keturunan Nuh, keturunan Ibrahim, keturunan Ishal, keturunan Israel (a.l. QS. 19:58). Jadi Al Quran tidak mengenal penggunaan istilah keturunan ahlul bait atau keturunan nabi atau keturunan rasul.



Kemudian ada orang-orang yang ngaku-ngaku adalah keturunan ahlul bait atau keturunan nabi apa lagi ngaku keturunan Rasul Allah kalau ditanyakan ahlul bait yang mana, nabi yang mana dan Rasul Allah yang mana? contoh, malaikat pun Rasul Allah. Berarti penggunaan istilah ini merupakan hal 'PELECEHAN' akan institusi keahlulbaitan, kenabian dan kerasulan apa lagi kalau menambah kata 'ALLAH' seperti terhadap istilah RASUL ALLAH.



Kedua, kelompok yang ngaku keturunan ahlul bait atau keturunan nabi dan keturunan rasul malah mereka inilah yang jadi sumber awal adanya perpecahan kaum Muslim pasca kekhalifahan Ali bin Abi Thalibnya sendiri. Mereka pula yang membagi menjadi dua kelompok besar kaum Muslim saat itu yakni kelompok pendukung Sayyidina Hesein bin Ali bin Abi Thalib dan kelompok lainnya dari jalur Sayyidina Hasan bin Abi Thalibnya.


http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/11/nd9vk0-salah-kaprah-sebutan-habib-di-masyarakat


 
Pada 6 Juni 2016 00.18 , Blogger Elfizon Anwar mengatakan...


TIPISNYA HAKIKAT ‘PERBEDAAN’ DENGAN ‘PERPECAHAN’!!!

Ada motto yang ditulis sbb.:
PERBEDAAN itu direstui agama. Yang tidak direstui adalah PERPECAHAN.
Setiap Anda berusaha untuk menghapus perbedaan, yang lahir adalah TEROR.

motto di atas terbaca dalam akunProf ini: *)

Lalu upaya pengidentitas suatu simbol seperti ‘HABIB’ yang hakikatnya terkandung makna 'PERPECAHAN' apakah juga di-RESTUI agama, ya seperti ini?:

GELAR HABIB: APA BENAR UNTUK BELA PERSATUAN DAN KESATUAN UMAT MUSLIM??? BAHKAN SEBALIKNYA LAMBANG PERPECAHAN KETURUNAN ALI BIN ABI THALIB SERTA KAUM MUSLIM

RASANYA MEMANG SUDAH WAKTUNYA GELAR IDENTITAS INI TIDAK DIWARISKAN LAGI PADA ANAK CUCUNYA

Habib adalah suatu lambang pengukuhan dan peng-'abadi'-an PERPECAHAN suatu keluarga Ali bin Abi Thalib yakni Hasan bin Ali bin Abi Thalib dengan Husein bin Ali Abi Thalib walaupun ketiga tokoh ini sendiri tidak mengetahui adanyai identitas HABIB atau HABAIB. Indentitas habib atau habaib ini lalu diabadikan oleh dinasti keluarga ALAWIYIN turun-menurun pada setiap nama dari ANAK CUCUNYA. Astaghfirullah.

Di sisi lain, Al Quran sama sekali tidak mengenal adanya istilah KETURUNAN AHLUL BAIT atau KETURUNAN RASUL atau KETURUNAN NABI ya termasuk juga yang dianggap orang sebagai ‘KETURUNAN NABI’ MUHAMMAD SAW.

Di dalam Al Quran hanya mengenal istilah seperti keturunan Nuh, keturunan Ibrahim, keturunan Israel dsb. (a.l. QS. 19:58) Lalu, apakah ada ‘KETURUNAN MUHAMMAD’ (istilah seperti termuat dalam Al Quran) dan ternyata istilah KETURUNAN MUHAMMAD sama sekali juga tidak ada termuat dalam Al Quran.

Benarlah Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري
“Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, dengan pengertian habib di atas maka HABIB bukan wali Allah bahkan tidak layak menyandang sbg wali Allah karena selain itu yang berhak menentukan seseorang sbg Wali Allah ya hanya Allah SWT bukan manusia. Sama halnya kita menetapkan seseorang sbg wali guru, ya yang berhak menentukannya ya para guru dan kepala sekolah bukan orangtua murid apalagi sekedar murid.

http://www.muhsinlabib.com/tulisan-luar/mencari-habib-sejati
http://al4nborn3o.blogspot.co.id/2011/03/asal-mula-gelar-imam-syekh-habib-dan.html
*) http://nadirsyahhosen.net/
https://konsultasisyariah.com/10530-habib-indonesia.html#comment-16640

 
Pada 9 Oktober 2016 06.21 , Blogger Dodik Prasetiawan mengatakan...

Iya mas

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda