Kamis, 08 Januari 2009

Setapak menuju sufi Al Quran menurut Al Quran oleh sayyid Muh. Raffie Ananda

Al Quran menurut Al Quran (setapak menuju Sufi, indahnya Insan Kamil)
oleh Ravie Ananda

Bagaimanakah sebenarnya proses turunnya Al Quran dari Allah Yang Maha Kuasa kepada Nabi Muhammad Saw menurut Al Quran itu sendiri?

Al Haqqah
38. Aku bersumpah dengan ( mahluk ) yang kamu lihat,
39. dan yang tidak kamu lihat,
40. Bahwa sesungguhnya ( Quran ) adalah perkataan rosul yang mulia
41. dan bukanlah ia perkataan penyair, tetapi sedikit diantara kamu yang beriman.
42. dan bukan pula perkataan tukang tenung, tetapi sedikit diantara kamu yang menerima peringatan.
43. Ia turun daripada Tuhan semesta alam.

Ayat – ayat ini menerangkan bahwa Quran itu adalah perkataan Rosul yang Mulia.

Al Muzzammil
1.Hai orang yang berselimut ( Muhammad )
2. Sembahyanglah pada malam hari, kecuali sedikit ( daripadanya ),
3. ( yaitu ) separuh malam atau kurangkanlah sedikit daripadanya,
4. Atau lebih daripadanya dan bacalah Quran dengan perlahan – lahan,
5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan pada engkau perkataan yang hebat ( Quran )

Ayat – ayat ini menerangkan bahwa nabi Muhammad diperintah untuk sembahyang pada malam hari dan dengan khusuk menghayatinya, karena dengan demikian Tuhan akan menurunkan Perkataan yang hebat ( Quran ) pada Beliau.

Al Qiyamah
16. Janganlah engkau ( Muhammad ) menggerakkan lidah engkau dengan Quran supaya engkau bersegera membacanya ( ketika dibacakan Jibril kepada engkau)
17. Sesungguhnya Kami akan menghimpunkannya ( dalam dadamu ) dan ( menetapkan ) bacaannya ( dilidahmu )
18. Maka apabila Kami bacakan dia ( dengan perantara Jibril ) maka ikutilah bacaannya.
19. kemudian Kami menerangkannya sehingga engkau mengerti.

Ayat – ayat ini menjelaskan bahwa Al Quran diturunkan bukan dengan ayat tulisan yang secara harfiah berbentuk huruf dan dapat di baca ( banyak kisah – kisah yang menerangkan bahwa Quran turun di batu dll ),melainkan perintah membaca Al Quran itu bermakna Kias yang artinya pemahaman dan pencerahan Ruhani Nabi Muhammad sehingga terbukalah Hijab Alam Malakutnya yang kemudian dengan rahmat Allah Swt, Beliau bisa merangkumnya dalam bahasa yang bisa dipahami oleh manusia.bukan seperti kisah –kisah yang mengatakan bahwa nabi tidak bisa membaca tulisan / huruf. Ini menjelaskan bahwa memang Al Quran turun bukan dalam bentuk Tulisan atau huruf yang bisa dibaca tetapi Nabi tidak bisa membaca / buta huruf, melainkan Al Quran adalah Firman berupa hikmah sehingga untuk membaca dan mengumpulkan menjadi sesuatu kalimat yang bisa dipahami oleh manusia sangat sukar, maka pada awal turunnya Al Quran, Nabi berkali – kali mengatakan bahwa ia tidak bisa membaca dan Jibril Menuntunnya. Ini maksudnya bahwa Nabi Mengalami Puncak Spiritual tertinggi pada pertama kali yaitu terbuka hijab alam malakutnya dan Beliau tidak bisa menterjemahkan Rahmat berupa hikmah Ketuhanan /Ketauhidan ( Al Quran ) itu kedalam bahasa manusia Beliau karena Beliau memang manusia. Hingga Akhirnya Jibril / kesadaran Malakutnya menuntunnya untuk merangkainya dalam ayat – ayat atau kalimat yang mudah dipahami oleh manusia. Dan hasilnya adalah Ayat – Ayat Al Quran yang ada sekarang ini. Di mana ayat – ayat tersebut setelah diucapkan Beliau Nabi kemudian dituliskan oleh para sahabatnya dalam lempeng – lempeng batu, kulit binatang, tulang, pelepah korma dll.

Assyu’ araak
192. Sesungguhnya Quran diturunkan oleh Tuhan Semesta Alam,
193. Diturunkan oleh Ruh suci ( Jibril ),
194. Kedalam hati Engkau ( ya Muhammad )supaya engkau memberi peringatan,
195. Dengan bahasa Arab yang terang,

Ayat ini semakin memperjelas bagaimana Al Quran itu sebenarnya diturunkan dan memang bukanlah turun dalam bentuk huruf atau tulisan yang kemudian dibaca oleh nabi.
Jibril juga bermakna hakikat bahwa ia adalah kesadaran Ruh Muhammad yang tertinggi setelah Nabi terbuka hijab alam Malakutnya.

Al Infithaar
19. Sesungguhnya Quran perkataan pesuruh yang Mulia ( Jibril )

Al Baqarah
97. katakanlah barang siapa menjadi musuh bagi Jibril, maka sesungguhnya Jibril itu menurunkan Quran ke dalam hati engkau ( Ya Muhammad ) dengan izin Allah serta membenarkan ( kitab ) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang – orang yang beriman.

Ayat ini sangat jelas mengatakan bahwa Quran memang turun melalui Jibril kedalam hati Muhammad yang tentunya tidak bisa dibaca dengan mata panca indriya nabi, melainkan harus dibaca dengan Mata Ruhani Beliau, sebab tidak turun dalam bentuk tulisan.
Adapun Jibril sebagai malaikat pembawa wahyu Al Quran untuk nabi Muhammad Saw, diterangkan oleh Al Quran sebagai berikut.

An Najm
1. Demi bintang bila ia telah terbenam,
2. Tiadalah sesat temanmu ( Muhammad )dan tiada pula salah ( kepercayaannya ),
3. Tiadalah ia berbicara menurut hawa nafsunya,
4. Ia ( Quran ) tidak lain hanya wahyu yang diwahyukan kepadanya,
5. Yang mengajarkan ialah yang sangat kuat ( Jibril ),
6. Yang mempunyai akal yang benar, lalu ia berdiri ( seperti rupa aslinya ),
7. Sedangkan dia di ufuk yang tertinggi
8. Kemudian ia hampir, lalu bertambah hampir ( kepada nabi )
9. Maka adalah ( jaraknya dari nabi )sekedar dua buah panah atau lebih ( daripada itu )
10. Kemudian ia mewahyukan kepada hambaNya ( Muhammad ) apa – apa yang diwahyukannya,
11. Tiadalah hatinya mendustakan ( mengingkari ) apa – apa yang dilihat ( matanya ),
12. Adakah kamu membantahnya tentang apa –apa yang dilihatnya,
13. Sesungguhnya dia telah melihatnya ( malaikat itu ) pada kali yang lain,
14. ( yaitu ) di sisi Sidratul Muntaha,
15. Di dekatnya surga tempat diam ( orang – orang yang taqwa ),
16. Ketika sidrah itu tertutup oleh apa – apa yang menutupinya,
17. Tiadalah miring ( salah ) pemandangan ( Muhammad ) dan tidak pula melampauinya
18. Sesungguhnya dia telah melihat beberapa ayat Tuhannya ( Tanda Kekuasaan Nya ) yang terbesar.

Surat ini menerangkan bahwa nabi Muhammad bertemu Jibril dalam wujud aslinya hanya beberapa kali yakni di langit / ufuk tertinggi dan dalam jarak yang sangat dekat, selain itu nabi juga melihat Jibril di sisi sidratul Muntaha . Kejadian ini jelas mengacu kepada kisah Isra’ Mi’raj nabi, sekaligus menjelaskan tentang berbagai kisah isra’ Mi’raj yang terdapat di beberapa kitab karya manusia yang kadang menimbulkan masalah – masalah khilafiyah. Berdasarkan Quran surat ini, jelas disebutkan bahwa nabi tidak sampai ke sidratul Muntaha, beliau hanya sampai di sisi Sidratul Muntaha,dan sidrah itu tetap tertutup oleh apa – apa yang menutupinya, dan Nabi tidaklah salah pemandangannya dan tidak pula melampauinya. Tentang proses nabi melakukan tawar - menawar secara langsung dengan Allah mengenai perintah sholat sampai pada jumlah 5 rokaat berdasarkan ayat ini dan juga dalam Al Quran seluruhnya juga tidak pernah disebutkan. Bahkan dalam ayat lain disebutkan

( Asy Syuuraa 51 )
Tiadalah bagi manusia, bahwa Allah bercakap-cakap dengan dia, kecuali dengan wahyu atau dari balik dinding, atau Dia utus seorang utusan ( malaikat ) lalu utusan itu mewahyukan dengan izinNya apa- apa yang
dikehendakiNya. Sungguh Dia Maha Tinggi Lagi Maha Bijaksana.

52. Demikianlah Kami wahyukan kepada engkau suatu Ruh ( Quran yang mengidupkan hati ) dari perintah Kami. Engkau belum tahu, apakah kitab dan apakah iman? Tapi Kami jadikan dia ( Quran ) jadi Nur ( cahaya penerang ). Kami tunjuki dengan dia, siapa yang Kami kehendaki diantara hamba- hamba Kami. Sesungguhnya engkau menunjuki ke jalan yang lurus.


Hijab di sini jelas bermakna kias, bukan dalam arti harfiah sebagai sebuah dinding atau kain atau satir atau sejenisnya, karena kita tahu sifat Allah Swt yang Maha Suci, tak akan terjangkau oleh mahluknya dan tak mungkin terjangkau oleh alat indra apapun yang dipunyai oleh mahluknya. Bagaimanapun Allah Swt Maha Suci dan seorang Nabi Mulia Muhammad Saw adalah mahluk yang paling terpilih lagi terpuji diantara semua mahluk Allah, beliau adalah sumber adab yang paling mulia, tidak mungkin punya keberanian membantah Penciptanya yang menghidupkan lagi mewafatkannya. Maka jika kita jeli dan cermat untuk terus membaca ayat – ayat Al Quran sebagai kitab yang wajib kita imani, karena itu berasal dari Allah Swt, kiranya kita akan terketuk hati untuk lebih mengimaninya dan memurnikan ajaran – ajarannya yang suci , yang terbebas dari perdebatan atau perselisihan ( apabila ada perselisihan itu membuktikan bahwa kitab atau ayat – ayat tersebut bukan berasal dari Allah melainkan karya manusia ) , rasional dan berlaku sepanjang zaman serta bisa dibuktikan dan diuji kebenarannya baik secara teori, metafisik, maupun prakteknya dalam segala segi kehidupan. Itu semua Bukti bahwa Penciptanya Maha Suci dan Maha mengetahui segalanya, mustahil mempunyai kesalahan. Subhanalloh…semoga Allah selalu membimbing kita semua dalam rahmatNya yang tak pernah terputus, dan semoga pula Allah selalu memberikan kita hidayah berupa ilmu, pemahaman dan juga hikmah untuk selalu dalam tauhidNya. Amin.. Maha Suci Engkau ya… Allah ya Tuhanku.. ampunilah kami, dan wafatkanlah kami serta masukkanlah kami bersama Nabi Muhammad dan orang – orang terdahulu yang telah Engkau Sucikan. Amin
Wassalam
Ravie Ananda



0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda